Aku
melihat bocah polos itu. Menjelang azan magrib, ia berada di tempat yang tidak
biasa. Bukan di taman kota yang menjadi tempat warga menunggu waktu berbuka
puasa, melainkan jongkok sendirian di pondasi yang nampaknya akan di bangun
rumah. Ia tidak gila. Ataupun seorang anak yang biasanya menjadikan pondasi itu
tempat bermain gundu. Wajar saja aku mengiranya seperti itu. Dilihat dari cara
berpakaiannya saja cukup rapi.
Sepintas
aku memandangnya dan pertama kali berjumpa dengannya. Nampaknya enam tahunan
usianya. Tapi, sedang apa ia jongkok di situ? Apa tidak ada pekerjaan lain yang
lebih bermanfaat? Aku tak tahu.
“Kamu
ngapain jongkok di sini?”
“Nunggu
adzan maghrib, Mas.”
“Kamu
puasa ta?”
“Iya.”
Bocah
hebat! Percaya tidak percaya, bocah itu berpuasa. Dilihat dari wajahnya yang
lemas dan bibir keringnya, tak diragukan lagi kalau ia menjalankan rukun Islam
yang ke-4. Mungkin ia puasa setengah hari, tapi tak apalah yang namanya anak
kecil mulai berpuasa itu sudah baik. Aku saja mulai belajar puasa saat usia
sepuluh tahun. Benar-benar malu dengannya.
Aku
mengajaknya ke masjid yang kebetulan di samping persis pondasi itu. Ia menolak
begitu saja. Malu dengan jamaah masjid. Itu yang ia katakan kepadaku. Ah,
alasan yang belum bisa diterima. Aku masih bisa memaklumi kepolosannya.
Allahu akbar, Allahu
akbar.
Azan
magrib telah berkumandang. Kuteguk segelas air mineral yang ada di teras masjid,
melepas dahaga puasa seharian ini. Baru sekali tegukan, aku lihat bocah itu
sudah tidak ada di pondasi. Mungkin ia pulang. Biasalah, anak kecil kalau
waktunya magrib harus ada di rumah. Takutnya diculik makhluk halus; mitos
setempat.
Tiang
penyangga masjid tak seperti biasanya. Segelas plastik kolak dan tiga potong
martabak bersandar di tiang tersebut. Pikirku takjil muadzin masjid yang akan
dinikmati setelah mengumandangkan azan. Jadi aku biarkan begitu saja. Itu bukan
hakku yang harus aku ambil.
Salat
magrib telah usai. Saatku makan bersama dengan jamaah masjid. Iseng melihat
takjil di tiang penyangga tadi, tetap masih ada. Sebenarnya, siapa gerangan
yang menaruh takjil itu? Kok tidak segera dimakan? Penasaran. Kata ustaz, kalau
makanan disia-siakan akan mubazir.
“Pak
Haji, itu takjil siapa? Apakah punya muadzin masjid?” Aku bertanya kepada Pak
Haji. Kebetulan beliau ada di masjid
sekarang. Tak seperti biasanya yang mengisi tausiyah di masjid-masjid lain
menjelang waktu berbuka puasa.
“Oh,
takjil yang di tiang penyangga itu?”
“Iya,
Pak Haji. Kok tidak dimakan ya? Padahal sudah buka puasa.”
“Itu
bukan punya muadzin. Tapi punya Mbah Semo.”
Mbah
Semo? Sepertinya nama itu sudah tak asing lagi bagiku. Benar, aku pernah
mendengar namanya. Ibuku pernah bercerita tentang Mbah Semo yang menghidupi
seorang anak kecil. Kedua orang tua anak itu telah bercerai, lalu meninggalkan
mereka berdua. Mbah Semo dan cucunya tinggal di desa sebelah yang kebetulan
tidak jauh dari masjid.
“Sekarang
beliau di mana, Pak Haji?”
“Bentar
lagi juga datang.”
Lima
menit kemudian, lelaki tua datang di masjid. Apa itu Mbah Semo? Aku belum bisa
memastikan. Mengingat aku belum pernah bertemu dengannya. Sekali pun belum
pernah. Ia tidak sendiri. Beserta seorang bocah yang menggandeng tangannya. Apa?!
Bocah yang digandengnya ternyata bocah yang beberapa menit lalu aku temui di
pondasi. Aku tidak menyangka dengan semua hal ini.
Rasa
penasaranku semakin menghantui tak terkendali. Aku memberanikan diriku untuk
menghampiri mereka berdua. Sedikit malu dan rasa sungkan masih ada kepada
mereka. Tak apalah, demi ingin mengetahui sesuatu aku harus berani. Almarhum
ayahku pernah berpesan kepadaku sebulan sebelum beliau meninggal; jangan pernah
takut kepada siapapun jika tidak memiliki salah.
“Permisi,
Mbah. Mbah sedang apa?”
“Maaf,
Mas. Mbah saya tuli dan tidak bisa ngomong. Kami berdua mau mengambil takjil
yang telah kusiapkan tadi.”
“Oh,
takjil ini kamu yang ambil toh?”
“Iya,
Mas. Saya mengambilnya untuk Mbahku, Mbah Semo.”
Dugaanku
benar. Lelaki tua yang bersama bocah di pondasi tadi ternyata Mbah Semo. Aku
tak bisa berkata-kata lagi dengan dua orang yang bisa dibilang sangat
memotivasiku. Mbah Semo yang berikhtiar menghidupi cucunya dan cucunya yang
seorang bocah menyempatkan mengambil takjil untuk kakeknya.
Air
mataku hampir menetes. Terharu. Bocah itu menyempatkan bercerita tentang
keluarganya. Ceritanya hampir mirip yang diceritakan oleh ibuku beberapa waktu
lalu. Aku pikir ini hanya omongan simpang siur yang belum ada kebenarannya.
Namun aku salah. Ini benar ada di kehidupanku.
Kini
aku tahu cerita itu. Setiap menjelang berbuka puasa, bocah yang aku temui tadi
selalu menunggu azan magrib dengan jongkok di pondasi. Hanya itu yang bisa ia
lakukan. Tanpa malu oleh orang-orang yang melintas di depannya. Termasuk aku.
Tidak hanya menunggu azan saja, bocah itu juga menunggu takjil yang dibagikan
gratis oleh panitia masjid. Selalu ia lakukan tanpa henti.
Aku
kembali terharu. Di bulan yang suci ini, Mbah Semo tidak bisa mencari nafkah
lagi. Bukan karena usianya yang semakin lanjut atau kelebihan yang ia miliki, tapi
tidak ada yang bisa ia jual lagi. Di luar puasa, Mbah Semo berjualan es potong
di sekolahan. Bulan ini ia tidak bisa menafkahi cucunya.
Bukankah bulan ini adalah bulan yang penuh
rahmat? Tentu benar. Tidak bagi Mbah Semo. Rahmat tersebut hanya dari Allah
ta’ala, bukan rahmat yang bisa membuatnya makan setiap hari. Mbah Semo
bersyukur. Masih ada cucunya yang memberinya takjil untuk berbuka. Terkadang ia
merasa minder, karena bisa dibilang peminta-minta takjil. Tapi, harus bagaimana
lagi? Hanya itu yang bisa ia lakukan. Ada juga yang menyebut cucunya sebagai
pemburu takjil. Tiap hari selalu di masjid demi mendapatkan takjil gratis. Namun
itu tak membuat Mbah Semo dan cucunya putus asa menjalani puasa. [ ]
Ramadhan, 1440 H
Tentang Penulis:
RYAN P. PUTRA. Penulis kelahiran Surabaya, 29 November 1997. Mulai menulis sejak duduk di bangku kelas 9 SMP. Ia menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan online. Ryan termasuk anak muda yang gigih mengikuti lomba, hingga meraih beberapa prestasi, di antaranya; Juara 3 Lomba Karya Tulis Islami yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Negeri 2 Surabaya Tingkat Jawa Timur pada tahun 2015, Juara 3 Lomba Esai Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2016, dan Juara Terfavorit Lomba Taujih Visual/Typografi yang diselenggakaran oleh JMMI ITS diikuti oleh seluruh mahasiswa ITS angkatan 2016 pada tahun 2017, dll. Prestasi terakhirnya yakni Juara 2 Essay Competition pada Al-Qur’an Poem & Essay Competition (APEC) Chemistry Islamic Studies (CIS) di Departemen Kimia ITS tahun 2018. Selain itu, pada Maret 2016, ia merampungkan buku tunggalnya berjudul “Kelinci Percobaan K-13” yang diterbitkan oleh FAM Publishing.



