(Ilustrasi/Fathin-www.dapurpena.com)
Oleh:
Viki Nurbaiti, S.Pd*
Sosok guru adalah orang yang begitu berperan mencerdaskan
generasi anak bangsa. Beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dengan ilmu yang
dimilikinya, dia didik putra-putri bangsa dengan ikhlas dan penuh pengorbanan.
Guru mengajarkan baca tulis, mengajarkan kepribadian dan
bertingkah laku, mengajarkan berbagai bidang ilmu. Bertanggung jawab penuh atas
tumbuh kembang serta kemampuan anak selama di sekolah.
Karena sekolah adalah rumah kedua bagi siswa. Sebagai
tempat anak-anak menimba ilmu sesuai bidangnya supaya mereka kelak menjadi
manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, negara, serta agama.
Tak sekedar mendidik siswa, guru juga memiliki tugas
administrasi kelas dan sekolah yang menjadi tanggung jawab untuk dikerjakan. Menyusun
perangkat program pembelajaran, melaksanakan evaluasi pembelajaran, menyusun
program perbaikan dan pengayaan, menyusun daftar nilai hasil perbaikan dan
pengayaan, serta masih banyak lagi tugas administrasi lainnya.
Tugas guru meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
pembelajaran dilakukan guna mencapai tujuan yakni meningkatkan kemampuan
peserta didiknya agar menjadi manusia yang unggul.
Namun, kondisi ini jarang diketahui oleh kebanyakan siswa
dan orang tua.
Kondisi sekarang menunjukkan ketidakharmonisan hubungan
antara guru, siswa, dan orang tua.
Banyak sekarang persoalan yang muncul di dunia
pendidikan, degradasi moral siswa yang
tidak lagi menganggap guru sebagai panutan dan seseorang yang telah
memberikan ilmu serta pengetahuan yang patut di hormati dan disegani.
Di samping itu sikap serba salah pun berkembang di
kalangan guru yang kurang berani lagi bersikap tegas pada siswa karena khawatir
terhadap intervensi orang tua. Sebaliknya, orang tua menuntut tinggi terhadap
sekolah, tetapi kurang memberikan dukungan yang sama di rumah supaya hasil
pendidikan anak di sekolah bisa optimal.
Banyak lagi fenomena yang beredar dan mencoreng dunia
pendidikan.
Seakan ilmu yang diberikan di bangku sekolah tidak
menjasad di dalam hati dan tidak tercermin dalam perilaku siswa.
Begitulah akibat dari penerapan sistem pendidikan
sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Di saat siswa datang ke sekolah
hanya sekedar rutinitas belaka tak ada ruh menuntut ilmu. Kadang mereka
mendengarkan materi dari guru juga ala kadarnya.
Berangkat ke sekolah hanya berniat having fun, berkumpul
bersama teman-temannya.
Generasi semakin abai terhadap ilmu dan menghormati guru.
Dengan diterapkannya sistem sekuler, membuat siswa bersekolah hanya untuk
mengejar ijazah, kedudukan dan materi berlimpah. Generasi juga dididik untuk
memenuhi target pasar.
Terang saja, kepribadian siswa jauh dari kepribadian yang
islami.
Hal ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan islam
yang mampu membentuk karakter dan kepribadian Islam, bertsaqafah Islam,
dan unggul dalam ilmu pendidikan dan teknologi.
Karena dalam sistem islam tercipta harmonisasi antara
siswa, guru, dan orang tua.
Orang tua sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya akan
mengajarkan pondasi yang kuat terkait aqidah, ibadah, dan adab. Juga akan
mencetak generasi hafidzul Qur'an, serta mampu menerapkan isi Al Qur'an
dalam kehidupan.
Guru yang memiliki tugas agung mendidik generasi, akan
mencurahkan segala tenaga dan upaya untuk memberikan ilmunya, mendidik generasi
dengan berbagai bidang ilmu yang bersandar pada Al Qur'an.
Pun siswa juga memiliki kepribadian yang unggul dan
akademik yang bagus karena keberkahan ilmu yang didapat. Mereka memuliakan
gurunya karena orang yang telah berjasa dengan sabar dan penuh pengorbanan
membimbingnya dan mengajarinya mulai dari hal yang tidak tahu menjadi tahu,
mulai dari yang tidak bisa menjadi bisa.
Karenanya harus ada pengaruh yang kuat dari guru dan umat
agar sistem Islam segera tegak kembali sehingga melahirkan generasi yang hebat
dan tangguh.
*/Penulis adalah Praktisi Pendidikan
Editor : Fathin R.S
BACA JUGA : Akankah Sekolah Berdampingan dengan Corona?



