Oleh:
Riza Saputra*
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud R.A berkata:
Rasulullah SAW tidur di atas tikar lalu beliau bangun, tikar itu membekas disisi lambung beliau, kami berkata: Andai kami membuatkan hamparan yang lembut untuk anda. Maka Beliau bersabda: “Apa urusanku dengan dunia, aku di dunia tidak lain seperti pengendara yang bernaung di bawah pohon setelah itu pergi dan meninggalkannya” (H.R. Tirmidzi)
Tepat pukul 09:30 WITA, saat kaki ini mulai menginjakkan di atas karpet Bandara Changi, Singapura. Diri ini terpaku atas pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bandara yang lebih luas dari 27 lapangan sepak bola ini, terlihat sangat bersih, hampir tidak ada sampah yang berserakan di sekitarnya.
Persinggahan sejenak ini aku sempatkan untuk melihat ke setiap jengkal bandara, bahkan hingga ke toiletnya. Tidak ada air yang tergenang maupun aroma yang kurang sedap di toilet bandara ini. Hanya saja saya kebingungan dan perasaan risih karena hanya ada tisu di dalam toilet tersebut. Pengalaman ini tentunya menjadi titik pembeda dengan negara kita di Indonesia. Meskipun toiletnya tidak sebersih di Bandara Changi, namun saya lebih nyaman dengan menggunakan air sebagai sarana bersuci.
Lupakan
toilet!
Perjalanan ini tepatnya saya lakukan saat Study Tour bersama rombongan SMA swasta dari Kalimantan Selatan pada tahun 2017 lalu. Kaki ini sepertinya tak ingin berhenti untuk melangkah dengan kekuatan yang masih diberikan oleh sang pencipta. Kekaguman saya kembali tertuju pada pemandangan hijau dan langit-langit kerangka besi yang tersusun rapi membuka cahaya sinar matahari. Bukanlah tanaman artifisial atau tanaman buatan manusia, namun tanaman hidup yang menjulang tinggi ke atas dengan air yang mengalir ke bawah. Hati ini bergumam “di atas ciptaan manusia terdapat kemegahan Sang Pencipta yang telah memberikan akal kepada manusia untuk selalu berpikir sebagai khalifah atas matahari dan tumbuhan yang Ia ciptakan di muka bumi ini.”
Sebagai seorang pelancong, tentunya saya tidak lupa untuk mengambil foto di beberapa sudut yang indah di bandara ini. Beberapa mural berwarna-warni, taman hijau, dan langit-langit bandara menjadi latar belakang dan bukti bahwa saya pernah berada di sini. Saya menyadari bahwa segala sesuatu pasti akan menjadi sejarah, tinggal bagaimana saya mengukir sejarah tersebut sebaik mungkin dalam hidup saya, bahkan setiap waktu yang Allah berikan kepada saya. Karena tanpa adanya iman dan perbuatan baik, manusia akan sangat merugi di kehidupan yang hanya sejenak ini.
20 menit berlalu, kedua kaki ini kemudian melangkah menuju ke pintu ke luar. Beberapa orang lansia menawarkan majalah kepada saya. Di sisi lain juga ada manula berbaju putih sedang mengepel lantai di sudut jalan yang berbeda. Pemandangan ini tentunya membuat hati saya bersimpati sekaligus mengagumi kegigihan mereka. Jika di Indonesia banyak lansia yang menikmati masa tuanya dengan berdiam di rumah atau fokus ibadah, namun berbeda dengan Singapura yang masih banyak kaum lansia yang bekerja setelah berakhir masa pensiunnya.
Salah satu teman saya mengatakan bahwa hal ini sudah lumrah di Singapura. Karena selain menjaga kebugaran dan dapat berinteraksi di luar rumah, kebijakan re-employment yaitu membolehkan lansia setelah masa pensiun untuk bekerja juga menjadi faktor mengapa manula di atas usia 62 hingga 67 tahun masih sibuk bekerja di luar rumah.
Tuut-tuut...sebuah
klakson berbunyi.
Kami berbaris menuju sebuah bis yang berwarna biru, dengan seorang pemandu perjalanan lelaki paruh baya yang merupakan keturunan Tionghoa. Selain banyaknya lansia yang masih bekerja, Singapura juga memiliki keunikan lain di mana hampir tiga perempat penduduknya berasal dari etnis Tionghoa.
Sepanjang jalan menjadi perhatian indra penglihatan mata ini. Bunga-bunga yang tersusun rapi menutup setiap sisi jalan wilayah Bandara Changi. Perjalanan kami melewati gedung dan pemandangan indah di setiap sisi ruas jalan yang kami lewati seperti East Cost Park, Lorna Whiston School, Marine Parade, Al-Saqof Arab School, Syed Alwi Road, Stamford Primary School, dan Raffles Hospital.
Ada satu tulisan unik yang saya catat ketika kami melewati Madrasah Al-Saqof Al-Arabiyah, sebuah kata-kata yang terpampang di dinding sekolahan ini “In Allah we trust, with Allah we will be, for Allah we will serve.” Kata-kata ini membuat perasaan saya terenyuh bahwa kita hidup di dunia ini tiada lain semata-mata untuk mengabdikan diri kepada Allah.
Setelah 15 menit waktu ini berjalan, akhirnya tibalah kami di tempat persinggahan yang kami tunggu-tunggu, yaitu Masjid Sultan. Sebuah masjid tertua yang ada di Singapura, tepatnya di wilayah Kampong Glam. Setelah melepaskan sandal yang terpasang di kaki ini, saya berjalan menyusuri karet berwarna hitam menuju tempat wudu yang terdapat di samping masjid. Air mengalir ketika saya putar katup keran yang berwarna perak, dengan niat untuk menyucikan diri, hingga setiap tetesan yang jatuh terasa begitu berat, meskipun ia hanyalah air yang cukup ringan ketika berada di kedua telapak tangan. Sebagaimana sendal yang dilepaskan dari kaki ini, saya merasa bahwa segala pakaian yang saya miliki juga akan dilepaskan suatu hari nanti.
Kemudian saya menaiki titian tangga masjid yang memiliki dasar keramik berwarna putih. Langit-langit yang begitu megah dengan kipas angin yang sangat besar menjadi perhatian pertama saya ketika memasuki masjid ini. Sambil menunggu azan berkumandang, saya niatkan untuk itikaf di masjid dengan karpet merah yang baru pertama kali saya duduki ini. Beberapa teman saya mengambil Alquran yang tersusun rapi di setiap rak yang berjejer di sisi masjid ini.
Sekitar 10 menit, suara azan zuhur berkumandang memecah kesunyian yang tadi kami rasakan. Allahu akbar, sungguh Engkau Maha Besar. Seruan inilah yang kami rindukan dan ingin kami dengarkan di mana pun kami berada. Sesaat sebelumnya kami terhanyut dengan keindahan dunia yang engkau limpahkan kepada kami. Kami merapat dengan saf depan yang kini memanggil kami dengan Iqamah. Saat itu pula raga ini luruh dengan ucapan takbir yang dipimpin oleh Imam. Ya Allah kami berdiri di hadapan-Mu, memohon kepada-Mu, karena kepada-Mu lah kami menyembah dan memohon pertolongan.
Dengan kepala menunduk, semua orang terbuai dengan kekhusyukan yang sesaat ini. Di sini, saya sadar bahwa waktu yang kami luangkan untuk-Nya terasa lebih sedikit dibandingkan waktu kami mengagumi keindahan dunia-Nya. Maka sebaik-baiknya hal yang bisa saya lakukan adalah menjadikan setiap detik waktu dan keindahan dunia ini untuk mengingat-Nya.
Setelah selesai melaksanakan salat zuhur, hati ini tertarik untuk melihat sekitar masjid ini. Pemandangan yang cukup asing dan berbeda dari masjid-masjid yang ada di Indonesia adalah sebuah ruang baca dengan beberapa poster yang menempel di dinding lemari pajangan berwarna hitam sebelum pintu keluar belakang masjid. Tulisan berwarna putih dengan menggunakan bahasa Inggris tampak timbul di setiap tema utama, seperti Islam an Introduction (Islam sebuah perkenalan), Our Guidance (Petunjuk kami), The Value of Prayer (Nilai dari sebuah Ibadah), Women in Islam (Perempuan dalam Islam), dan Spirituality in Islam (Spiritualitas dalam Islam) yang mengisahkan sebuah perkenalan tentang agama Islam. Di sinilah sebuah perjalanan awal kami untuk menapaki setiap pengetahuan agama Islam yang ada di Negara Singa ini yang khas dengan patung Merlion nya ini. Perjalanan ini pulalah yang mengingatkan kami bahwa hal ini hanyalah sejenak:
“Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sampai petang hari. Jika engkau berada di petang hari, jangan tunggu sampai pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari)
Sebenarnya
ini hanyalah cerita awal dari perjalanan sejenak ini. Maka selama masih ada waktu yang Allah berikan kepada
kita, maka selama itu pulalah cerita kehidupan kita ini tertulis. Maka tulislah setiap langkah, perasaan, dan hatimu dalam
ruang dan waktu yang terbaik.
Penulis adalah pengajar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Editor: Fadillah



