Oleh: Siti Maryam
Berdasarkan data nasional, kasus konfirmasi positif Covid-19 per
Minggu (6/9) sebanyak 194.109 kasus. Dari angka tersebut, sebanyak 138.575
orang dinyatakan sembuh, dan 8.025 orang meninggal dunia.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan bahwa
langkah penanganan Covid-19 saat ini adalah menerapkan 3M (memakai masker,
mencuci tangan, menjaga jarak) dan 3T (testing, tracking, dan treatment).
Menurutnya hal ini tidak mudah dilakukan.
“Mudah untuk dikatakan tapi sulit dilaksanakan karena tergantung
dari sistem politik, demografi dan sosial budaya di setiap negara,”
Tito menyebut negara dengan sistem otokrasi dan oligarki yang
terpusat pada satu atau sekelompok orang akan lebih mudah menangani Covid-19. “Seperti
China dan Vietnam mereka menangani dengan lebih efektif karena mereka
menggunakan cara-cara yang keras karena pemegang kedaulatan bukan rakyat, bukan
demokrasi,”
Sementara itu di negara-negara dengan sistem demokrasi tantangannya
akan lebih sulit. Namun jika di dalam negara demokratis didominasi oleh middle class maka akan lebih mudah.
Pasalnya didominasi oleh kemampuan intelektual yang menyadari bahwa protokol
kesehatan penting.
Sebaliknya jika mayoritas low
class tantangan penanganannya akan lebih sulit. Pasalnya banyak yang kurang
teredukasi dan kesulitan secara ekonomi.
Bagaimana cara Islam menangani kondisi wabah penyakit yang menjadi
epidemi? Karena Islam bukan hanya agama ruhiyah yang mengajarkan ibadah, tapi
Islam adalah ideologi yang memberikan petunjuk kehidupan, termasuk penanganan
bencana wabah penyakit.
1. Setiap muslim wajib mengimani bahwa wabah penyakit adalah bagian
dari musibah yang diberikan Allah SWT.
Penyakit adalah bagian dari musibah yang datang dari-Nya. Patut
dijauhkan sikap mengatikan musibah wabah penyakit dengan kisah-kisah takhayul
atau khurafat. Wabah penyakit adalah bagian dari kuasa Allah Azza wa Jalla.
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang
telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada
Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (TQS. At-Taubah: 51).
Dengan keimanan ini maka setiap muslim tidak akan tergelincir pada
dosa besar syirik, dan sebaliknya akan semakin kuat keimanan pada Allah
sekaligus menumbuhkan sikap tawakal pada-Nya.
2. Menumbuhkan optimisme bahwa wabah penyakit akan mendatangkan
pahala dan menaikkan derajat bila disikapi dengan sabar
Dengan keimanan yang kokoh, seorang muslim akan bersabar menerima
ujian penyakit. Ia meyakini bahwa kesabaran itu akan mendatangkan kebaikan;
menggugurkan dosa dan menaikkan derajat.
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ
وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى
الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit,
atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya
melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya. (HR.
Al-Bukhari Muslim).
Juga sabda Nabi SAW.
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji. (HR.
Ath-Thabrani).
3. Tidak mencaci maki penyakit demam
Selain menuntun kaum muslimin untuk bersabar dalam menghadapi rasa
sakit, Nabi SAW. juga memberikan nasihat untuk tidak mencela demam yang menimpa
diri mereka. Demam, pesan Nabi, berfaedah menggugurkan dosa dan kesalahan.
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjenguk Ummu As-Saaib atau Ummul Musayyib.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم
دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا
أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ:
اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى،
فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ
الْحَدِيْدِ.
“Bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib),
kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau
wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang
tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah kamu
mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas
besi mampu menghilangkan karat’. (HR. Muslim no. 2575)
4. Berobat dengan pengobatan yang halal
Islam tidak mengizinkan seorang hamba pasrah tanpa usaha saat sakit.
Rasulullah SAW. menganjurkan kaum muslimin untuk berobat dengan zat yang halal,
dan ini hukumnya adalah sunnah. Namun menjadi wajib manakala berkaitan dengan
ikhtiar mempertahankan hidup. Sabdanya:
إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ
فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah
kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi)
Tentang anjuran berobat – dan bukan sebagai kewajiban – telah datang
dari riwayat Imam Bukhari tentang seorang wanita bernama Su’airah dari Habsyah
yang mendatangi Nabi SAW. dan meminta kesembuhan.
Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang
menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:
“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka
tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasululloh
shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ
وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ
“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika
engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”
Maka ia berkata:”Aku akan bersabar.” Kemudian ia
berkata:”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka,
maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau
shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)
5. Menghilangkan faktor penyebab penyakit
Selain mengobati, langkah yang tak kalah penting adalah
menghilangkan peluang datangnya agen penyakit yang menjangkiti manusia. Kaum
muslimin dan Daulah Khilafah beserta seluruh warga negara harus menghilangkan
berbagai kebiasaan, makanan, minuman, dan lingkungan yang bisa menjadi penyebab
munculnya agen-agen penyakit. Maka sanitasi menjadi wajib, baik di tingkat
pribadi ataupun masyarakat.
Dalam kasus Virus Corona yang diduga datang dari kebiasaan menyantap
hidangan dari kelelawar, maka kebiasaan mengkonsumsi jenis binatang ini harus
dicegah. Bagi kaum muslimin, hukum memakan kelelawar adalah haram. Sesuai sabda
Nabi SAW:
لاَ تَقْتُلُوا الضَّفَادِعَ فَإِنَّ
نَقِيقَهَا تَسْبِيحٌ وَلاَ تَقْتُلُوا الْخَفَّاشَ فَإِنَّهُ لَمَّا خَرِبَ
بَيْتُ الْمَقْدِسِ قَالَ : يَا رَبُّ سَلِّطْنِى عَلَى الْبَحْرِ حَتَّى
أُغْرِقَهُمْ
Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, ia berkata, “Janganlah kalian membunuh katak, karena
suaranya adalah tasbiih. Jangan kalian pula membunuh kelelawar, karena ketika
Baitul-Maqdis roboh ia berkata : ‘Wahai Rabb, berikanlah kekuasaan padaku atas
lautan hingga aku dapat menenggelamkan mereka” (HR. Al Baihaqi dalam Al-Kubraa 9:
318 dan Ash-Shughraa 8: 293 no. 3907, dan Al-Ma’rifah hal. 456. Al Baihaqi
berkata bahwa sanad hadits ini shahih)
Bila dalam agama warga negara non muslim ada kebolehan memakan
daging tersebut, maka Daulah Khilafah berhak melarangnya bila ternyata terbukti
atau diduga kuat menimbulkan kemudlaratan – seperti munculnya wabah penyakit –
pada masyarakat.
6. Tetap optimis dan haram meminta kematian
Virus Corona membawa penyakit berbahaya dan mematikan. Meski
demikian setiap muslim terlarang putus harapan apalagi mengharap kematian
manakala tertimpa penyakit berat sekalipun.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَوْلاَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَنْ نَدْعُوَ بِالْمَوْتِ لَدَعَوْتُ بِهِ
“Jika bukan karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang kita untuk berdoa meminta kematian, niscaya aku akan memintanya.”
(HR. Bukhari no. 7234)
Untuk mereka yang ditimpa penyakit berat seperti Virus Corona ini
tetap bersabar, optimis dan dianjurkan membaca doa yang diajarkan Nabi SAW.:
لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ
المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ
فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْرًا لِي،
وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لِي
“Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati
karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya
dia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan
matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.” (HR. Bukhari no. 6351, 5671 dan
Muslim no. 2680)
7. Mengembangkan teknologi kedokteran dan medis yang mutakhir serta
berkhidmat pada kemanusiaan
Ketika kapitalisme menjadikan kesehatan dan nyawa sebagai barang
dagangan, dengan makin mahalnya biaya layanan kesehatan, harga obat-obatan,
Islam justru memerintahkan Daulah Khilafah dan kaum muslimin untuk berkhidmat
melayani kesehatan umat manusia. Nabi SAW. pernah diberi hadiah seorang dokter
oleh Raja Mesir Muqauqis, lalu oleh Beliau dokter itu dipekerjakan untuk
melayani kesehatan kaum muslimin. Ini menjadi dalil bahwa negara berkewajiban
melayani kesehatan umat secara Cuma-Cuma.
Di masa Daulah Umayyah, pelayanan kesehatan meningkat pesat. Salah
satu rumah sakit terkemuka bernama Rumah Sakit an-Nuri dibangun pada tahun 706
M oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik dari Dinasti Umayyah. Khalifah
Walid juga meminta tempat perawatan khusus untuk penderita lepra agar tidak
menular. Saat kepemimpinan Khalifah Nuruddin Zinki pada tahun 1156 M, rumah
sakit ini diperluas dan diperbesar. Ia dilengkapi dengan peralatan paling
modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada masa berikutnya
juga dibuat rumah sakit keliling yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain
untuk melayani masyarakat.
Tersedianya pelayanan kesehatan yang canggih, profesional dan
memadai bagi warga menjadi amat penting untuk mencegah berkembangnya wabah
penyakit dan mengobati warga.
8. Mengisolasi wilayah wabah, mencegah warga keluar dan masuk
Daulah Khilafah harus menerapkan kebijakan isolasi atas suatu
wilayah yang telah menjadi epidemi. Hal ini telah diajarkan oleh Baginda Nabi
SAW. bahwa bila pada suatu wilayah telah terjadi wabah penyakit, maka warga
yang di dalam tidak boleh keluar, sedangkan yang di luar tak boleh memasukinya.
Sabda Beliau:
« الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا
مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ
بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَفِرُّوا مِنْهُ »
Wabah Tha’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Alloh Azza Wajall
yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika
kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tha’un, maka jangan sekali-kali
memasuki daerahnya, jika Tha’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian
disana, maka janganlah kalian keluar darinya.
Maka kebijakan pemerintah Indonesia adalah gegabah karena beberapa
hari lalu tetap mengizinkan warga asal Tiongkok masuk ke Tanah Air. Padahal
negara-negara lain telah memberlakukan travel warning, serta melarang orang
yang datang dari Cina memasuki negara mereka.
Alasan pemerintah karena telah memasang alat pemindai suhu badan (thermal scanner) disejumlah bandara
internasional untuk mendeteksi kemungkinan penumpang yang mengidap virus
Corona. Padahal alat pemindai suhu tubuh diduga hanya efektif pada individu
yang sudah menunjukkan gejala positif terinfeksi, sedangkan orang yang belum
menunjukkan gejala tersebut tak akan terdeteksi oleh thermal scanner tersebut. Dua pasien pengidap virus Corona lolos
dari thermal scanner di Prancis,
karena saat naik pesawat tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus n-Cov
tersebut.
Maka saran dari beberapa pihak, termasuk Ombudsman dan Ketua MPR
agar pemerintah melarang sementara kedatangan warga asal Tiongkok, menjadi
mutlak harus dilakukan. Janganlah pertimbangan devisa hasil kunjungan
wisatawan, atau kepentingan investasi membuat pemerintah membuat kebijakan yang
membahayakan warganya sendiri.
Melihat kejadian demi kejadian sejumlah epidemi global seperti virus
Corona, SARS, Ebola atau Anthrax, terlihat bila umat membutuhkan kehadiran
Daulah Khilafah untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal itu karena dikarenakan
perlu teknologi kedokteran dan farmasi yang canggih dan berkhidmat pada
pelayanan umat.
Khalifah bersama aparaturnya, dan umat Muslim, telah diwajibkan
untuk mencegah mudlarat dan menciptakan kemaslahatan bagi manusia, termasuk
dalam bidang kesehatan. Semua itu dilakukan atas dorongan kemanusiaan (qimah
al-insaniyyah), sehingga Daulah Khilafah akan menolong semua bangsa dan negara
tanpa memandang status agama mereka. Sebagaimana dahulu berkali-kali dalam
sejarah Daulah Khilafah menolong bangsa-bangsa asing seperti mengatasi
kelaparan di Irlandia di tahun 1845 dengan mengirimkan makanan dan uang sebesar
10 ribu sterling, sedangkan Kerajaan Inggris yang menguasai Irlandia hanya
memberikan bantuan sebesar seribu sterling.
Negara-negara kapitalis hari ini juga berlaku kejam dan kapitalistik
pada negara-negara lain, terutama negara-negara lemah. Banyak dugaan
negara-negara miskin menjadi praktek percobaan senjata kimia atau biologis
seperti Anthrax milik militer Amerika Serikat, atau Ebola yang ditengarai
dikembangkan militer Uni Soviet di akhir tahun 80-an. Virus Corona yang mewabah
sekarang diduga kuat oleh intelijen Israel bocor dari laboratorium militer
rahasia milik pemerintah komunis Cina.
Selain itu, negara-negara kapitalis Barat bersama
perusahaan-perusahaan farmasi kapitalis kerap menjadikan masyarakat di negara
dunia ketiga sebagai kelinci percobaan berbagai obat-obatan yang diproduksi
perusahaan-perusahaan kapitalis farmasi Barat. Misalnya pemerintah Nigeri
menuntut perusahan farmasi asal Amerika
Serikat, Pfizer, dengan tuduhan melakukan eksperimen medis tahun 1996 pada
anak-anak yang mengakibatkan 11 orang tewas. Nigeria menuntut ganti rugi 7
miliar Dollar AS.
Bahkan seringkali wabah penyakit yang berkembang di negeri-negeri
dunia ketiga itu diambil sampelnya untuk kemudian mereka buat vaksin, lalu
mereka jual ke negara-negara miskin tersebut untuk mengambil keuntungan
berlipat-lipat. Inilah penjajahan Barat terhadap negara dunia ketiga dalam
bidang medis dan farmasi.
Maka umat manusia memang membutuhkan kehadiran Daulah Khilafah yang
akan menerapkan syariat Islam, dan menciptakan keamanan, kesejahteraan dan
keamanan bagi seluruh umat manusia. In sha Allah.
Editor: Fadillah



