APBN Makin Berat, Utang Bikin Negara Sekarat

Hot News

Hotline

APBN Makin Berat, Utang Bikin Negara Sekarat

 

(Foto oleh Monstera dari Pexels.com)

Oleh: Fahmara Ghaziya*

Kondisi Indonesia kini kian memburuk, bukan hanya karena semakin bertambahnya angka kematian dan positif covid-19, melainkan adanya potensi krisis ekonomi yang diakibatkan oleh APBN. Jika dulu krisis ekonomi terjadi melalui nilai tukar, saat ini justru APBN yang dapat menimbulkan masalah besar bagi Indonesia di kemudian hari. Potensi krisis ekonomi ini terjadi karena sumber pemasukan APBN berasal dari utang dan pajak, sehingga rawan mengalami defisit.

Rektor Universitas Paramadina, Didik Rachbini mengatakan bahwa terdapat lima faktor APBN berpotensi menyebabkan krisis ekonomi, diantaranya adalah adanya proses politik APBN yang bias dan sakit, defisit primer yang semakin melebar dan tak terkendali, kenaikan rasio pembayaran utang di masa Presiden Jokowi, pengendapan dana dan kebocoran dana di daerah, serta pembiayaan PMN dan BMN (bisnistempo.co, 01/08/2021).

Layaknya ember bocor, perumpamaan inilah yang digunakan oleh Rektor Universitas Paramadina, Didik Rachbini atas upaya pemerintah dalam menangani kondisi ekonomi di masa pandemi melalui dana APBN. Bukannya malah mengatasi masalah ekonomi, justru dana APBN yang didapat dari utang semakin memperburuk keadaan. Utang negara semakin membengkak, defisit semakin besar, dan pandemi belum memunculkan cahaya terang. Akibatnya, upaya untuk memperbaiki keadaan layaknya ember bocor yang tidak mampu menampung air. Niat hati ingin menyelesaikan persoalan, justru mewariskan beban utang kepada generasi di masa depan (bisnistempo.co, 01/08/2021).

Apabila dilihat dari alokasi anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), pemerintah mematok angka yang tinggi dengan harapan dapat mengatasi pandemi. Pada tahun 2020 misalnya, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk PC-PEN sebesar Rp 695,2 triliun dengan realisasi anggaran sebesar Rp 575,8 triliun. Sedangkan baru-baru ini pemerintah menaikkan alokasi anggaran PEN menjadi Rp 744,75 triliun.

Meskipun anggaran PC-PEN memiliki angka yang besar, namun pengaruh yang dirasakan oleh masyarakat kurang maksimal. Seharusnya dengan alokasi anggaran penanganan covid yang besar tersebut, pemerintah tidak perlu takut untuk melakukan lockdown, sebab dana yang dianggarkan dapat diserap dengan efektif dan efisien untuk menangani pandemi. Namun nyatanya, meskipun alokasi anggaran PC-PEN cukup besar, pemerintah masih tidak mampu melakukan lockdown guna menumpas tuntas masalah pandemi, yang terjadi justru angka penyebaran covid semakin tinggi dan kondisi ekonomi kian turun (bisnistempo.co, 01/08/2021).

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) terus memberikan dukungan kepada pemerintah untuk pembiayaan APBN. Langkah yang ditempuh Bank Indonesia adalah dengan membeli surat berharga negara di pasar perdana yang bernilai Rp 124,13 triliun yang terdiri dari Rp 48,67 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme greesshoe option (GSO). Selain itu, Bank Indonesia juga menambah likiuditas atau quantitative easing (QE) di perbankan sebesar Rp 101,10 triliun demi mendukung pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional (beritasatu.com 22/07/2021).

Sistem ekonomi kapitalis sudah semakin menampakkan taringnya untuk menghancurkan negeri-negeri kaum muslim. Sistem keuangan yang bertumpu pada utang justru semakin menjerat negara dalam cengkeraman tangan-tangan para penjajah. Lemahnya penerimaan pajak akibat penurunan daya beli masyarakat memaksa pemerintah untuk terus menggenjot utang. Hal ini terlihat pada tahun 2020 pembiayaan utang melonjak hingga 158,4 persen menjadi Rp 1.039,22 triliun. Kebijakan yang setengah-setengah menyebabkan dana APBN yang berasal dari utang menjadi mubazir. Penyerapan anggaran di daerah-daerah juga terbilang minim. Belum lagi adanya tindakan serakah dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab merampas uang rakyat dengan korupsi.

Meskipun memiliki sumber daya alam yang melimpah, nyatanya Indonesia tidak mampu memaksimalkan potensi yang ada untuk menopang ekonomi negara. Hal ini terlihat dari perbandingan pemasukan dan pengeluaran dana APBN pada tahun 2020. Penerimaan pajak pada tahun 2020 mencapai Rp 1.070 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 212,8 triliun, PNBP Rp 338,5 triliun dan hibah Rp 12,3 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp 2.589,9 triliun. Dana APBN pada tahun 2020 ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami defisit sebesar 956,3 triliun dan hanya mampu menghasilkan PNBP sebesar 10% (beritasatu.com 06/01/2021).

Berbeda dengan pengelolaan keuangan di dalam sistem kapitalisme, APBN negara di dalam Islam dikelola dengan baik di baitulmal. Tidak seperti sistem kapitalisme yang menaruh nasibnya pada penerimaan pajak dan utang. Penerimaan APBN justru melimpah dari berbagai sumber yang mampu memenuhi kebutuhan negara.

Baitulmal dikelola oleh seorang kepala negara yang diseleksi dengan ketat agar menghasilkan pemimpin yang taat terhadap syariat dan mengurusi urusan umat. Pendapat para ulama dan pakar juga selalu didengar guna mencari jalan keluar dari semua masalah yang dihadapi masyarakat.

Islam juga mengatur kepemilikan yang jelas yaitu kepemilikan umum, negara dan individu, sehingga tidak terjadi kerancuan atau penyalahgunaan kepemilikan yang merugikan masyarakat. Selain itu, negara akan mengelola belanja negara dengan seefisien mungkin dan membagi skala prioritas. Hal ini dilakukan agar dana yang keluar tidak mubazir. Negara juga membuat kebijakan secara independen tanpa adanya campur tangan pihak asing atau para pemilik modal.

 Betapa indahnya sistem yang dijalankan dibawah aturan Allah Swt. Sedetail mungkin Allah Swt. berikan pedoman bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Mulai dari bangun tidur hingga bangun negara, semua lengkap tanpa celah. Kesejahteraan juga dirasakan masyarakat kala sistem Islam diterapkan di tengah-tengah umat. Bukan hanya dirasakan oleh umat muslim, tetapi semua makhluk Allah Swt. yang terkecil.

Semua masalah yang kini dihadapi manusia niscaya akan diberantas hingga ke akar dengan sistem Islam. Sebab, penerapan sistem yang berasal dari Allah Swt. telah terbukti berjaya selama kurang lebih 13 abad lamanya di 2/3 belahan dunia. Lantas alasan apa lagi yang membuat kita ragu untuk menjalankan syariat Islam secara menyeluruh? Periksalah hati masing-masing akan keyakinan terhadap Islam.

 

*Penulis adalah pegiat Pena Banua dan aktivis dakwah

Editor: Tim


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.