Oleh : Erdiya Indrarini
Bagai
anak ayam yang kehilangan induknya, mereka terlantar dalam mendapatkan
kebutuhan makan. Begitulah nasib sebagian generasi bangsa saat ini. Mereka
bingung bagaimana memperoleh haknya akan pendidikan yang mestinya didapatkan. Demikian yang dialami
pelajar Indonesia, terlebih dimasa pandemi. Seperti Dimas Ibnu Ilyas, seorang
Pelajar SMP asal Rembang Jawa Tengah. Di musim pandemi ini, setiap
hari dia nekat berangkat sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Hal itu dia
lakukan karena orang tuanya yang seorang pelayan itu tidak mampu membelikan HP
sebagai sarana mengikuti sekolah daring. Portaljember.com (25/7/2020)
Lain
lagi yang dialami warga Desa Hokor, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT. Para pelajar
di sana
sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas belajar mengajar semenjak di
liburkan oleh pemerintah untuk mencegah penularan virus Corona asal Wuhan,
China. Hal
itu karena di samping
daerahnya terisolir, penduduknya pun juga miskin sehingga sekedar membeli radio
untuk belajar daring saja, terasa berat bagi mereka. Terlebih daerahnya masih
jauh dari semua akses baik listrik, jalan hingga telekomunikasi. Oleh karena
itu, mereka tidak bisa melakukan kegiatan belajar mengajar. Sehingga di musim
tahun ajaran baru seperti sekarang ini, mereka bingung karena tidak mengikuti
pembelajaran, dan tidak bisa mengikuti ujian untuk mendaftar sekolah ke
pendidikan yang tebih tinggi. Merdeka.com (26/7/2020)
Hasil
riset dari 300 orang tua siswa SD di beberapa kota seperti Surabaya, NTT, NTB, dan Kalimantan menunjukkan
hanya 28% anak saja yang bisa menggunakan
media daring untuk pembelajaran, 66% tetap menggunakan buku-buku
pelajaran, dan 6% lagi sama sekali tidak melakukan kegiatan belajar mengajar. Asumsi.co
(12/5/2020). Mendikbud,
Nadiem Makarim, pun mengaku kaget luar biasa bahwa ternyata banyak siswa yang
tidak memiliki akses listrik dan sinyal internet yang memadai. Ia pun menyadari
bahwa pandemi ini kian menelanjangi ketimpangan yang mengakar di Indonesia. Hal
itu ia ungkapkan pada siaran youtube
Kemendikbud.
Keadaan
seperti itu tidak terjadi saat ada wabah Corona saja. Namun, sebenarnya sudah sejak lama
sebelum wabah corona berlangsung. Infrastruktur yang tidak merata jangkauannya
di semua
daerah sangat menjadi kendala dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal
itu menjadi kepedihan yang dirasakan masyarakat, terlebih saat terjadi wabah
seperti sekarang ini. Bukannya pemerintah tidak membangun infrastruktur, hanya
saja prioritas pemerintah tidaklah untuk pendidikan anak-anak bangsa dengan
memperbaiki dan menambah gedung-gedung sekolah, dan akses jalan yang nyaman. Tapi, pembagunan malah dititik
beratkan pada hal-hal yang lain yang sifatnya tidak mendesak. Di samping infrastruktur
seperti gedung sekolah dan akses jalan umum yang tidak terpenuhi, biaya
pendidikan yang mahal dan tidak terjangkau oleh banyak kalangan, juga menjadi
kendala bagi masyarakat untuk memperoleh hak-haknya atas pendidikan yang
seharusnya didapatkan.
Terlebih
dengan adanya wabah corona ini, pemerintah justru mengalokasikan biaya
pendidikan seperti Dana BOS maupun
uang insentif untuk guru, ke pembiayaan lain seperti investasi pariwisata
maupun bidang lain, yakni perhubungan transportasi, juga industri. Hal ini
menunjukkan abainya negara dalam menjamin kesejahteraan pada tenaga pendidik
dalam menyelenggarakan pendidikan. Padahal pendidikan anak bangsa merupakan
kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dan akan menjadi aset berharga bagi sebuah
negara. Negara akan maju dan sejahtera jika mempunyai generasi bangsa yang
bertakwa, cerdas,
dan berkarakter tangguh.
Masa
pandemi ini semakin menunjukkan kegagalan sistem kapitalisme dalam pembangunan.
Pembangunan infrastruktur yang besar-besaran
selama ini tidaklah memberi daya manfaat bagi pemenuhan
kebutuhan pokok rakyat seperti halnya bidang pendidikan. Hal ini wajar terjadi
karena dalam pengelolaannya, negara menggunakan sistem kapitalis.
Dimana dalam urusan pendidikan, pemerintah hanya bertindak sebagai regulator dan pengelolaan diserahkan
pada swasta. Padahal dalam pengelolaannya, swasta akan cenderung berpihak pada
keuntungan investor saja, pendidikan hanyalah dijadikan sebagai ladang bisnis.
Jika
hal ini dibiarkan terus berlangsung tanpa adanya perubahan sistem pendidikan
yang benar, niscaya negara tidak akan pernah mampu menghasilkan generasi yang
mumpuni. Sehingga tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, mandiri, berdaulat, bermartabat, dan mampu
mengundang rahmat Allah SWT. Hal
demikian itu akan berbeda jika negara menggunakan sistem yang baik. Sistem yang
bukan berasal dari akal manusia, tapi dari wahyu Ilahi, yaitu sistem Islam.
Dalam
sistem Islam, negara bertindak sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai regulator. Dalam pelayanannya, negara akan menjamin secara
mutlak kebutuhan dasar rakyatnya, dan menempatkannya sebagai prioritas
pembangunan dalam kondisi apapun, meski di saat pandemi. Tidak hanya masalah sandang
pangan papan saja, tapi juga bidang kesehatan. Tak kalah penting adalah
kebutuhan akan pendidikan bagi warganya dengan menyediakan sarana prasarana,
seperti gedung-gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, pengajar yang mahir
dibidangnya, buku-buku penunjang, alat tulis, internet, dan lain sebagainya.
Tentunya dengan kualitas yang terbaik dan gratis. Kurikulum pun sesuai dengan
tujuan utama pendidikan, yaitu menciptakan generasi bangsa yang berkarakter
tangguh, bertakwa, dan berkepribadian mulya sesuai dengan syariat agama.
Untuk
menunjang semua itu, biaya akan diambil dari kas negara yang bernama Baitul
Maal, yaitu sebuah lembaga yang menangani harta dan kekayaan milik rakyat. Jadi,
bukan dari pajak karena tidak ada pajak dalam sistem Islam. Ada beberapa pos
masukan yang terkumpul pada Baitul Maal, sedangkan dana pendidikan
diambil dari pos hasil pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang dikelola oleh
negara untuk memenuhi segala kebutuhan seluruh rakyatnya, baik kaya maupun
miskin, juga bagi muslim maupun non muslim, bukan malah diserahkan pada
investor asing maupun aseng.
Generasi
bangsa adalah aset bagi negara. Kepada siapa lagi negara menggantungkan
harapan, jika bukan kepada anak bangsanya sendiri? Pendidikan Islam telah
terbukti berjaya selama 13 abad berturut-turut, dan menghasilkan pemuda-pemuda
hebat seperti Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel. Tidak ada sistem
yang lebih baik dari sistem Islam dalam mencetak generasi bangsa yang unggul
dan cemerlang. Inilah saatnya mencampakan sistem kapitalis yang saat ini
diadopsi, lalu berganti dengan sistem Islam yang berasal dari wahyu Ilahi. Wallahua'lam bishawwab.
*Penulis
adalah pemerhati masyarakat
Editor
: Putri Hesti Lestari



