(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)
Oleh: Mahesa Ibrahim
Tetapi sapaan hangat Ibu-Ibu sepanjang lorong lenyap pun ikut sunyi
Seharusnya pagi itu selalu riuh, bising mengepulkan asap knalpot roda yang padat berderetan
Tetapi kini hambar, tetal temali tenda penjual sayur usang tak erat terjamah
Kepalan jemari bapak-bapak pengayuh sepeda di pinggiran trotoar kota menepi menyepi
Seumpama mempelai yang malang, gemuruh asmaranya kandas di tangan pandemi
Covid itu anak kemarin sore
Ia baru saja di lahirkan, seakan jadi pengawas anak-anak kita yang sedang ujian sekolah
Garang, tanpa keramahan ia lantas murka begitu saja
Semaunya saja
Mengunci pintu, mendiami diri di rumah sendiri
Ah, lupakan saja dulu tetangga
Tak ada lagi tetangga
Bukannya ia juga memiliki rasa takut, asa yang pupus dan semangat membenci jua kerap muncul
pandemi yang bagai benalu, bersafari bagai wakil rakyat, menikam dari segala penjuru
Kawan baik, lawan juga tak lagi jahat
*/Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Makassar
Semester VI Program Studi Ilmu Al-Quran & Tafsir
Wallahu A’lam bii Shawab
Editor: Siti Muchliza Ade Ratrini



