![]() |
| (Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com) |
Oleh : Sunarti
Hamzah*
Dalam dua
pekan terakhir ini, dunia sedang gelisah. Banyak orang resah. Sebabnya tidak
lain adalah wabah virus Corona yang jadi pemicunya. Di China, menjadi lokasi
awal ditemukannya kasus virus Corona 2019-nCoV dan terus menyebar di antara
penduduknya. Dikutip dari CNN, virus Corona menyebabkan 300 kematian dan 14.300
kasus telah terkonfirmasi di seluruh China. Yang pasti, penyebaran wabah ini
telah menjangkau 25 negara: mulai dari Amerika Serikat, Australia, Filipina,
Finlandia, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea
Selatan, Malaysia, Nepal, Prancis, Russia, Singapura, Spanyol, Sri Lanka,
Swedia, Taiwan, Thailand, Vietnam dan Uni Emirat Arab (Cnbcindonesia.com,
4/2/2020).
Komisi
Kesehatan Nasional Cina (NHC) mengatakan Virus Corona menular bahkan dalam masa
inkubasinya yang berlangsung hingga 14 hari dengan kemampuan menyebar yang
semakin kuat. Beberapa gejala yang dikeluhkan oleh mereka yang terinfeksi Virus
Corona 2019-nCoV mirip dengan gejala coronavirus yang lain. Umumnya pasien akan
mengeluhkan sejumlah gejala seperti suhu tubuh tinggi, batuk kering, napas
pendek atau kesulitan bernafas. Namun, melansir dari South China Morning Post,
penelitian baru pada Virus Corona Wuhan menemukan, virus mungkin hidup pada
individu tanpa gejala yang jelas (infeksi asimptomatik). Kelelawar dianggap
sebagai sumber penyebaran Virus Corona jenis baru dari Wuhan, atau Novel
Coronavirus (2019-nCoV).
Boleh jadi,
meski tidak kita harapkan, Virus Coronona juga bisa menjangkau negeri ini.
Apalagi di Singapura, seorang WNI positif terjangkit Virus Corona (Kompas.com,
4/2/2020).
Beberapa
wilayah menyesalkan lambatnya reaksi pemerintah Indonesia dalam menangani,
memberi penjelasan, dan mencegah kasus seperti yang terjadi di beberapa negara
seperti Jepang, Hongkong, Amerika Serikat dan lain-lain yang lebih dulu menarik
masyarakatnya pulang ke negaranya masing-masing.
Penyebaran
Virus Corona yang makin meluas juga tak membuat Pemerintah membatasi wisatawan
Cina ke Indonesia. Terbukti, Pemerintah hanya penutup penerbangan langsung ke
Wuhan. Namun sebenarnya, pembatalan tersebut terjadi karena ekses kebijakan
isolasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Cina, selanjutnya diikuti oleh maskapai
penerbangan, bukan berawal dari Kementerian Perhubungan sendiri.
Padahal di
media sosial banyak netizen meminta Pemerintah untuk sementara menolak
kedatangan warga Cina ke Indonesia karena khawatir penularan Virus Corona.
Islam
mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah
lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah
penyakit menular.
Dalam
sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah
itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk
mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan
karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw.
memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta
tersebut. Beliau bersabda:
لاَ تُدِيمُوا
النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِين
Janganlah
kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR
al-Bukhari).
Dengan
demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk
mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain.
Rasulullah
saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang
sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena
wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:
إِذَا
سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ
وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Jika kalian
mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah
itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah
kalian meninggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).
Islam memang
telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat.
Misalnya, diawali dengan makanan.
Selain
memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak
berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tak layak
dimakan, seperti kelelawar.
Islam pun
memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun
lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah saw. pun, misalnya, senang
berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan
lingkungannya.
Namun
demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya.
Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan
optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Wallahu'alam.
*/Penulis adalah
Aktivis Dakwah
Editor :
Mahesa Ibrahim



