![]() |
| (Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com) |
Oleh:
Kartini
#INA_CoronaVirusAlert menjadi trending topik.
Bagaimana tidak, wabah CoronaV begitu cepat menyebar. Wuhan, yang berada di
Tiongkok menjadi kota dengan jumlah terinfeksi wabah CoronaV terbesar hingga
mencapai 41 juta orang. Akhirnya, pemerintah setempatpun mengisolasi dengan
ketat agar tidak menyebarkan virus dalam jumlah yang lebih besar lagi.
Seluruh dunia menutup akses perjalanan menuju
Cina serta tidak mengizinkan wisatawan dari negara tersebut untuk masuk ke
negaranya. Namun, berbanding terbalik dengan negara Indonesia. Pemerintah tidak
melarang warganya untuk pergi ke Cina. "Kita tidak melakukan restriksi,
pembatasan perjalanan orang, karena bisnis kita bisa merugi, ekonomi bisa berhenti,"
kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1, Bandara Soekarno-Hatta
dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu
(22/1/2020) malam lalu.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Pemerintah Provinsi
Sumatera Barat yang menerima 174 turis Cina yang berasal dari Kunming-China di
Bandara Internasional Minangkabau Padang, Minggu 26/1/2020. Ratusan turis
tersebut disambut langsung oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Sekda Sumbar
Alwis. Warganet tentu saja tidak tinggal diam. Mereka menggaungkan penolakan
turis Cina yang datang ke Indonesia. Beberapa warganet malah sekongkol untuk
menjadikan tagar #TolakSementaraTurisChina masuk ke jajaran trending topik
dunia.
Sungguh mengherankan! Ketika semua negara di
dunia waspada dan serius melakukan tindakan pencegahan terhadap penyebaran
CoronaV, Pemerintah Indonesia malah tidak bersegera mengambil tindakan
pencegahan total dengan kebijakan travel warning atau larangan masuknya turis
Cina. Pernyataan pejabat bahwa tidak ada pembatasan masuk dan keluarnya
wisatawan dari Cina karena bisa merugikan bisnis telah menunjukkan kepada kita bagaimana
sesungguhnya prioritas Indonesia. Pemerintah lebih memikirkan untung rugi
bisnis ketimbang perlindungan total terhadap rakyat.
Itulah konsekuensi ketika kapitalisme menjadi
asas dari aturan yang diterapkan saat ini bahwa materi adalah titik akhir hasil
capaian pemerintahan. Namun tetap saja, materi itu mutlak bukan untuk kebutuhan
rakyatnya. Sesungguhnya ada pengganti aturan yang lebih memprioritaskan
kehidupan rakyat di sebuah negara. Ia menjamin kesehatan serta dapat memberikan
kesejahteraan. Yakni Islam sebagai solusi dari segala problematika masyarakat
yang harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Agar sebaran
CoronaV dan corona-corona lainnya bisa dicegah sedini mungkin serta tidak ada
pembiaran seperti yang dilakukan saat ini. Wallahu'alam.
Editor
: Wannajmi Aisyi



