Oleh : Mariyam Sundari*
Di desa Pandansari Poncokusumo Malang, hiduplah seorang
pemuda bernama Galang yang pemberani dan periang. Mempunyai hobi berpetualang
dan sangat menyukai tantangan. Galang tinggal bersama kedua orang tuanya bernama
Rangga dan Sari yang berbudi pekerti baik. Hingga pada suatu saat ketika Galang
dewasa kedua orang tuanya meminta Galang segera menikah, Galang tidak mau
menikah kecuali dengan gadis cantik yang berbeda dengan gadis lainnya.
Dengan tekadnya yang kuat seperti batu karang di lautan yang tetap kokoh walau tersiram badai ombak, Galang pun terus mencari gadis idamannya itu dengan modal sandal gunung yang terbuat dari batang kayu mahoni yang diberi pengait pada setiap siku hasil karyanya yang mampu menutupi telapak kakinya yang besar kira-kira berukuran 75 centimeter. Dengan membawa tas hitam terbuat dari kain katun yang diletakkan di punggung belakangnya siap berpetualang menapaki bukit-bukit yang gersang masuk hutan keluar hutan tapi belum juga menemukannya.
Hingga
suatu ketika Galang mendengar kabar dari para pemuda di kampungnya bahwa ada seorang gadis
cantik bernama Dahlia yang tinggal di kaki Gunung Semeru di Desa Ranupane Senduro Lumajang Jawa Timur. Tidak ada satupun pemuda yang berani menikahinya karena tidak mampu
memenuhi syarat yang diminta gadis cantik itu. Dengan mata yang berkaca-kaca wajahnya
berbinar-binar menatap
ke arah langit dan berdoa penuh harap kepada Tuhan “semoga gadis
itu adalah jodohku“
dengan modal rupa yang menawan dan sangat tampan seperti film Arjuna di
serial Mahabarata dan postur tubuh yang
tinggi kekar berotot seperti Gatot Kaca Pewayangan, Galang yakin dan percaya
diri akan mendapatkan cinta Dahlia.
Petualanganpun dimulai, pukul 2.00 dini hari setelah sholat tahajjud dan istikharah dengan mengenakan baju berwarna cokelat tebal terbuat dari kain wol, dilapisi dengan jaket terbuat dari kulit lembuh yang gunanya untuk menahan udara dingin yang sangat menusuk kulit dan memakai celana panjang berlapis yang terbuat dari bulu biri-biri yang tebal. Tidak lupa membawa tongkat yang terbuat dari kayu jati yang gunanya untuk menopang tubuhnya ketika jalan menanjak dan menurun.
Galang berkelana naik turun bukit kecil berjam-jam lamanya dan tibalah di kaki Gunung Semeru. Dari kejauhan dilihatnya gubuk kecil beratapkan daun nipah dengan nafas terengah-engah karena lelahnya perjalanan jauh dengan sedikit gemetar detak jantungnya yang begitu kencang seperti suara kuda berlari apabila didengar. Galang mendekati gubuk kecil yang pintunya sudah terbuka dan sepertinya tuan rumah sudah siap menerima tamunya.
Petualangannya menegangkan karena mereka
berdua bertemu dengan
sorotan mata yang redup.
Galang
melihat kecantikan Dahlia yang menurutnya adalah bidadari yang tertinggal di bumi
karena mencari selendangnya yang dicuri oleh seorang pemuda tampan dalam cerita rakyat Jaka
Tarub. Galang yang mengira dirinya adalah Jaka Tarubnya dia terpesona akhirnya
jatuh cinta dan ingin segera menikah dengannya. Dengan memakai kerudung
hijau berbaju putih, Dahlia tersenyum dengan bibir merah nyayang merona seperti buah delima, berkulit putih seperti
mutiara berkilau, berhidung mancung seperti pisau cukur yang tajam, bermata biru
dan terlihat bulu mata yang sangat lentik begitu indah di pandang. Dengan tubuhnya
yang tinggi dan ideal,
Dahlia
beranjak dari tempat duduknya, dan berkata aku tidak ingin kehilangan
orang-orang yang dicintai untuk kedua kalinya dan mengajukan syarat...
“Sehidup Semati”.
Mendengar itu Galang merenung sejenak
menundukkan kepala dan berpikir bahwa tidak mudah memenuhi syaratnya, akhirnya
dengan penuh keyakinan Galang memenuhi syarat Dahlia, baiklah Insya Allah, engkau akan
mendapatiku memenuhi persyaratanmu,,,,mereka
berduapun menikah dan hidup bahagia.
Sementara itu Dahlia tinggal
sendiri dalam gubuk kecil di kaki Gunung Semeru kedua orang tuanya bernama
Karta dan Sirti yang
sangat menyayanginya meninggal dunia korban dari kebakaran yang menimpa kampungnya beberapa tahun yang lalu. Untuk mempertahankan hidup Dahlia hanya memakan
hasil kebun sayuran dan buah-buahan peninggalan kedua orang tuanya.
Setelah menikah Galang tinggal
bersama Dahlia di Desa Ranupane
dan
mengolah lahan perkebunan milik Dahlia. Kesedihan dan ketegangan kembali terjadi belum genap satu tahun
menikah Dahlia jatuh sakit yang mengakibatkannya meninggal dunia, Galang
merasa sedih yang amat mendalam ditinggalkan Dahlia. Galang mengingat syarat
dan janji yang harus dipenuhi ketika hendak menikahi Dahlia. Dengan penuh
keyakinan dan siap menghadapi tantangan, akhirnya Galang
memberanikan diri untuk masuk ke dalam lubang kubur menemani Dahlia yang sudah
tidak bernyawa, dan memerintahkan kepada penggali kubur Pak Grati dan Pak
Wandra yang bertubuh kekar berkulit hitam dan gagah membawa cangkul siap
memenuhi keinginan Galang untuk memperbesar lubang kubur yang kira-kira cukup
untuk dua orang dengan beratapkan papan kayu jati di atasnya.
Dengan mengucap “Bismillah”
tanpa ragu Galang melompat ke bawah tanah duduk di samping Dahlia yang
terbungkus kain putih, silahkan ditutup atapnya dan berilah lubang udara, kalian
akan mendapatiku baik-baik saja, kata Galang kepada penggali kubur, baiklah,,, Pak Grati dan Pak wandra mengangguk.
Suasana begitu hening, terasa panas
dan gelap. Hanya
ada setitik cahaya rembulan yang menerangi malam dari pancaran lubang kecil
dari atas sana yang dibuat untuk lubang udara, krik,, krik,, krik”hanya
suara jangkrik yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan di luar sana.
“Yaa Allah, setiap yang bernyawa
pasti akan merasakan mati, di dalam kubur sendiri tanpa ada yang menemani, hanya
amalan yang sedikit,
ilmu yang bermanfaat dan doa anak soleh yang akan mengikuti”
Malam pertama Galang di dalam kubur mengalami hal-hal menakjubkan. Dilihatnya tampak di depan sudut tanah terdapat cahaya bersinar terang, seperti rembulan yang menerangi pelita malam, yaa Allah cahaya apa itu, Galang terkesima dan tiba-tiba keluarlah 2 ekor ular dari perut bumi yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, berwarna hitam kekuningan. Anehnya kedua ular itu saling berkelahi menggigit dengan ganasnya entah apa yang diperebutkan ular-ular itu. Di samping ular yang sedang berkelahi terdapat benda yang tergeletak seperti rantai kecil panjangnya kira-kira berukuran 30 centimeter berwarna kuning keemasan, yang tiba-tiba saja jatuh dari atas bersamaan dengan keluarnya kedua ular itu.
Galang memperhatikan ular dengan seksama dan akhirnya 1 di antara ular itu mati karena kalah berkelahi, ular yang masih hidup mengambil rantai dengan cara menggigitnya kemudian rantai di pukulkan pada tubuh ular yang mati “Subhanallah”. Galang keheranan, seketika itu juga ular yang mati hidup kembali kemudian kedua ular itu berkelahi lagi dan salah satu ular tersebut mati kembali. Dengan dipukulkan rantai oleh ular yang masih hidup, ular yang mati kemudian hidup kembali begitu seterusnya. Akhirnya Galang memutuskan untuk membunuh kedua ular itu dengan memukulkan tongkat kayu jati miliknya yang dibawa.
Setelah kedua ular mati diambilnya rantai berwarna kuning keemasan itu, yaa Allah apakah ini
petunjukmu” dalam hatinya berkata. Galang duduk di hadapan Dahlia yang
terbujur kaku sambil
menundukkan
kepalanya dan berdoa.
“Yaa Robbii, demi jiwaku yang ada dalam genggamanmu, jika engkau
memberikan kesempatan kedua kalinya kepadaku untuk hidup bersama kembali, maka
aku akan bahagia dan bersyukur pada-mu atas nikmat ini,
sesungguhnya engkau yang maha pengabul doa”.
Dengan
penuh keyakinan yang kuat,
Galang
mengangkat rantai dengan tangan kanannya. Dia melakukan seperti apa yang sudah
dilakukan oleh ular yang dilihatnya dengan membaca “Bismillah”, lalu
memukulkan rantai 1 kali pada kaki Dahlia. Saat itu juga kakinya yang pucat
kaku berubah menjadi merah dan bergerak jemarinya. Galang tersenyum dan
bersyukur, “Bismillah “ dipukul kannya kembali rantai itu 1
kali ke bagian tubuh Dahlia, kemudian apakah yang terjadi, saat itu juga terdengar, dugh....dugh...dugh,,,,
detak jantungnya berdetak
kembali aliran darah di tubuh Dahlia mengalir seperti tidak ada hambatan sesuai dengan peredaran
darahnya, jemari tangannya
perlahan
bergerak, dengan mata yang berkaca-kaca Galang bersyukur dan untuk ketiga
kalinya dengan mengucap “Bismillah” Galang memukulkan rantainya ke bagian
wajah Dahlia saat itu juga wajahnya
yang pucat berubah menjadi merah terdengar suara hembusan nafas dari hidungnya. Dengan
perlahan Dahlia membuka matanya. Galang menangis dan bersujud syukur
atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. “Subhanallah Alhamdulillah Allahuakbar“.
Galang, apa yang terjadi kenapa
kita berada disini, Dahlia berkata yang kemudian
bangun dari
tidur panjang nya lalu
duduk, mendengar
suara Dahlia,
Galang menoleh dan bangun dari sujudnya lalu di peluk nya Dahlia kemudian menceritakan
kejadian semuanya.
Akhirnya mereka berdua berusaha keluar
dari lubang kubur dengan cara membuat lubang-lubang kecil di area dinding tanah
yang gunanya untuk memanjat ke atas
dan
akhirnya berhasil keluar.
“Alhamdulillah “ucap
keduanya.
Mereka
menuju ke rumah kedua orang tua Galang yang bernama Rangga dan Sari. Tapi sayang, mereka tidak di terima, karena kedua orang tua
Galang menganggap mereka berdua sudah mati sebab kedua nya terkubur beberapa hari dalam satu lubang yang mereka saksikan
ketika hadir di pemakaman Dahlia anak menantunya.
Assalamualaikum,
Ibu ini Galang bu dan ini Dahlia, kami pulang bu,
Waalaikummussallam,
jawab ibu nya yang kemudian kaget matanya yang terbelalak melihat keadaan anak
nya yang
berpakaian lusuh compang-camping bermuka kusam seperti manusia yang berhari-hari
hidup di jalan tanpa arah dan tujuan. “Astagfirullah “ pergilah Galang
jangan ganggu ayah dan ibu mu, kalian sudah mati dan berbeda alam dengan kami,
pergilah nak,, ucap ibu nya sambil menutup pintu rumah nya.
Akhirnya Galang dan Dahlia pergi ke
Hutan Ericaceous atau Hutan Gunung, berjam-jam keduanya berjalan menelusuri
hutan yang masih rawan, sesekali mereka mendengar suara krosak,,,,krosak,bugh...
Seperti ada yang jatuh, sesekali Galang menoleh ke belakang ke kanan dan ke
kiri mengitari Dahlia menjaganya dari hewan buas di hutannamunkekhawatiran mereka
di tenangkan oleh suara kicauan burung-burung yang amat merdu suara nya seperti
seruling yang bersahutan, burung-burung di atas berterbangan indah di pandang
mata, hingga pada suatu tempat di bawah pohon rindang keduanya beristirahat
dengan bergantian berjaga.
Kita istirahat dulu di sini, Galang
merangkul Dahlia dan mengajak nya duduk.
Aku akan mencari air dan buah,
Baiklah Galang.
Galang mendapatkan air dari laut yang
tidak jauh dari tempat istirahat mereka yang di isikan di dalam bambu besar
yang di dapatkan nya di hutan buat mencuci tangan dan wajah kedua nya juga mendapatkan
beberapa buah labu merah segar dan manis pada semak-semak dekat laut untuk di
makan saat itu juga.
Dahlia istirahat dan tidur lah pasti engkau lelah, diriku
akan menjagamu selama dalam istirahatmu.
Kenapa kita tidak istirahat bersama saja.
Tidak Dahlia salah satu dari kita harus ada yang berjaga,
jika nanti ada hewan buas atau yang lain,salah satu dari kita yang berjaga
harus segera membangunkan yang sedang tidur guna nya untuk menghindari petaka
itu.
Tetapi bukankah ada Allah yang akan menjaga kita
berdua.
Betul Dahlia,tapi kita harus tetap berikhtiardalam
segala hal, tidak semata-mata pasrah terhadap keadaan, setelah itu baru kita
berserah diri kepada AllahSwt, atas
penjagaannya.
Baiklah Galang aku akan istirahat terlebih dahulu.
Silahkan Dahlia aku akan menjaga selama istirahat
mu.
Alhamdulillah, terima kasih Galang suami ku.
Dahlia
tidur untuk istirahat dan Galang menjaganya, setelah beberapa jam melepas lelah
nya Dahlia terbangun dari tidur nya
istirahat
pun bergantian saat
nya Galang
yang tidur Dahlia yang menjaga.
Ingatlah pesanku
ketika aku sedang tidur Dahlia, jika engkau melihat hewan buas atau yang lain segeralah
bangunkan aku, jika engkau ingin mengambil air ambillah air laut di dekat sana segera lah kembali dan
berhati-hatilah.
Baiklah Galang.
Galang
tertidur pulas karena lelah.
Namun ketegangan kembali terjadi
saat Galang bangun dari tidur nya tidak melihat Dahlia di dekat nya. Dahlia di
sekap dan di culik oleh sekelompok pemuda kapal pedagang ketika ia hendak
mengambil air di laut. Galang mencari Dahlia menelusuri hutan belantara yang rawan
yang belum terjamah itu, namun tidak ditemukan nya.
Di
tengah perjalanan Galang bertemu dengan seorang kakek yang arif bijaksana bernama
Jubair yang
bertubuh tinggi, bermuka bulat, bermata sipit, berhidung mancung, berkulit
hitam, jenggotnya yang sudah memutih dan tebal, memakai jubah merah, memegang
tongkat bambu dan mamakai ikat kepala berwarna hitam berjalan tanpa alas kaki.
Ada apa nak, mukamu terlihat begitu cemas, kakek
menyapa.
Salam kek, aku sedang mencari istriku bernama Dahlia
yang hilang ketika kami beristirahat di hutan apakah kakek melihatnya?
Kakek
bercerita kepada Galang tentang sebuah kerajaan, yang ada di seberang laut Jawa,
sebuah kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raja Abdullah, kakek memerintahkan
Galang untuk menyeberangi
laut Jawa menemui Raja Abdullah yang mempunyai seorang putri yang cantik bernama
Zulfa yang sedang sakit bertahun-tahun lamanya, tidak ada satu pun tabib yang
dapat mengobatinya.
Pergilah ke arah sana, engkau akan mendapatkan istrimu,
kakek menunjuk ke arah seberang lautan.
Baiklah kek, terima kasih. Sambil
mencium tangan kakek, Galang berpamitan.
Petualangan pun dimulai kembali, dengan menggunakan
perahu dayung yang ada di pinggir laut, Galang
menyeberangi laut Jawa yang luas dan berwarna biru, semilir angin menerpa tubuh, ombak yang besar
tidak menyurutkan semangat untuk mencari separuh tulang rusuk yang hilang, seseorang
yang sangat dikasihi, dengan tekad dan semangat yang kuat seperti baja, serta
yakin bahwa Allah akan mempertemukan dengan belahan jiwanya. Berjam-jam lamanya
mendayung perahu seperti tak kenal lelah, hingga sampailah di kerajaan Raja
Abdullah.
Sementara
itu, Raja Abdullah mengadakan sayembara. Siapapun orang nya yang dapat mengobati
putrinya Zulfa akan di angkat menjadi Raja menggantikan Raja Abdullah yang
usianya sudah cukup tua, dan akan di nikahkan dengan putrinya Zulfa, tapi jika gagal mengobati
maka akan di hukum mati. Tidak ada satu pun tabib yang berani
mengobati Zulfa, karena menurut mereka mengobati nya adalah hal yang sia-sia hanya
mengantarkan nyawa. Tanpa berfikir panjang Galang mengikuti sayembara itu
dengan semangat keberanian nya
yang
tinggi serta penuh keyakinan,
Galang
pun menemui Raja Abdullah.
Salam Raja Abdullah, perkenalkan saya Galang yang baru
tiba dari kampung seberang, saya berniat ingin mengobati putri Zulfa. Galang
menghadap Raja. Apakah engkau sudah berfikirmatang-matang tentang resiko
apabila gagal mengobati. Raja Abdullah meyakinkan Galang. InsyaAllah saya akan melakukan
yang terbaik duhai Raja. Galang memahamkan. Apa
tujuan mu sehingga engkau sampai ke kerajaan ini, tanya Raja. Saya sedang mencari
istri saya bernama Dahlia yang hilang ketika kami berada di dalam hutan.
Jawab Galang. Baiklah aku akan mengizinkanmu mengobati putriku. Sambil
melihat ke arah Galang yang seperti nya penuh keyakinan dapat menyembuhkan putri
nya. Sebelum
saya mengobati putri Raja,
izinkan saya untuk memberikan permintaan, Galang
berkata sambil menundukkan kepala. Baiklah, jawab Raja. Pertama, pada
saat saya sedang mengobati putri Raja, biarkan saya sendiri tanpa harus di
temani kecuali putri. Kedua, jika suatu saat saya di angkat menjadi Raja, saya
ingin pihak kerajaan menjamin kehidupan kedua orang tua saya yang masih hidup. Ketiga,
jika istri saya kembali terimalah dia disini dengan layak dan mendapatkan ilmu
agama. Keempat, saya belum bisa menikahi putri Raja, sebelum bertemu dengan
istri saya Dahlia, itu pun kalau dia mengijinkannya, kalau tidak
diizinkan saya akan menghargai perasaan istri saya atas janji kami berdua,
sebelum melangsungkan pernikahan. Kelima, kuburkanlah saya satu lubang bersama dengan
istri saya Dahlia saat kami wafat kelak.
Raja
diam sejenak.... Dan... Baiklah jika itu keinginanmu ...
Rakyat
yang mendengar kabar bahwa ada seorang pemuda yang ini berusaha mengobati putri
Zulfa, serentak menjadi tegang seperti halnya ingin menyaksikan film horror di layar lebar, semuanya
berkumpul di pelataran kawasan kerajaan menyaksikan dari luar, bagaimana tidak
tegang jika
pengobatan tidak berhasil,
maka
mereka akan menyaksikan kembali hukum pancung sebagai resiko jika gagal
mengobati putri Zulfa, seperti yang di alami oleh beberapa tabib beberapa tahun
silam sebelumnya.
Tibalah
saat nya,
Galang
mengobati putri
Zulfa dalam satu ruangan khusus pengobatan. Raja Abdullah di depan para
penasihatnya merasa
tidak tenang,
terlihat
duduk kemudian berdiri berjalan
ke depan kemudian ke belakang dan duduk lagi. Namun di dalam hatinya selalu
berdoa untuk kesembuhan putrinya.
Setelah meminta izin kepada Raja
Abdullah, Galang memasuki ruang pengobatan kerajaan, dengan mengucapkan “Bismillah”,Galang
lewat dari pintu bagian Utara kemudian menutup dan mengunci pintunya, kreeekk....
Dilihat
nya putri
Zulfa yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan menggunakan pakaian
berwarna putih yang menutupi seluruh bagian tubuh nya kecuali muka dan kedua
telapak tangan nya dengan
menggunakan kerudung merah yang menutupi bagian kepala sampai leher hingga ke
dadanya, tubuh nya begitu
kurus hanya kulit dan tulang yang membungkus karena bertahun-tahun lama
nya terbaring
tak berdaya tanpa sadarkan
diri tanpa ada asupan
makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh nya. Hal ini terjadi semenjak
putri Zulfa ditinggalkan ibu nya
tercinta
yang wafat karena sakit yang di deritanya, putri Zulfa mengalami depresi berat karena
tidak sanggup menerima kenyataan yang mengakibatkan nya mengalami sakit kepala
hebat hingga membuat nya jatuh pingsan bertahun-tahun lamanya. Mukanya yang begitu
pucat, bibirnya yang membiru, terdengar sesak suara nafas nya naik dan turun seperti
suara seruling yang dimainkan anak-anak sangat tidak beraturan.
Galang merasa tidak tega melihat keadaan
nyadan berdo’a kepada Allah Swt, untuk kesembuhan putri Zulfa.
“Yaa Robbi yang maha mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya, Engkau yang memiliki
segala macam penyakit dan hanya engkau lah yang dapat menyembuhkan
nya, sembuh kan lah
setiap jiwa yang sedang sakit dan bahagia
kan lah orang-orang
yang sabar. Sesungguhnya, setiap penyakit pasti ada obat nya kecuali penyakit tua,
Amiin”.
Galang
mengeluarkan rantai berwarna kuning keemasan yang masih tersimpan yang di dapatkan nya ketika
berada di dalam kubur bersama Dahlia.
“Bismillah”Galang
memukulkan rantainya 1 kali ke tubuh putri Zulfa, “Subhanallah” Galang takjub,
seketika itu juga atas
izin Allah Swt, tubuh putri Zulfa yang tadinya kurus berubah menjadi berisi
daging, kulit nya yang pucat saat itu menjadi berwarna merah dan tampak gemuk yang
terlihat dari telapak tangan nya, mukanya yang tampak pucat juga berubah
menjadi merah, pipi nya yang tadinya cekung kini berwarna putih kemerahan dan
gembul, bibirnya yang biru kini kembali merah kecoklatan akan tetapi masih
belum sadar kan diri. Dengan. “Bismillah” untuk kedua kali nya Galang memukulkan
rantai pada tubuh nya 1 kali lagi seketika itu juga jari-jari tangan dan
kakinya bergerak, “Bismillah” untuk ketiga kalinya Galang memukulkan rantai
ke tubuh Dahlia satu kali terakhir kemudian apa yang terjadi, putri Zulfa mulai
membuka matanya, bibirnya
mulai tersenyum,
tubuhnya
menjadi segar dan sehat seperti tidak tampak terlihat sakit sebelumnya. “Alhamdulillah
“ Galang merasa gembira melihat kesembuhan putri Zulfa dan takjub terhadap
kekuasaan Allah SWT,
serta selalu bersyukur pada nya. Allahu Akbar tiada daya dan
upaya selain kekuatan Allah SWT. Laahawlaa wallaa kuwataa illaa
billaah...
Tanpa berbicara kepada putri Zulfa
demi menjaga kehormatan nya, Galang segera keluar dari ruang pengobatan
kerajaan.
Kreeekkk.... Galang
membuka pintu keluar
dari ruangan.
Dengan tergesa-gesa seperti halnya
seseorang yang ingin memasuki surga dan mendekati Galang, serta
tidak sabar rasanya mendengar kabar tentang keadaan putrinya, Raja Abdullah segera
bertanya kepada
Galang.
Duduk dan tenang lah duhai Raja Abdullah, minum lah air putih
terlebih dahulu, Galang memberikan segelas air putih
yang diambil nya dari meja yang tidak jauh dari singgasana Raja.
Glek.., glek..glek...Raja
Abdullah minum air putih sambil memandang ke arah Galang dengan penuh makna.
Rakyat
yang ada di luar pun terdengar bising seperti suara lebah berkerumun saling bertanya-tanya
perihal keadaan putri Zulfa.
Duhai Raja Abdullah, saya berterima kasih atas di
izin kan nya berikhtiar mengobati putri Zulfa, juga saya memohon maaf jika
banyak kekurangan dalam pengobatan. Saya tidak punya kuasa untuk menyembuhkan
putri Zulfa, tapi Allah-lah yang berkehendak menyembuhkan segala macam
penyakit. Silahkan Raja Abdullah melihat sendiri keadaan putri Zulfa. Dengan
tenang sambil tersenyum Galang berkata.
Raja
Abdullah segera beranjak dari tempat duduk nya menuju ke ruang pengobatan putri
Zulfa.
Kreeekk..., pintu
terbuka.
Perlahan, Raja Abdullah melangkahkan
kaki nya menuju
putrinya, dilihat nya.
Zulfa,,, engkau kah itu nak..,dengan
bibir bergetar Raja tampak tidak percaya dan keheranan.
Zulfa
yang sedang berbaring membuka mata nya dan menoleh melihat ayah nya dengan
senyuman.
Ayah...Zulfa berkata
sambil memandang ayah nya.
Melihat
putrinya berkata yang sudah sejak lama ia rindukan perkataannya dan sembuh dari
sakit serta tampak ceria, Raja Abdullah seperti tidak percaya dan sangat
terharu bercampur gembira yang bukan kepalang hingga membuatnya jatuh pingsan
tidak sadarkan diri selama 7 hari lamanya, tapi hal ini tidak lah mengapa jika Raja sudah tenang
maka ia akan tersadarkan.
ketika
Raja Abdullah terbangun dari pingsan nya dia sangat gembira dan berlari ke luar
mengabarkan kesembuhan putrinya Zulfa kepada rakyat nya serta membagikan
separuh dari hartanya untuk disedekahkan tanda syukur kepada Allah Swt.
Akhir
nya Galang di angkat menjadi Raja menggantikan Raja Abdullah.
Galang
adalah seorang Raja yang arif bijaksana. Selama masa kepemimpinan
nya,
rakyat
merasa aman, sejahtera, adil dan makmur.
Galang
selalu mengunjungi kedua orang tuanya di desa Pandansari, kampung
tempat kelahiran nya, tanpa memakai baju kerajaan dan tanpa bercerita kalau dia
menjadi seorang Raja. Galang hanya bercerita tentang hilang nya Dahlia kepada
kedua orang tuanya, ayah nya bernama Rangga ibu nya bernama Sari, yang kini
tampak tua dan letih kulitnya yang mulai keriput matanya yang mengecil dan
tubuh keduanya terlihat membungkuk.
Ayah ibu ini Galang pulang, sambil
melihat dan memeluk ibu nya, benarkah ini Galang anakku, dengan tangan
keriputnya ibu memegang kedua pipi Galang kemudian duduk di kursi, kemana saja engkau nak, kami
merindukanmu, dengan punggung yang terlihat
membungkuk jalan tertatih-tatih.
ayah
nya datang
dari dapur membawa segelas air putih untuk Galang, kemudian menarik kursi tua
yang terbuat dari kayu jati lalu duduk sejajar dengan ibu nya, maafkan kami nak,
yang telah mengusirmu dan menganggapmu dan isterimu telah tiada, dengan
bibir bergetar ibu nya berkata.
Tidak lah mengapa bu, yang terpenting
bagiku adalah ayah dan ibu tetap sehat dan selalu beribadah, dan jangan lupa
doakan lah semoga Dahlia baik-baik saja dan segera kembali, Galang
berkata sambil memeluk ibu nya. Amiin InsyAllah nak, Dahlia pasti kembali
bersabar lah, jawab ayah nya dengan pandangan kosong.
Setelah melepas rindu dengan kedua orang
tuanya,
Galang
berpamitan untuk kembali ke kerajaan, Galang berkehendak ingin mengajak ayah dan
ibu nya tinggal
bersama nya, tapi
sayang keduanya
tidak mau, mereka ingin tetap tinggal di kampung kelahirannya yang di cintai, Galang
bersabar mengikuti keinginan kedua orang tuanya. Dengan berat hati memeluk
dan meneteskan air mata,
Galang
pun pergi meninggalkan keduanya tanpa di temani dengan siapa pun. Galang
sendiri menyeberangi laut dengan perahu dayung.
Sampai nya di kerajaan Galang
mengutus beberapa pelayan terpilih laki-laki dan perempuan setengah baya untuk
mengurus segala keperluan dan kebutuhan serta tinggal bersama kedua orang tuanya,
dengan menggunakan kapal kerajaan serta membawa bekal sandang dan pangan juga
uang yang kira-kira sudah mencukupi kebutuhan hidup untuk beberapa tahun ke
depan.
Walau jauh dari kedua orang tuanya
namun Galang dekat dengan yang maha kuasatidak lupa ia selalu berdo’a buat ayah
dan ibu nya tercinta.
“Allahummargfirliy waliwalidayyaa warhamhummaa kammaa
robbayaa nishorgiirooh”.
Yaa Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang
tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku di waktu kecil.
Amiin.
Selama masa kepemimpinan Raja
Abdullah, tiap tahun nya
selalu
mengadakan razia kapal pedagang yang tidak mengizinkan bagi perempuan memasuki
kapal demi
untuk menjaga dari perbuatan maksiat yaitu perzinahan, jika hal itu terjadi
maka seluruh awak kapal akan mendapatkan hukuman, Galang melanjutkan peraturan
itu.
Hingga pada
suatu saat Galang mengadakan pemeriksaan pada setiap kapal pedagang di
pelabuhan pulau Jawa. Di
luar dugaan ternyata ditemukan lah
satu
kapal pedagang yang di dalam nya
terdapat
seorang perempuan, yang bertubuh tinggi memakai baju kurung hijau yang terlihat
lusuh dengan kerudung yang panjang sampai menutupi hampir semua bagian tubuh
nya dan mamakai cadar
yang terbuat dari sobekan pakaian nyasehingga sulit untuk dikenali, dan tampak terlihat
lelah yang amat sangat dengan mata yang sembab lagi kemerahanm seperti nya perempuan itu banyak menangis,
kemudian di bawalah kehadapan Galang, perempuan itu menghadap
sambil menundukan kepala nya
di
sertai isak tangisnya yang tampak begitu dalam terdengar.
Tenanglah, aku
tidak akan menghukummu,
jika segala sesuatu ini tidaklah engkau
kehendaki, coba jelaskan kepadaku bagaimana awal mula engkau bisa berada
dalam kapal itu dan dari mana asalmu, dengan
santun Galang berkata, huuks...,
uuuks,,, hukss,,,, perempuan itu tidak menjawab, kata-kata
Galang membuatnya semakin menangis dan terisak tersungkur jatuh kebawah, dan
terucap Yaa Allah ampunilah dosa ku...
Ra,,,,nu,,,pane,,,
dengan tersendat perempuan itu berkata.
Mendengar nama
kampung yang diucapkan perempuan itu maka tiba-tiba Galang tersentak kaget, seperti ada petir di
siang hari yang menyambar dirinya bibirnya bergetar, detak jantung nya semakin
cepat, tubuhnya
tiba-tiba lemas seperti tiada tulang dan terlihat banyak nya keringat
dingin yang keluar dari tubuhnya
terutama
di bagian wajah seperti
embun di pagi hari yang menetes deras tiada henti, fikirannya menjadi buyar
tidak menentu seperti ada bayang-bayang yang mengingatkan dia terhadap seorang
gadis idamannya yang
sudah menjadi istri nya,
tidak
lain itu adalah Dahlia.
Galang
memperhatikan dengan seksama perempuan tersebut dilihat nya bola matanya yang biru,
kulit nya yang putih berkilau namun sekarang tampak kurus terlihat tulang
jari-jari tangan nyayang menonjol keluar, dengan mata yang berkaca-kaca serta
kerinduan yang amat mendalam dan merasa yakin kalau perempuan itu adalah
istrinya Dahlia yang dia nikahi beberapa tahun silam, dengan mulut gemetar
Galang menyebut nama Dahlia.
“Dah,,, li,,
ah,, “...
Mendengar Galang menyebut nama
Dahlia perempuan itu diam
dari isak tangisnya mendongakkan kepala dengan perlahan dan melihat wajah
Galang, dengan tersendat-sendat serta bibirnya yang gemetar kemudian
berucap....
“Ga,, la,,
ng”....
Saat
itu juga suasana menjadi haru dengan derai air mata yang tidak mampu terbendung
lagi jatuh seperti tumpahan air hujan yang begitu deras membasahi bumi, keduanya
saling berpelukan erat yang begitu lama karena menahan kerinduan yang amat mendalam.
Sementara itu Dahlia menceritakan perihal kejadian dirinya di
hutan ketika ia hendak mengambil air laut untuk kebutuhan mereka berdua. Tiba-tiba ia di sekap
dari belakang oleh beberapa orang pemuda yang tidak di kenal yang sedang
berjalan-jalan di hutan berburu hewan, ternyata mereka adalah para pedagang
yang biasa mencari hewan di hutan untuk di jual, mulutnya di bius hingga tak
sadarkan diri kemudian dimasukkan ke dalam kapal pedagang mereka yang di labuhkan
di sebelah Utara laut sehingga Dahlia tidak mengetahui nya, serta tidak sempat
membangunkan Galang yang sedang tertidur pulas karena lelah dalam perjalanan, Dahlia
pun tidak berdaya tidak mampu melarikan diri hingga akhir nya menjadi korban
nafsu bejat para pemuda kapal pedagang, ia di gilir untuk memenuhi nafsu birahi
mereka, seperti
halnya seorang pelacur selama bertahun-tahun lama nya.
Mendengar
itu Galang terisak menangis semakin keras dan berkata, seharusnya aku tidak
tidur pada saat itu, seharusnya aku menjagamu dengan baik dan membiarkan kelelahan
ini tetap ada demi bersamamu, Dahlia maafkan lah aku yang tidak dapat menjagamu
dengan baik. Yaa Allah hukum lah insan yang tidak berdaya ini, dan
ampunilah kesalahan ku yang tidak amanah ini,sambil
menangis Galang meratapi dirinya, tidak Galang ini salahku yang sudah
mengambil air di laut sendiri tanpa penjagaanmu hingga terjadilah perkara ini, kata
Dahlia sambil memegang muka Galang dengan tangan putih nya yang lembut, tidak
Dahlia ini salahku,....Shssssssstttttt...... Dahlia menutup mulut Galang
dengan satu jari telunjuknya kemudian memeluknya kembali.
Rakyat dan beberapa pengawal yang
menyaksikan semua itu ikut menangis dan terharu seperti sedang menyaksikan sebuah
film layar lebar yang berjudul percintaan dua sejoli yang bertemu setelah
lamanya berpisah dan saling melepaskan kerinduan yang amat mendalam.
Galang bercerita tentang pengalaman
nya menjadi Raja,
kemudian
Dahlia dibawa nya pulang ke kerajaan, Raja Abdullah dan putrinya Zulfa
menyambut kedatangan Dahlia dan menerima nya dengan penuh kasih sayang.
Akhirnya Galang beserta istrinya Dahlia
kembali hidup rukun lagi bahagia, di kerajaan Dahlia terus belajar ikut mendalami ilmu agama yang kemudian diamalkannya
pada kehidupan sehari-hari juga untuk bekalan di akhirat kelak.
Sementara itu, Galang
memberikan arahan nasehat bagi para pemuda-pemuda pedagang itu untuk
bertaubat serta
menghukum mereka semua atas kesalahan dan dosa yang di lakukan mereka yaitu
dengan hukuman rajam yang
tujuan nya untuk membersihkan diri dari dosa yang mereka perbuat jika bertaubat
juga berefek jera bagi para pelaku nya supaya tidak ada lagi kejadian yang mengakibatkan
banyak korban berjatuhan selanjutnya, semua pemuda itu akhir nya di hukum
dengan cara satu per satu mereka dibenamkan separoh badan nya sampai dada kemudian dilempari batu
oleh orang-orang sekitar yang melihat nya sampai ajal merenggut nyawa mereka.
Keadaan suasana di kerajaan menjadi
terharu kembali, setelah beberapa bulan Dahlia pulang tiba-tiba Galang jatuh sakit
yang kemudian membawa nya
pada
kematian, iyaa Galang telah wafat dan berpulang ke Rahmat Allah, semua rakyat
dan orang-orang di kerajaan merasa sangat sedih mereka kehilangan sosok Raja
yang sangat dermawan dan juga santun serta tegas dalam menjalankan hukuman
dengan seadil-adilnya. Dahlia yang mendengar kematian Galang, tiba-tiba kaget yang
mengakibatkan nya jatuh pingsan sampai-sampai tidak sadar kan diri yang juga mengantarkannya
pada kematian.
Akhirnya Galang
dan Dahlia dikuburkan satu lubang bersama hal ini sesuai dengan permintaan Galang
ketika masa hidupnya, kepada Raja Abdullah ketika ia hendak mengobati putri Zulfa,
dan juga untuk memenuhi janji nya kepada Dahlia ketika hendak menikahinya
yaitu, “Sehidup Semati”...
“Duhai yang maha
memiliki cinta sejati, engkau menganugerahkan cinta kepada manusia yang apabila
telah datang rasa itu, maka kami pun harus menjaga, memelihara dan menguasai
cinta itu dengan penuh rasa syukur dan kehati-hatian, kami berlindung kepadaMu dari cinta-cinta palsu
yang bermodus nafsu yang akan merusak dan menodai cinta suci dari yang Maha Suci, kesuksesan
terbesar bagi kami adalah berjumpa denganMu di surga bersama
dengan orang-orang yang kami cintai dan Engkau kasihi, oh. Duhai
pemilik cinta yang amat sangat kami rindukan izinkan kelak berjumpa denganMu”.
“Alhamdulillah”.
TAMAT
*Penulis tinggal di Yogyakarta. Memiliki motto : Terus berkarya
Editor : Sapni Alpionika



