Sosial media akhir-akhir ini dihebohkan dengan logo pelangi yang mulai menjamuri beberapa brand perusahaan multinasional. Logo pelangi ini bukan hanya sekadar logo biasa melainkan semakin melejitnya dukungan pada kaum penyuka sesama jenis.
Beberapa
minggu terakhir ini, perusahaan multinasional Unilever mengumumkan dukungannya
terhadap LGBT. Hal ini sungguh sangat disayangkan pasalnya perusahaan ini
produknya sudah menjamuri pasar mulai dari pembersih, makanan, make up, dan
lainnya. Alhasil mendapatkan kecaman keras dari berbagai pihak untuk melakukan
pemboikotan terhadap produk-produk Unilever.
Disisi lain
sebanyak 20 perusahaan turut ikut mendukung kampanye pro LGBT antara lain, Apple
Inc, Microsoft Corp, Google, Facebook, Walt Disney, Starbuck dan lain-lain juga
telah lebih dahulu mengumumkan dukungannya terhadap kaum pelangi ini. Hal ini
tentu saja sangat memprihatinkan. Pasalnya masyarakat seakan dipaksa untuk
menerima dan terbiasa dengan kaum pelangi yang sudah jelas-jelas
laknatullah.
Dilansir dari
pikiran rakyat cirebon.com, Instagram yang memang sudah lebih lama dibandingkan
Unilever dalam mendukung kaum pelangi ini mulai membagikan adanya hastag
berwarna pelangi “#LGBT” yang muncul pada saat hari Pride Day atau pawai
kebebasan. Selain itu dukungannya juga diperkuat dengan adanya tambahan fitur
‘pride’ diawal story instagram dan juga dalam bentuk sticker dalam story.
Motif dibalik
semua ini tentu saja tidak lepas dari peran ideologi kapitalisme yang
menginginkan kebebasan dalam segala hal. Mereka juga menganggap bawasannya
tindakan laknatullah ini merupakan sebuah hak asasi manusia. Mereka berhak
memilih akan pada siapa melampiaskan naluri seksualnya. Tentu saja hal ini
tidak benar adanya. Kaum pelangi ini sudah menyalahi kodrat manusia. Dimana
semestinya pemuasan seksual harusnya dilakukan dengan lawan jenis dan sesuai
dengan jalan syariat.
Sangat sulit
memang jika menghapus keberadaan kaum pelangi ini. Terlebih dukungan yang kian
hari terus membanjiri mereka. Semua ini karena memang suatu hal yang
sistematis. Perusahaan besar pendukung memang ada hubungan alasan korporasi
yang berorientasi pada materi. Kaum pelangi ini merupakan ceruk pasar yang
sangat menggiurkan. Dikutip dari Tirto.id, Witeck Communications menyebut
kemampuan membeli komunitas LGBT di Amerika senilai $830 miliar pada tahun
2013. Sedangkan pada tahun 2016, data baru menunjukkan bahwa kemampuan membeli
komunitas pelangi di pasar Amerika Serikat meningkat menjadi 917 miliar dolar.
TIDAK CUKUP HANYA DENGAN BOIKOT
Pemboikotan
tidak akan efektif untuk memberantas kaum pelangi ini dari akar-akarnya. Hal
ini karena didalamnya mengandung alasan korporasi tersembunyi yang menggiurkan
bagi para pendukungnya.
Beginilah buah
dari pemikiran liberalisme yang tanpa batas dan sekuler atau memisahkan agama
dari kehidupan. Kaum pelangi ini merupakan salah satu representasi pelanggaran
syariat Tentu saja praktik LGBT ini menyimpang dari ajaran agama terutama
Islam. Dalam Islam jelas-jelas praktik ini sangat menyimpang dari syariat dan
menyalahi kodrat manusia.
“Dan (Kami juga
telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu
melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum
kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama
lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” QS.
Al A’raf ayat 80-81
Sungguh sudah
sangat jelas bawasannya praktik LGBT ini merupakan pelanggaran syariat dan
merupakan perbuatan yang keji serta melampaui batas. Tentu saja adzab yang
pernah Allah berikan kepada kaum Nabi Luth ini sangat mengerikan yakni bumi
dibalikkan dan mereka dihujani dengan batu dari tanah yang dibakar. Lantas
apakah hal ini tidak bisa memberikan pelajaran bagi mereka?
Maka praktik ini
harus
dihentikan dan dicabut dari akar-akarnya karena adzab Allah pasti adanya.
Tindakan boikot produk-produk yang pro-LGBT ini tentu saja tidak akan mampu
menyelesaikan masalah hingga ke akar-akarnya. Tentu saja perlu adanya peran
instiusi untuk memberikan hukuman yang memberi efek jera kepada kaum pelangi
ini. Institusi ini semestinya memiliki landasan yang kuat dan benar-benar dapat
memberikan solusi hingga akar masalah.
Karena akar masalah dari semua
praktik-praktik pelanggaran syariat ini adalah paham liberalisme yang terus
menerus digaungkan oleh kaum kapitalisme yang menghendaki kebebasan tanpa batas.
Kebobrokan generasi, ketidakamanahan pemimpin, dan praktik lainnya semakin
membuka jelas bawasannya sistem ini rapuh dan bobrok. Sistem yang mampu
memberikan kemaslahatan bagi umat satu-satunya hanyalah sistem Islam dengan
berdirinya Daulah Islam yang mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam
kehidupan. Sumber dari ideologi Islam ini tidak lain hanya dari Sang Pencipta
Allah SWT yang pasti tidak akan ada keterbatasan dan kesalahan di dalamnya.
Bagaimana mungkin manusia yang terbatas sifatnya membuat hukum dengan akalnya
sendiri tanpa berlandaskan yang disyariatkan oleh Allah SWT? Tentu saja faktanya
sudah dapat kita indera seperti sekarang ini.
Saatnya mengubah sistem dan kembali pada
sistem Islam, yang sudah membuktikan keberhasilannya selama 1300 tahun memimpin
dunia dengan luas wilayah hampir meliputi dua pertiga dari luas dunia
keseluruhan. Islam yang merupakan rahmatan lil ‘alamin semestinya akan
memberikan solusi dari keresahan masyarakat saat ini dan akan mampu
menghilangkan eksistensi kaum pelangi di dunia ini.
Wallahu a’lam



