Oleh: Tri S, S.Si*
Wabah corona sudah
menghantui di lebih dari 200 negara-negara di dunia sejak diumumkannya kasus
pertama di bulan Desember 2019. Berbagai dampak ditimbulkan akibat dari wabah
ini termasuk perekonomian dunia. Raksasa ekonomi kapitalis dunia yaitu Amerika,
melaporkan mengalami pertumbuhan ekonomi minus 32,9 persen pada kuartal II
tahun 2020 setelah sebelumnya di kuartal I sudah mengalami pertumbuhan minus 5
persen. Tak ketinggalan negara-negara maju lainnya seperti Jerman, Inggris,
Perancis, Jepang, Singapura dan yang terbaru negara tetangga Indonesia yaitu
Filipina mengumumkan telah mengalami resesi setelah mengalami pertumbuhan
ekonomin minus 16,5 persen pada kuartal II tahun 2020.
Indonesia sendiri sebagai salah satu negara terdampak corona juga mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yaitu minus 5,32 persen di kuartal II tahun 2020, terburuk sejak 1999 dan diprediksi tetap minus di kuartal selanjutnya.
Sebenarnya, kerapuhan sistem ekonomi kapitalis telah sering menyebabkan ekonomi dunia terguncang. Ini bisa kita lihat dari sejarah panjang krisis moneter dunia sejak diterapkannya sistem kapitalis hingga saat ini menjadi sistem yang diadopsi di hampir seluruh belahan dunia. Mulai dari hiperinflasi, krisis minyak, The Great Depression, krisis moneter Asia Tenggara hingga kasus krisis Subprime Mortage yang merontokkan banyak lembaga keuangan besar di Amerika Serikat.
Apa itu resesi? Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika PDB (Pendapatan Domestik Bruto) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, pendapatan individu, manufaktur & penjualan ritel. Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).
Resesi akan senantiasa berulang selama sistem yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Setidaknya ada lima hal yang menjadi penyebab berulangnya resesi ekonomi di dunia, yaitu :
1. Sistem perbankan
dengan praktek ribawinya.
2. Berkembangnya
sektor ekonomi non riil
3. Utang luar negeri
yang menjadi tumpuan pembiayan pembangunan dan infrastruktur
4. Penggunaan sistem
moneter yang tidak disandarkan pada emas dan perak
5. Liberalisasi atau
swastanisasi sumber daya alam.
Hal-hal inilah yang berperan dalam mendukung eksistensi ekonomi kapitalis dan bersinergi untuk menutupi cacat bawaan sistem ekonomi kapitalis yang rapuh dan mudah terguncang. Karena itu, sistem seperti ini tidak seharusnya diterapkan dan terus dipertahankan.
Saatnya Kembali
kepada Sistem Ekonomi Islam
Satu-satunya cara
untuk menyelesaikan resesi ekonomi ini secara tuntas adalah dengan
mengembalikan penerapan sistem ekonomi Islam di tengah-tengah kehidupan kaum
Muslimin. Terkait faktor penyebab resesi di atas, sistem ekonomi Islam telah
memberikan solusi dan pernah diterapkan selama kurang lebih tiga belas abad
lamanya. Hasilnya adalah kemakmuran dan kesejahteraan yang dirasakan; bukan
hanya oleh kaum Muslimin, tetapi juga oleh seluruh umat manusia yang ada pada
saat itu.
Penerapan Sistem ekonomi Islam akan menghasilkan perekonomian yang stabil, jauh dari krisis, tumbuh secara hakiki dan berpengaruh riil pada taraf hidup masyarakat. Sistem ekonomi Islam menghilangkan dan mengatasai lima faktor utama resesi dan ketidakstabilan sistem ekonomi kapitalis itu. Islam dengan tegas mengharamkan riba dengan segela bentuknya. Allah menegaskan:
Padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (TQS al-BAqarah [2]: 275)
Al-Quran menyebutkan, orang yang makan riba tidak bisa berdiri tegak. Hal itu mengisyaratkan sistem ekonomi yang dibangun berasaskan riba tidak akan tegak stabil. Sebaliknya, akan terus goyang bahkan krisis. Maka dengan menghilangkan riba, perekonomian akan stabil. Lebih dari itu perekonomian akan berjalan adil, fair dan jauh dari kezaliman, eksploitasi dan penjajahan. Sebab riba sebagai alat kezaliman, eksploitasi dan penjajahan dihilangkan.
Di samping
menghilangkan riba, sistem ekonomi Islam juga meniadakan sektor non riil.
Dengan begitu, semua perputaran uang akan berdampak langsung pada berputarnya
roda ekonomi riil. Pada gilirannya akan berdampak langsung dalam kehidupan
ekonomi riil masyarakat. Pertumbuhan yang dihasilkan pun akan menjadi
pertumbuhan yang riil dan hakiki, tidak lagi semu. Pertumbuhan akan bisa
dilihat pada peningkatan kemakmuran rakyat.
Kestabilan ekonomi ini akan diperkokoh lagi dengan sistem moneter Islam dengan pemberlakuan mata uang yang berbasis emas dan perak, atau dinar dan dirham. Mata uang ini memiliki nilai instrinsik sehingga nilainya stabil. Selain itu, mata uang difungsikan benar-benar sebagai alat tukar, bukan sebagai komoditi yang bisa menjadi bulan-bulanan para spekulan. Dengan demikian nilai tukarnya akan stabil.
Semua itu akan menghasilkan kemakmuran bagi masyarakat. Kemakmuran ini akan makin besar dengan pengelolaan SDA sesuai syariah. SDA yang menjadi kebutuhan bersama masyarakat, seperti air, padang rumput, hutan, barang tambang dan energi; serta SDA yang tabiat pembentukannya tidak bisa dimiliki secara pribadi seperti sungai, laut, selat, danau, dsb; semua itu ditetapkan sebagai milik umum. Karena itu tidak boleh diprivatisasi dan harus dikelola negara. Dan hasilnya secara keseluruhan dikembalikan kepada rakyat.
Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit
(TQS Thaha [20]: 124)
Sudah terlihat fajar kemenangan secara pasti menuju waktu subuh dan terus melaju menuju terbitnya mentari kejayaan Islam dengan pertolongan Allah SWT. Pada saat itu bergembiralah kaum mukmin dengan pertolongan Allah SWT.
Editor : Khairun Nisa
Panggabean



