(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)
Oleh : Pengembara di Jalan Sunyi
Bila kau tahu siapa sejatinya aku
Maka ketahuilah bila sesungguhnya raga ini adalah engkau
Mungkin tak ‘kan kau mengerti sebelumnya
Namun, tidaklah terpungkiri lagi bila sejatinya antara kau dan aku adalah satu
Duhai napas yang kuhirup,
Mengisi selongsong jantung dan ragaku
Di saat itulah harusnya kau mengerti
Bila raga yang ada, terbangun dalam dimensi yang berbeda
Masihkah kau ragu akan kataku?
Tepat di mana kau dan aku dipertemukan
Menggugurkan tiap denting jam dinding yang selalu berdering
Kau selalu ada untukku
Duhai napas yang kuhirup
Kutegaskan kembali bila keterkaitan antara nadi dan napas
Tak ‘kan mungkin dapat terlepas
Hari ini, esok, lusa, dan seterusnya
Duhai napas yang kuhela
Masihkah ada lagi pertemuanku pada lara?
Di kala kumulai tabu dalam pesona cakrawala
Masihkah indah di atas nirwana?
Duhai napas yang kuhela
Bawalah sepercik cahaya padaku
Sebagai bekal dalam jawatan yang kutiti di kemudian hari
Hingga kuterdiam menjumpai titik akhtajku
Tepat saat nadi dan napasku tak lagi bersatu
Editor: Firdaturrofiah



