Judul Buku: Api
Tauhid
Penulis:
Habiburrahman El Shirazy
Nama Penerbit:
Republika
Cetakan I:
November 2014
Cetakan XVI:
Januari 2018
Tebal Halaman: 587
Profil Penulis
Novelis
nomor 1 Indonesia yang dinobatkan oleh Insani Universitas Diponegoro 2008 serta
ditahbiskan Harian Republika sebagai Tokoh Perubahan Indonesia 2007 ini bernama
Habiburrahman El-Shirazy. Ia dilahirkan di Semarang, 30 September 1976. Kang
Abik adalah nama panggilannya. Sarjana lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo,
Mesir ini, ketika menempuh studinya di Kairo, Mesir, pernah memimpin kelompok
kajian MISYKATI (Majelis Intensif dan Kajian Pengetahuan Islam), termasuk
pengurus aktif di organisasi seperti; Masika dan ICMI Orsat Kairo.
Selain
dikenal karena karya tulisnya yang sangat menampar hati, beliau juga adalah
seorang da’i, dan sutradara film. Bahkan sebagian besar karya tulisnya sudah
filmkan, seperti; Ayat-ayat cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Dalam Mihrab
Cinta.
Isi Buku
Pada
dasarnya novel ini adalah novel sejarah yang kemudian Kang Abik mengemasnya
dalam bentuk cerita cinta yang sangat mempesona. Sesungguhnya beliau ingin
mengingatkan kepada kita semua bahwa umat muslim hari ini jangan sampai
tergerus oleh arus globalisasi atau bahkan sekularisasi. Kekhawatiran ini
ditandai karena suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau yang
mengakibatkan runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani.
Dalam
buku ini, Kang Abik mengangkat kisah inspiratif dari seorang ulama besar yaitu
Said Nursi. Lantas siapakah Said Nursi itu? Dalam buku itu disebutkan bahwa
nama asli beliau adalah Said, kemudian oleh ayahnya Sufi Mirza dinisbatkanlah
nama Nursi karena beliau lahir di Desa Nurs. Kemudian seiring berjalannya waktu
Nursi menjadi dewasa dan karena otaknya yang sangat cemerlang, beliau diberi
gelar Badiuzzaman yang artinya keajaiban zaman oleh sang gurunda yakni Syeikh
Fathullah Effendi.
Menariknya
dalam buku ini yaitu seperti yang saya tulis di atas bahwa novel ini dikemas
dengan cerita cinta, dengan sebuah masalah percintaan yang menimpa kepada
seorang mahasiswa S2 Al-Azhar yang bernama Fahmi. Hebatnya lagi Fahmi pun
melampiaskan kesedihannya dengan cara i’tikaf di masjid dan mengkhatamkan
Al-Quran sebanyak 40 kali secara berkesinambungan. Namun di tengah perjalanan
dalam menunaikan i’tikaf, Fahmi pun kandas karena tidak mempedulikan kondisi
fisik dan batin yang semakin melemah.
Beruntungnya
Fahmi mempunyai sahabat dekat, yaitu Ali dan Subki. Kedua sahabat itulah yang
kemudian mencoba merayu Fahmi unntuk bisa menceritakan masalah yang sedang ia
pendam selama ini. Ketika Fahmi sudah menceritakan masalahnya, kedua sahabatnya
merasa kasihan dan mereka berinisiasi untuk menghibur Fahmi dengan mengajak
berkeliling ke negara Turki. Dan berangkatlah sekelompok pemuda pecinta ilmu
itu ke Turki. Di antara mereka ada Fahmi, Subki, Hamzah, Emel dan Aysel. Namun
sayangnya rihlah ini tidak dikuti oleh Ali, karena Ali harus pulang kampung.
Rihlah
ke Turki itu, mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman melainkan ilmu sejarah
yang belajar langsung dari tempatnya. Tentunya ada Hamzah selaku imam
perjalanan dan Hamzahlah yang menceritakan tentang kehidupan sang mujaddid,
yakni; Badiuzzaman Said Nursi seolah ia mampu menyihir teman-temannya untuk
mencintainya.
Sejarah
yang jangan sampai dilupakan adalah ketika Mustafa Kemal Ataturk, seorang
pemuda sekuler menjadi Presiden Turki pertama dan Khilafah dihanguskan untuk
selama-lamanya dengan membuang dan membantai keluarga Khalifah terakhir. Yang
paling saya suka dari novel ini adalah gaya penggambaran settingan Turki yang
cukup detail. Bahkan bisa dijadikan rujukan tempat untuk destinasi liburan.
Lewat novel ini, Kang
Abik seolah mengajak kita melakukan rihlah, napak tilas seorang ulama besar
lewat penceritaan tokoh-tokohnya. Seakan kita sendiri diajak berkeliling Turki,
merasakan bekunya udara saat musim dingin, pahitnya kopi khas Turki, serta
mengunjungi tempat-tempat selain tujuan wisata yang telah dikenal selama ini.
Memberi kita alternatif baru untuk bertandang, lengkap dengan makanan dan
hotel-hotel yang disinggahi.
Penulis:
Fadhil Azhar Permana
Profesi: Pelajar
Editor: Fadillah



