Dampak Pandemi covid-19 benar-benar
sangat dirasakan oleh semua lini masyarakat. Selain ranah ekonomi, kesehatan,
sosial ternyata dampak dalam sektor pendidikan juga sangat luar biasa. Hal ini
disebabkan karena ditengah pandemi biaya pendidikan tetap berjalan normal
sebagaimana biasa. Mahasiswapun tak bisa berdiam diri. Mereka menyuarakan
aspirasi dan keluhannya. Dari berbagai kampus di Indonesia mengadakan demonstrasi,
untuk menuntut agar uang kuliah digratiskan atau setidaknya ada keringanan
pembayaran.
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Gerakan
Mahasiswa Jakarta Bersatu. Melakukan aksi unjuk rasa di Kemendikbud pada
senin, 22 juni 2020. Mahasiswa meminta adanya audiensi langsung bersama
Mendikbud, Nadiem Makarim untuk membahas aspirasi mahasiswa terhadap dunia
perguruan tinggi (Universitas).
Aksi yang serupa juga dilakukan dari mahasiswa Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Palangkat (19/6). Universitas Islam Batik
(Uniba) Sukarta (22/6), mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) (18/6), dan
Aliansi Mahasiswa Hasanuddin Banten (22/6).
Mahasiswa melakukan aksi untuk menuntut penurunan
hingga penggratisan uang kuliah tunggal (UKT) di tengah pandemi Corona. Dodi Faisal
selaku Ketua Senat Mahasiswa IAIN Palangka, mengungkapkan alasan bahwa semester
ganjil ini mahasiswa tidak menikmati fasilitas yang ada di dalam kampus seperti
listrik, air, dan yang lainnya. Selain itu mahasiswa juga menuntut adanya
subsidi kuota internet selama perkuliahan online
(daring). Karena kondisi perekonomian orangtua dari kalangan mahasiswa
mengalami penurunan akibat terdampak pandemi Covid-19.
Di tengah unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap
UKT dalam masa pandemi akan tetap sulit untuk diapresiasi lebih lanjut karena
di sistem kapitalisme, semua hal terkait
pendidikan serba berbayar mahal. Tidak ada yang murah, apalagi sampai digratiskan.
Hal itu disebabkan karena negara lepas tangan dari urusan pendidikan. Jikapun
ada subsidi, jumlahnya tidak signifikan jika dibandingkan besarnya jumlah
pelajar dan mahasiswa yang ada.
Pendidikan hanya bisa diakses bagi mereka yang ber-uang.
Bukan lagi hak dasar yang dipenuhi secara menyeluruh pada setiap lapisan
masyarakat. Sistem kapitalisme membuat pendidikan menjadi mahal dan makin
mahal. Ada uang, ada pendidikan. Tak ada uang, pendidikan makin tak terjangkau
rakyat miskin. Padahal pendidikan adalah investasi untuk masa depan negara
khususnya investasi jangka panjang bagi penerus bangsa.
Sistem pendidikan dalam kapitalis tentu berbeda jauh
dengan bagaimana Islam memandang tentang
pendidikan. Karena dalam sistem Islam pendidikan merupakan tanggung
jawab negara, termasuk pendidikan perguruan tinggi. Karena merupakan kebutuhan
dasar yang tidak mungkin dipenuhi sendiri oleh rakyat. Islam mewajibkan umatnya
untuk menempuh pendidikan, yakni menuntut ilmu.
Rasulullah Saw. bersabda, “Jadilah engkau orang yang
berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu
atau yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka
kamu akan celaka.” (H.R Baihaqi)
Dalam peradaban Islam, Islam menempatkan pendidikan
sebagai suatu prioritas. Negara menyelenggarakan pendidikan secara gratis sejak
jenjang dasar hingga perguruan tinggi (universitas). Dalam kehidupan normal
(bukan pandemi) negara menyediakan sekolah/kampus, asrama, buku, alat tulis,
perpustakaan, laboratorium, fasilitas kesehatan, bahkan baju ganti untuk para
pelajar dan mahasiswa.
Negara dalam sistem Islam memiliki fungsi sebagai
pengurus dan penjaga umat bahkan akan memastikan agar sistem pendidikan ini
berjalan sempurna, dengan turut menciptakan suasana kondusif melalui penerapan
sistem-sistem hidup lainnya. Misalnya, menerapkan sistem ekonomi dan moneter
Islam yang kuat dan menjamin kesejahteraan seluruh warga negara. Juga dukungan
sistem politik Islam yang mandiri dan berdaulat bebas dari intervensi asing.
Sistem sosial Islam yang menjaga kebersihan moral masyarakat dan membuat tradisi amar
makruf nahi mungkar berjalan sebagaimana semestinya. Sistem sanksi Islam
yang tegas dan memberi rasa aman bagi semua. Serta sistem-sistem pendukung lain
yang menjamin arah pendidikan dan kultur belajar serta beramal demi kepentingan
umat benar-benar terjaga dengan sempurna.
Dalam kondisi wabah, pendidikan diatur agar mendukung
penyelesaian wabah. Kampus dan kaum intelektual serta para peneliti diarahkan
untuk meneliti obat dan vaksin untuk penyakit yang mewabah. Serta ayat, hadis,
dan fikih terkait wabah juga dikaji di sekolah dan kampus, sehingga ilmu
menjadi hidup dan bisa memunculkan penemuan baru. Pendidikan dalam sistem Islam
tak hanya beres dalam urusan biaya pendidikan (UKT dan lain-lain), tapi juga
menghasilkan solusi untuk wabah.
Hal ini yang membuat sistem pendidikan Islam yang didukung
sistem-sistem Islam lainnya ini mampu melahirkan sosok-sosok yang
berkepribadian Islam dengan skill
yang mumpuni. Yang berhasil membawa umat ini pada level kehidupan jauh di atas
level umat-umat lainnya, sebagai khairu
ummah dalam masa yang sangat panjang.
Salah satu bukti bagusnya pendidikan tinggi dalam peradaban
Islam adalah Universitas Al-Azhar yang mendapat pengakuan dari Napoleon
Bonaparte. Dalam pengasingan di Pulau Saint Helena, Napoleon menuliskan sebuah
catatan harian yang isinya mengungkapkan kekagumannya terhadap Universitas
Al-Azhar saat tentaranya melakukan penyerangan ke Mesir. Dalam catatan
hariannya, ia menyebut Al-Azhar merupakan tandingan Universitas Sorbonne di
Paris. Sorbonne merupakan universitas tertua di Prancis. Kemudian, di masa
pemerintahan Ottoman, Al-Azhar tumbuh menjadi sebuah lembaga pendidikan yang
mandiri secara finansial dengan sumber pendanaan berasal dari dana wakaf.
Sungguh sangat luar biasa. Sudah tidak diragukan ketika Islam sebagai ideologi diterapkan tentu akan melahirkan kemaslahatan. Karena Islam turun sebagai rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa dan masyarakat secara keseluruhan melakukan perjuangan ideologis, yang akan mengganti sistem kapitalis-demokrasi dengan sistem Islam yang akan menerapkan sistem pendidikan tinggi, gratis dan berkualitas.
Editor : M.N. Fadillah



