(Ilustrasi/Naufal-www.dapurpena.com)
Oleh: Mujahidah Pena
Dalam program Mata Najwa yang tayang Rabu (22/4/2020) Presiden Joko
Widodo mengatakan bahwa mudik dan pulang kampung berbeda. Hal tersebut
berkenaan dengan ungkapan Najwa mengenai data Kementerian Perhubungan seputar
banyaknya orang yang mudik lebih awal.
“Kontroversi mudik, data dari Kemenhub sudah hampir 1 juta orang curi start
mudik. Faktanya sudah terjadi penyebaran orang di daerah, bapak,” ujar Najwa.
“Kalau itu bukan mudik, itu pulang kampung. Yang bekerja di Jabodetabek,
di sini, tidak ada pekerjaan, mereka pulang,” jawab Jokowi.
“Apa bedanya?” tanya Najwa.
“Kalau mudik itu terkait hari lebarannya. Kalau pulang kampung itu
bekerja di Jakarta pulang ke kampung,” jelas Jokowi. (www.radarbandung.id,
2020/04/22)
Pernyataan presiden itu pun langsung ramai diperbincangkan. Peneliti
Senior Indef Didik Rachbini mengomentari bahwa pernyataan tersebut
membingungkan bagi publik. Dengan adanya pernyataan itu justru menyebabkan
risiko penyebaran Covid-19 kian meluas.
"Mudik dan bukan pulang kampung ini pernyataan kebijakan yang
membingungkan dari pejabat publik dan pasti berpotensi menyebabkan kegagalan
dan taruhan kegagalan adalah nyawa," kata Didik dalam publikasi virtual di
Webinar, Minggu (26/4/2020).
Satu hari setelah pernyataan perbedaan mudik dan pulang kampung yang
dilayangkan presiden, yaitu tanggal 23 April 2020 tercatat sebanyak 1.165 orang
penumpang bus antarkota dan antarprovinsi meninggalkan Jakarta di Terminal
Pulogebang, Jakarta Timur. Di Terminal Kampung Rambutan tercatat ada sekitar
1.000 penumpang yang berangkat pada Kamis (23/04), sebagian besar menuju Jawa
Barat, atau naik kurang lebih 300 orang dari jumlah penumpang satu hari
sebelumnya. Belum lagi data yang diperoleh dari Angkutan Sungai, Danau, dan
Penyeberangan (ASDP) Pelabuhan Merak menunjukkan jumlah penumpang yang berjalan
kaki pada hari Rabu (22/4) melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 1.248
orang jika dibandingkan pada hari Selasa (21/4) yang sebesar 605 orang. Jumlah
penumpang di atas kendaraan pada Rabu (23/04) juga naik menjadi 16.006 orang,
dari 11.688 satu hari sebelumnya.
Dari data di atas bisa kita lihat dampak dari pernyataan presiden yang
membingungkan itu bukannya meminimalisir penyebaran Covid-19, justru sebaliknya
semakin banyak warga yang pulang ke kampung halamannya. Bukan tanpa alasan.
Mereka pulang kampung karena memang sudah tidak ada lagi lapangan kerja di
kota. Mau bagaimana lagi daripada mati kelaparan.
Senada dengan hal itu, seorang pemudik yang ditemui di Pelabuhan
Bakauheni, Lampung, Arya Winanda mengatakan
sebenarnya ia was-was mudik di tengah wabah virus corona, namun ia tidak
memiliki pilihan lain lantaran pendapatannya menurun.
"Takut juga terhadap
virus corona cuma gimana lagi, kita juga was-was dengan virus corona. Susah
[bertahan hidup di Tangerang], kalau tidak ada duit, ngutang-ngutang
terus."
Dari pada menjelaskan beda mudik dan pulang kampung rakyat lebih butuh
kepastian dari penguasa. Ironisnya, penguasa tidak menjamin kehidupan mereka
yang menetap di kota.
Lalu di mana peran penguasa dalam mengayomi dan menjamin keselamatan
rakyatnya?
Penguasa dalam Islam adalah pelayan rakyat. Disebutkan dalam kitab Al-Ahkam
as-Sulthoniyah bahwa tugas penguasa yaitu hirasatuddin (melindungi
agama mereka) dan siyasatuddunya (mengatur urusan dunia). Hirasatuddin
berupa jaminan setiap warga negara agar memahami ajaran agamanya, mampu
mengamalkannya dengan baik, dan melindungi agama mereka dari berbagai bentuk
kesesatan. Selain itu penguasa juga harus mampu melakukan siyasatuddunya
berupa pelayanan terhadap rakyat agar bisa hidup layak sebagai manusia yang
bermartabat. Menjamin rakyat mendapatkan hak-haknya yaitu dengan memenuhi
kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan serta keamanan yang
layak.
Tengoklah Umar bin Khattab ra, ketika menjabat sebagai khalifah, suatu kali ia pernah bertutur,
"Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad, niscaya
Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak
meratakan jalan untuknya?’." Bahkan hewan pun tak luput dari perhatiannya.
Pernah ada salah seorang warganya yang mengeluhkan pola kepemimpinannya,
lalu ia bermuhasabah diri hingga tak bisa memejamkan mata semalam suntuk.
Di mana akan kita dapati pemimpin semacam Umar? Yang jelas bukan dari
sistem kapitalime sekuler yang prioritas pemimpinnya bukan melayani rakyat.



