Oleh: sam_tsafiqri*
Tak dapat dielakkan bahwa militer merupkan kebutuhan primer setiap
negara. Dengan adanya militer menandakan ketahanan suatu negara terlindungi.
Sebab, anggota militer dibekali ilmu dalam perkara membela negaranya baik di
dalam maupun di perbatasan wilayah negeri tersebut. Sehingga, mereka rela
meninggalkan keluarganya demi menjalankan tugas kenegaraan dengan suka cita.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) nama dari pasukan bersenjata dan orang-orang terlatih
Indonesia yang siap melindungi negerinya. TNI Memiliki tugas mulia yaitu
menjaga keamanan dalam negeri dari berbagai goncangan. Mereka menjadi pasukan
garda terdepan, jika harus melawan orang asing yang mengganggu ketenangan dan
kenyamanan warga negaranya. Terdapat tiga pasukan TNI yang siap siaga, yaitu
TNI AD, TNI AL, dan TNI AU.
Terlihat dari berbagai macam media menyorot pelatihan para calon
militer sangatlah berat dan harus kontinyu. Selain itu, mereka juga harus
berlatih memegang senjata dan perlengkapan lainnya agar terbiasa dan tepat
sasaran. Maka, Indonesia berencana mengadakan latihan bersama dengan negara
lain, yaitu AS (Amerika Serikat) yang merupakan ancaman kuat bagi Indonesia
sendiri.
Garuda Shield merupakan program latihan bersama tahunan antara TNI
AD dengan tentara AS. Program ini biasa dilaksanakan selama dua minggu di
Indonesia. Latihan gabungan ini pertama kali dilakukan pada tahun 2009 di
Bandung. Kemudian tahun 2020 tepatnya bulan September yang digelar di Bogor. Terdapat tiga titik daerah
latihan yaitu Pusat Latihan Tempur Baturaja, Makalisung, dan Amborawang.
Dibalik "Garuda Shield"
Sebenarnya adanya latihan bersama tidaklah terlalu buruk. Sebab,
sesama personel tentara dapat bertukar pengalaman dan berbagi ilmu.
Menurut pengamat militer dari "Institute for Security and
Strategic Studies (ISESS)" Khairul
Fahmi, latihan ini merupakan bentuk konkret dari diplomasi pertahanan dan konsistensi Indonesia dalam menjalankan
politik bebas aktif (arti: kerja sama politik yang dibangun dengan berbagai
negara). Selain itu, latihan ini pun didukung oleh "Commanding General of
USARPAC General" Charles A yang mengaku sangat menantikan kesempatan ini,
karena dapat menjelajah ke wilayah negara lain (Detik.com, 29/07/2021).
Keberadaan latihan ini tentu perlu diperhatikan. Walaupun banyak
pihak yang mendukung. Sebab, kerja sama yang dilakukan Indonesia-AS tentulah
tak hanya dalam bidang militer, tetapi juga di berbagai bidang lain seperti
ekonomi, pemerintahan, dan lain sebagainya.
Lantas apa yang dipersoalkan?
Amerika Serikat tidak mungkin membiarkan negara yang dibidiknya
menjalin kerja sama dengan pihak lain. Amerika Serikat akan melakukan berbagai
cara untuk menghentikannya. Mereka juga harus mendapatkan berbagai info berkenaan
sepak terjang pihak lawannya. Inilah salah cara AS untuk mengikat Indonesia
agar tetap berada dalam rangkulannya.
Sehingga, nampak jelas jika AS memang ingin selalu bergandengan
tangan dengan Indonesia dalam segala aspek. Mengapa? Karena Indonesia merupakan
salah satu negara jajahannya yang dengan mudah teracuni ide-ide Barat.
Ditambah, kekayaan Indonesia yang tiada henti menjulang dari ujung Timur hingga
Barat, baik di darat maupun laut. Hal ini membuat AS ingin sekali meraup
keuntungan dari sana agar tetap bertahan menjadi negara adidaya.
Terlepas dari itu semua, sebenarnya pemerintah pun tidak adil kepada
rakyatnya. Di satu sisi, mereka sedang melakukan kebijakan PPKM Darurat. Rakyat
diminta membatasi mobilitasnya demi menekan kasus Covid-19. Di sisi lain,
mereka malah menerima pihak asing masuk ke Indonesia. Sungguh, ketidakadilan
tampak begitu jelas. Alih-alih pemerintah
menyelesaikan persoalan dalam negeri. Mereka malah mementingkan
kepentingan pihak asing.
Maka, adanya latihan bersama menunjukkan semakin dalamnya pertemanan
antara Indonesia-AS. Hal ini akan semakin mengokohkan hegemoni AS atas Indonesia. Menurut pakar Politik dan Dosen
Hubungan Internasional Budi Mulyana, ada beberapa poin yang dapat dibahas
berdasarkan perspektif konstelasi perpolitikan internasional.
Hasilnya, terjadilah intervensi kebijakan di Indonesia. Penguasa
semakin tidak berdaulat atas kebijakan politik dalam dan luar negerinya. Semua
kebijakannya harus sesuai dengan kepentingan pihak asing (Amerika Serikat). Semua
ini terjadi akibat penerapan sistem demokrasi-sekuler
yang bercokol di negeri ini. Negara (penguasa) tidak akan pernah mengutamakan
kepentingan rakyatnya sendiri sampai kapanpun.
Militer dalam Islam
Jika negeri ini masih
menerapkan sistem demokrasi-sekulernya dan terus mengabaikan rakyat,
permasalahan yang menimpa bangsa tidak akan pernah tuntas. Lain halnya dengan
sistem Islam. Negara dalam Islam sangat
berhati-hati dalam memutuskan kebijakan, terutama terkait militer. Adanya
latihan militer tidak akan pernah digabung dengan pihak asing, apalagi yang
jelas-jelas memusuhi Islam secara terang-terangan.
Pelatihan mandiri inipun tidak seadanya, melainkan dengan penuh
persiapan dan fasilitas yang memadai. Negara akan mengerahkan segala sumber
daya untuk pelaksanaan latihan operasional ini. Sebab, dalam pandangan Islam, militer adalah institusi
pertahanan dan ketahanan yang penting dalam sebuah negara. Oleh sebab itu,
negara wajib mewujudkan pelatihan yang berkualitas tanpa intervensi dari pihak
asing.
Kedudukan militer sangat penting. Bukan sekadar melindungi warga. Lebih dari itu, fungsi militer dalam Islam adalah untuk membela dan meninggikan kalimat Allah Swt. agar Syariat Islam terpelihara dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a'lamlam bisshawwab.
*Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor: Tim



