(Ilustrasi/Naufal-www.dapurpena.com)
Oleh : Disha
Allah SWT
berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)
Covid-19 cukup menjadi tamparan keras bagi seluruh
umat manusia di dunia. Tidak jarang banyak infrastruktur lumpuh karena adanya
wabah. Lini ekonomi, perpolitikan, pendidikan, sosial ikut terguncang. Semenjak
diumumkannya secara resmi oleh WHO bahwa Covid-19 ini adalah pandemi global.
Semua kegiatan pada umumnya terpaksa harus berjalan tidak seperti biasanya.
mulai dari sosial distancing, tetap di rumah saja terpaksa harus dilakoni.
Di masa pandemi ini justru menuai banyak polemik.
Kebijakan-kebijakan yang diberikan penguasa justru tidak membahagiakan
rakyatnya. kebijakan yang diambil justru membuat bingung dikalangan masyarakat.
Dalih-dalih yang disuguhkan terasa tidak masuk akal. Seperti dibebaskannya napi
yang justru menambah keresahan di kalangan masyarakat, kebijakan psbb. Beberapa
kebijakan pemerintah ini justru menimbulkan pro dan kontra. Pasalnya kebijakan
ini tidak diikuti dengan pertimbangan yang matang dan tindakan yang tegas dari
pemerintah.
Kebijkan pemerintah yang justru menuai banyak pro
dan kontra salah satunya adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Kebijakan ini dinilai tidak serius karena kurangnya ketegasan pemerintah dalam
pelaksanaannya. Pasalnya apabila masih adanya aktivitas masyarakat yang tanpa
terkontrol tentu saja akan memperparah kasus akibat Covid 19. Akan tetapi,
jelas-jelas hingga kini kebijakan ini tidak dibarengi dengan tindak tegas dari
pemerintah. Semestinya pemerintah memberlakukan lockdown demi memutus
persebaran mata rantai dari virus Covid-19 ini. Sangat disayangkan justru
pemerintah lebih memilih untuk menerapakan kebijakan PSBB ini. Yang hingga kini
kebijakan tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan dengan terus
bertambahnya korban yang meninggal dunia dan jumlah kasus yang terbilang tinggi
di Indonesia.
"Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang
efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke
depan," ujar Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, dalam video yang
diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada Kamis
(7/5/2020) (Kompas, 9/5/2020). Sangat disayangkan lagi melihat penuturan
tersebut. Mengapa demikian? Pasalnya untuk menemukan vaksin yang efektif
memerlukan waktu yang tidak singkat. Perlu dilakukan serangkaian panjang hingga
vaksin tersebut dapat digunakan dan aman untuk manusia.
Di sisi lain, dilansir dari berita yang menyatakan
bawasannya virus covid-19 ini terus bermutasi dan kini sudah melemah. Akan
tetapi disisi lain para peneliti mengungkapkan hal ini dinilai masih terlalu
dini. (Suara.com, 9/5/2020). Maka dari itu masih berkemungkinan sekali covid-19
ini terus bermutasi dan menjadi lebih agresif pada tubuh manusia dengan gejala
atau simptom yang tidak terlihat pada awal penginfeksian. Sehingga akan sangat
berbahaya. Hal ini tentu saja akan memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Terlebih hingga detik ini kurva kasus covid-19 di Indonesia belum kunjung
melandai. Jika menelisik ungkapan dari presiden Indonesia tersebut tentu saja
sangat disayangkan sekali. Pasalnya akan sampai berapa lama menunggu hingga
vaksin ditemukan dan aman digunakan untuk manusia. Disisi lain ketika virus covid-19
terus bermutasi apakah vaksin ini masih relevan dan benar-benar dapat mencegah
terjadinya penginfeksian covid-19?
Kebijakan yang diambil pemerintah ini tentu saja
memperlihatkan ketidakseriusan dalam penanganan kasus covid-19 ini. Kebijakan
PSBB justru akan semakin memperluas penyebaran virus covid-19 ini jika tidak
dibarengi dengan tindakan yang tegas dari pemerintah. Terlebih kebijakan ini
akan terus dilakukan hingga ditemukannya vaksin covid-19. Akan menunggu berapa
nyawa lagi menjadi korban ketidakseriusan pemerintah. Jika hanya membatasi
aktivitas masyarakat kemungkinan masyarakat akan tetap nekat melakukan
aktivitas mudik terutama mereka yang terdampak PHK di perkotaan karena
mandegnya sektor lapangan kerja. Dengan demikian, jika terus menerus dilanjutkan
maka puncak pandemi covid-19 ini akan terus mundur dari pemodelan yang sudah
dilakukan. Tentu saja akan memberikan tambahan
kasus masyarakat yang terjangkit.
Saatnya Menggaungkan Dakwah di
Tengah Wabah
Sebagai
umat Muslim semestinya menyadari dan memahami bawasannya tidak ada sesuatu pun
yang terjadi di dunia tanpa kekuasaan Allah SWT. Covid-19 ini merupakan qadha
atau ketetapan dari Allah SWT. Beginilah gambaran ketika aturan Islam tidak
diterapkan dalam kehidupan. Larangan untuk memakan yang haram telah Allah
jelaskan dalam firman-Nya tentu saja akan memberikan kemudharatan. Dan Covid-19
ini salah satu bukti nyatanya. Kelelawar yang merupakan awal penyebaran virus
ini yang diduga justru dikonsumsi oleh manusia dan diperjualkan secara legal di
Wuhan, China. Yang menjadi awal mulanya kasus covid-19 ini.
Saatnya
menggaungkan dakwah Islam untuk penerapan secara kaffah. Islam merupakan solusi
dari segala permasalahan di dunia. Sudah dibuktikan bahwasannya Islam telah
menaungi kehidupan secara tentram dan damai hingga 13 abad lamanya.
Islam
telah mencatat keberhasilan gemilang dalam peradabannya. Islam yang bukan hanya
sekedar agama melainkan juga mabda’ atau ideologi telah memberikan
solusi-solusi dari segala persoalan. Termasuk dalam wabah pandemi covid-19 ini.
Memang belum pernah terjadi dalam sejarah Islam mengenai wabah covid ini.
Namun, hal serupa pernah dialami ketika terjadinya wabah tha’un pada masa
khalifah Umar bin Khattab. Tampak berbeda sekali kiprah yang diberikan pemimpin
untuk mengentaskan wabah dimasa itu dan masa sekarang. Betapa seriusnya para
pemimpin Islam dalam meriayah umatnya. Dengan memberikan pelayanan paling baik
dan lebih mengutamakan nyawa seorang rakyat dibandingkan dengan laju
perekonomian negara.
Dapat
terlihat sekali betapa sistem ini cenderung mengabaikan nyawa manusia dan lebih
mengutamakan laju perekonomian. Beginilah citra dari sistem kapitalis yang
menyengsarakan rakyat. Sistem ini semakin terlihat kerapuhannya ditengah wabah
covid-19. Guncangan ekonomi, politik, pendidikan, sosial semakin membuka
kelemahan dari sistem yang memang tidak ideal ini.
Penguasa
Islam atau seorang khilafah akan meriayah umat sesuai dengan syariat yang Islam
bawa. Tidak pula hanya karena haus kekuasaan yang berakibat menyengsarakan. Sudah
pula terbukti bagaimana kesigapan dari seorang pemimpin Islam ditengah krisis
dan ketika wabah mendera. Khalifah Umar bin Khattab menjadi salah satu bukti
keseriusan pemerintahan khilafah dalam pengurusan masalah umat ketika terdampak
wabah.
Sudah
saatnya kini Islam kembali diterapkan secara kaffah. Terlebih dimasa pandemi
ini semestinya tidak menyurutkan semangat para pengemban dakwah untuk tetap
bergerak menyuarakan Islam. Sebagai generasi penerus Islam mestinya memiliki
kapabilitas yang memadai untuk terus bergerak dan berkaya untuk umat.
Di masa pandemi ini, sebagai manusia semestinya kita merefleksikan diri. Semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan memiliki daya lecut yang tinggi untuk terus mengkaji Islam dan mendakwahkannya ke tengah-tengah umat. Agar ideologi Islam dan sistem pemerintahan khilafah dalam kembali menaungi umat manusia. Setelah berapa banyak penderitaan dan darah yang tampaknya sia-sia.
Editor : Hadhil Channel
BACA JUGA : Menyoal Politisasi Bansos: Drama Penguasa di Tengah Kelaparan Rakyat



