![]() |
| (Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com) |
Oleh: Leni Marliati*
Dikabarkan
Dinas Kesehatan (DinKes) Bengkalis Riau akan
berkoordinasi dengan pihak imigrasi setempat untuk memantau kesehatan 10 tenaga
kerja asing dari China. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi
penyebaran virus Corona. Berdasarkan informasi dari Kantor Imigrasi Bengkalis,
saat ini jumlah tenaga asing dari Tiongkok yang bekerja di Kabupaten Bengkalis
sebanyak 10 orang. Enam orang berada di Kecamatan Pinggir dan empat orang bekerja
di Kecamatan Mandau.
Pemerintah
membentuk tim yang turun ke lapangan antara lain ke Pelabuhan Internasional Sri
Setia Raja, Kecamatan Bantan untuk memastikan ketersediaan alat deteksi virus
Corona. Hal tersebut adalah upaya terkait dengan liburan Tahun Baru Imlek. Karena kemungkinan tenaga kerja asing
tersebut pulang kampung dan kembali bekerja ke Bengkalis.
Ketika negara lain melakukan pencegehan total supaya
virus corona tidak menyebar, seperti Jepang
yang menyewa pesawat untuk mengevakuasi warganya dari Wuhan. Beberapa negara lain juga menghentikan TKA dan turis Cina masuk ke
negaranya seperti Negara Filipina, Malaysia, Srilanka, Kazakstan, Taiwan
dan Singapura sudah menstop visa untuk
turis Cina. Namun, pemerintah Indonesia mencukupkan antisipasi hanya dengan
pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal scanner.
Pemerintah
Indonesia belum merencanakan evakuasi pelajar di Wuhan. Pelajar masih bertahan
di kamar dan mengurangi aktivitas di luar. Pemerintah beralasan bahwa evakuasi
pelajar itu sulit dilakukan. Transportasi perjalanan Indonesia-Cina, maupun
Cina-Indonesia masih belum ditutup. Bahkan Indonesia masih menerima turis dan
TKA asal Cina. Pemerintah menganggap bahwa dengan memasang termal scanner
di bandara, pelabuhan dan pintu masuk negara lainnya sudah cukup untuk mencegah
penyebaran virus corona.
Sedangkan berdasarkan
penelitian, penderita akan merasakan gejala setelah sekitar 2 minggu tertular,
karena masa inkubasi virus tersebut sekitar 2 minggu. Sehingga, jika
turis atau TKA baru tertular dan masuk ke Indonesia sebelum masa inkubasi virus
berakhir, maka mereka akan lolos dari
deteksi virus corona, karena belum terjadi gejala. Jelaslah, upaya
pemerintah saat ini tidak cukup untuk melindungi warganya dari virus corona.
Dulu, pada zaman
Daulah khilafah Umar bin Khattab pernah mengalami wabah
penyakit tho'un di Syam. Sang Amirul mu'minin ini pun
sukses mengatasi wabah tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, “larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” Penyakit kusta merupakan penyakit yang menular. Rasulullah
menganjurkan kita untuk menjauhi orang yang memiliki penyakit menular tersebut
sebagai ikhtiar untuk melindungi diri. Sehingga hal pertama yang harus
dilakukan pemimpin adalah mengevakuasi rakyat yang sehat untuk keluar dari
sumber wabah tersebut.
Kedua, pemimpin melarang rakyat untuk masuk atau
keluar dari daerah tersebut, namun masih
memberikan bantuan berupa makanan dan obat-obatan. Ketiga, pemimpin melaksanakan do'a bersama,
memohon ampun dari segala maksiat dan memohon perlindungan dan pertolongan dari
wabah tersebut karena berdasarkan hadist Abu Hurairah berkata,
Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular dan thiyarah (merasa sial
dengan burung dan sejenisnya), dan saya menyukai ucapan yang baik". Maknanya
adalah penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya, tetapi menular dengan
kehendak dan takdir Allah.
Keempat, Pemimpin senantiasa menjaga ketaatan rakyatnya
kepada Allah, karena syariat yang Allah
berikan adalah panduan terbaik dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk untuk
indikator penentu makanan dan minuman yang halal lagi thoyyib yang juga
berkaitan erat dengan kesehatan.
Hari
demi hari, umat dihadapkan dengan masalah baru, yakinlah solusi yang tepat
mengatasi seluruh masalah tersebut yaitu dengan kembali mengamalkan syari'at
Allah dan Rasulullah. Wallahu a'lam bish-shawwab.
*/Penulis merupakan aktivis dan pemerhati masyarakat Cikarang
Editor: Ulfiatul Khomariah



