![]() |
| (Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com) |
Oleh: Linda
Ummu Karim
Masih segar
di ingatan,
beberapa waktu lalu dunia jagad maya sempat dihebohkan dengan adanya kerajaan baru yang berdiri di tengah-tengah bangsa kita. Hal ini bisa saja muncul dikarenakan tingkat frustasi
sosial dan perekonomian rakyat yang semakin sulit. Mereka bingung mencari
jawaban dan solusi atas carut marutnya negeri ini, seakan kemunculan kerajaan-kerajaan
ini merupakan angin segar untuk mereka. Bukan hanya kerajaan Kraton Agung Sejagat yang baru-baru ini muncul,
masih ada kerajaan lain dibelahan bumi Indonesia lain yang juga bermunculan, misalnya Sunda Empire,
Kerajaan Ubur-ubur, Gafatar, dan lain-lain.
Kemunculan Keraton
Agung Sejagat beberapa waktu silam menghebohkan masyarakat. Dua orang mengklaim
diri mereka sebagai pimpinan kerajaan. Mereka adalah Toto Santoso yang menyebut
dirinya Sinuhun dan Fanni Aminadia sebagai ratunya. Polisi akhirnya menguak
motif penipuan di balik beragam aktivitas Keraton Agung Sejagat
tersebut, dan menetapkan Fanni dan Toto sebagai tersangka.
Banyak kelompok kerajaan dan organisasi yang pernah muncul di Indonesia dan
menggegerkan masyarakat. Seperti Kerajaan
Ubur-ubur yang muncul di Kota Serang, Banten pada 2018 lalu. Kerajaan ini didirikan
oleh sepasang suami istri berinisial AS dan RC. Pasangan tersebut mengaku
mendapat wangsit untuk mendirikan kerajaan dan membuka kunci kekayaan dunia.
"Jadi memang kalau kita lihat dari hasil pemeriksaannya, apa yang dilakukan oleh yang
bersangkutan, dia didatangi oleh gaib ditunjuk oleh pembuka pintu kekayaan
dunia," ungkap Kapolresta Serang AKBP Komarudin seperti dilansir dari
Tribun Jakarta, Rabu (15/8/2018). Untuk membuka pintu kekayaan, mereka harus
melakukan ritual ala kerajaan ubur-ubur
Juga seperti yang terjadi sekitar
2016 lalu, beberapa orang dikabarkan hilang secara serentak. Orang-orang yang
diketahui tergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), memutuskan
meninggalkan kampung dan eksodus ke Kalimantan. Menurut keterangan Kasubdit I
Keamanan Negara Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri AKBP Satria Adhy
Permana, para pengikut Gafatar berangkat dari rasa kebingungan. Kebingungan
tersebut lalu dimanfaatkan oleh para pengurus dengan cara
melakukan pendampingan terus-menerus
kepada mereka. "Lalu, mereka wajib
mengucapkan syahadat dengan mengakui Ahmad Musaddeq sebagai nabi menurut versi
Millah Abraham. Bikin syahadat sendiri," kata Satria.
Kelompok
itu juga memiliki buku bacaan wajib yang harus dibaca oleh setiap pengikutnya.
Ada pula kaset CD deklarasi negara di daerah, akta aqiqah, akta pengorbanan
hingga Tabloid Gafatar. "Buku-bukunya
kemudian menjadi kewajiban untuk dibaca setiap malam, tengah malam pukul 02.00
WIB sampai 03.00 WIB, Bangun Aktivitas Malam (BAM)," ujarnya. MUI
mengeluarkan fatwa sesat bagi organisasi tersebut. Gafatar dinilai mencampuradukkan
atau sinkretisme tiga agama, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Organisasi
Gafatar dibubarkan pada 13 Agustus 2015 melalui kongres luar biasa. Saat
dibubarkan anggota Gafatar mencapai 50.000 orang. Tiga mantan petinggi Gafatar
dijatuhi hukuman lantaran dinilai melakukan penodaan agama.(Kompas.com 19/1/20).
Fenomena
ini berangkat dari kisah peristiwa Ratu Adil. Bukan fenomena baru sebenarnya,
bahkan di dunia ada gerakan milenarianisme yang muncul setiap waktu tertentu.
Gerakan ini menawarkan jalan keluar bagi kebuntuan zaman. Fenomena sejenis juga
terjadi di berbagai negara. Saat ini terbukti gagal misi
Indonesia dalam
mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.
Tentu
tidak heran, dengan berbagai himpitan problem hidup ditambah dengan minimnya
keimanan bisa mengantarkan pada tingginya tingkat stres pada masyarakat. Banyak
orang tertarik dan bergabung karena sedang mengalami kebuntuan mencari jalan
keluar persoalan, gampang tergiur
tawaran yang tidak rasional. Hal itu dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk
mencari keuntungan materi.
Dari hal ini dapat kita lihat dampak dari sekularisme yang jelas berbahaya karena merupakan asas
dari ideologi kapitalisme yang terbukti bobrok. Inti ide ini adalah
menyingkirkan peran dan fungsi agama (terkhusus islam) dalam menyelesaikan berbagai
persoalan kehidupan. Kalau pun
mau, agama hanya diberi peran yang bersifat moral saja. Sekularisme menihilkan
peran dan fungsi Islam untuk mengatur masyarakat. Atas nama kebebasan berkeyakinan
setiap orang kemudian bebas membuat keyakinan dan aturan sendiri. Mengaku
jibril, Nabi, sholat dengan dua bahasa, dan ajaran menyesatkan lainnya.
Kemusyrikan pun akan merajalela atas nama kebebasan.
Islam
memberikan solusi agar setiap individu masyarakat beriman kepada Allah dan
rasul-Nya dengan keimanan yang benar. Meyakini bahwa ketakwaan menjadi sebab
dibukakannya jalan keluar dari problem kehidupan. Bersyukur atas setiap
pemberian-Nya, bersabar atas musibah yang menimpanya, karena boleh jadi semua
itu sebagai penggugur dosa.
Bagaimana ketika diperlakukan negara dengan
sistem Islam? Sudah pasti
negara dengan sistem islam akan
menjaga kondisi keimanan ini senantiasa berada dalam kondisi yang kokoh. Negara
akan menghindarkan masyarakat dari pemikiran-pemikiran liberal dan
materialistik yang bertentangan dengan akidah Islam.
Di
dalam Islam,
salah satu tugas negara yang penting adalah menjaga akidah umat (muhafadzah ‘ala
al aqidah).
Atas
dasar itulah
Rasulullah saw mewajibkan negara menjatuhkan sanksi hukum mati atas orang yang
murtad. Hal ini disebabkan akidah merupakan persoalan yang mendasar dan penting
(fondasi). Kalau akidah seseorang lemah dan rusak, maka rusak pula dia.
Demikian juga kalau akidah masyarakat rusak, bangunan masyarakat akan rusak.
Ketika seseorang seenaknya murtad (keluar dari Islam ) dia telah menyebarkan
virus yang berbahaya yakni menganggap ringan masalah akidah, dan kalau ini
dibiarkan akan membahayakan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam hal ini, perlu tindakan tegas dan antisipatif dari pemerintahan agar kasus serupa tidak berulang
sehingga tidak meresahkan masyarakat dan tidak banyak korban yang berjatuhan
lagi. Salah satunya dengan memberikan sanksi. Sanksi ini dijatuhkan setelah
lewat proses pembinaan dimana dia diberi kesempatan untuk bertaubat, kalau
tetap menolak lewat proses pengadilan baru dia dijatuhkan sanksi. Mereka
diminta bertaubat dan kembali kepada Islam, jika mereka menolak mereka wajib diperangi.
Demikianlah,
sepanjang negeri ini masih menerapkan sistem sekuler-kapitalis-liberal seperti
sekarang, maka penderitaan masyarakat tidak akan pernah menemukan solusinya. Sejauh ini
hanya Islam solusi
satu-satunya untuk atasi ragam masalah kehidupan yang
terjadi saat ini. Wallaahua'lam
bishshawab.
Editor: Muh
Fahrurozi



