Maksud Terselubung Dibalik Adanya "Garuda Shield"

Hot News

Hotline

Maksud Terselubung Dibalik Adanya "Garuda Shield"

 

(Foto oleh Pixabay dari Pexels.com)

Oleh: sam_tsafiqri*

Tak dapat dielakkan bahwa militer merupkan kebutuhan primer setiap negara. Dengan adanya militer menandakan ketahanan suatu negara terlindungi. Sebab, anggota militer dibekali ilmu dalam perkara membela negaranya baik di dalam maupun di perbatasan wilayah negeri tersebut. Sehingga, mereka rela meninggalkan keluarganya demi menjalankan tugas kenegaraan dengan suka cita.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) nama dari  pasukan bersenjata dan orang-orang terlatih Indonesia yang siap melindungi negerinya. TNI Memiliki tugas mulia yaitu menjaga keamanan dalam negeri dari berbagai goncangan. Mereka menjadi pasukan garda terdepan, jika harus melawan orang asing yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan warga negaranya. Terdapat tiga pasukan TNI yang siap siaga, yaitu TNI AD, TNI AL, dan TNI AU.

Terlihat dari berbagai macam media menyorot pelatihan para calon militer sangatlah berat  dan  harus kontinyu. Selain itu, mereka juga harus berlatih memegang senjata dan perlengkapan lainnya agar terbiasa dan tepat sasaran. Maka, Indonesia berencana mengadakan latihan bersama dengan negara lain, yaitu AS (Amerika Serikat) yang merupakan ancaman kuat bagi Indonesia sendiri.

Garuda Shield merupakan program latihan bersama tahunan antara TNI AD dengan tentara AS. Program ini biasa dilaksanakan selama dua minggu di Indonesia. Latihan gabungan ini pertama kali dilakukan pada tahun 2009 di Bandung. Kemudian tahun 2020 tepatnya bulan September yang  digelar di Bogor. Terdapat tiga titik daerah latihan yaitu Pusat Latihan Tempur Baturaja, Makalisung, dan Amborawang.

 

Dibalik "Garuda Shield"

Sebenarnya adanya latihan bersama tidaklah terlalu buruk. Sebab, sesama personel tentara dapat bertukar pengalaman dan berbagi ilmu.

Menurut pengamat militer dari "Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)"  Khairul Fahmi, latihan ini merupakan bentuk konkret dari diplomasi pertahanan dan  konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik bebas aktif (arti: kerja sama politik yang dibangun dengan berbagai negara). Selain itu, latihan ini pun didukung oleh "Commanding General of USARPAC General" Charles A yang mengaku sangat menantikan kesempatan ini, karena dapat menjelajah ke wilayah negara lain (Detik.com, 29/07/2021).

Keberadaan latihan ini tentu perlu diperhatikan. Walaupun banyak pihak yang mendukung. Sebab, kerja sama yang dilakukan Indonesia-AS tentulah tak hanya dalam bidang militer, tetapi juga di berbagai bidang lain seperti ekonomi, pemerintahan, dan lain  sebagainya. Lantas apa yang dipersoalkan?

Amerika Serikat tidak mungkin membiarkan negara yang dibidiknya menjalin kerja sama dengan pihak lain. Amerika Serikat akan melakukan berbagai cara untuk menghentikannya. Mereka juga harus mendapatkan berbagai info berkenaan sepak terjang pihak lawannya. Inilah salah cara AS untuk mengikat Indonesia agar tetap berada dalam rangkulannya.

Sehingga, nampak jelas jika AS memang ingin selalu bergandengan tangan dengan Indonesia dalam segala aspek. Mengapa? Karena Indonesia merupakan salah satu negara jajahannya yang dengan mudah teracuni ide-ide Barat. Ditambah, kekayaan Indonesia yang tiada henti menjulang dari ujung Timur hingga Barat, baik di darat maupun laut. Hal ini membuat AS ingin sekali meraup keuntungan dari sana agar tetap bertahan menjadi negara adidaya.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya pemerintah pun tidak adil kepada rakyatnya. Di satu sisi, mereka sedang melakukan kebijakan PPKM Darurat. Rakyat diminta membatasi mobilitasnya demi menekan kasus Covid-19. Di sisi lain, mereka malah menerima pihak asing masuk ke Indonesia. Sungguh, ketidakadilan tampak begitu jelas. Alih-alih pemerintah  menyelesaikan persoalan dalam negeri. Mereka malah mementingkan kepentingan pihak asing.

Maka, adanya latihan bersama menunjukkan semakin dalamnya pertemanan antara Indonesia-AS. Hal ini akan semakin mengokohkan hegemoni AS atas  Indonesia. Menurut pakar Politik dan Dosen Hubungan Internasional Budi Mulyana, ada beberapa poin yang dapat dibahas berdasarkan perspektif konstelasi perpolitikan internasional.

Hasilnya, terjadilah intervensi kebijakan di Indonesia. Penguasa semakin tidak berdaulat atas kebijakan politik dalam dan luar negerinya. Semua kebijakannya harus sesuai dengan kepentingan pihak asing (Amerika Serikat). Semua ini  terjadi akibat penerapan sistem demokrasi-sekuler yang bercokol di negeri ini. Negara (penguasa) tidak akan pernah mengutamakan kepentingan rakyatnya sendiri sampai kapanpun.

 

Militer dalam Islam

Jika negeri ini masih  menerapkan sistem demokrasi-sekulernya dan terus mengabaikan rakyat, permasalahan yang menimpa bangsa tidak akan pernah tuntas. Lain halnya dengan sistem Islam.  Negara dalam Islam sangat berhati-hati dalam memutuskan kebijakan, terutama terkait militer. Adanya latihan militer tidak akan pernah digabung dengan pihak asing, apalagi yang jelas-jelas memusuhi Islam secara terang-terangan.

Pelatihan mandiri inipun tidak seadanya, melainkan dengan penuh persiapan dan fasilitas yang memadai. Negara akan mengerahkan segala sumber daya untuk pelaksanaan latihan operasional ini. Sebab, dalam  pandangan Islam, militer adalah institusi pertahanan dan ketahanan yang penting dalam sebuah negara. Oleh sebab itu, negara wajib mewujudkan pelatihan yang berkualitas tanpa intervensi dari pihak asing.

Kedudukan militer sangat penting. Bukan sekadar  melindungi warga. Lebih dari itu, fungsi militer dalam Islam adalah untuk membela dan meninggikan kalimat Allah Swt. agar Syariat Islam terpelihara dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a'lamlam bisshawwab.


*Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Editor: Tim

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.