Islam Solusi Tuntas Mengakhiri Kekerasan Seksual

Hot News

Hotline

Islam Solusi Tuntas Mengakhiri Kekerasan Seksual

 

(Gambar ilustrasi. Foto oleh Idina Risk dari Pexels.com)

Oleh: Mariyam Sundari (Sahabat Muslimah)

Permasalahan kekerasan, baik itu terhadap perempuan dan anak tak kunjung selesai. Bahkan saat pandemi ini, jumlahnya makin meningkat.

Banyak pihak telah melihat fakta tak terbantahkan ini dan mereka berupaya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Karenanya mereka sangat berharap RUU P-KS bisa tuntas dibahas tahun 2021 untuk menjadi Undang-Undang karena kekerasan pada perempuan dan anak pada masa pandemi Covid-19 makin memprihatinkan.

Sebagian kalangan menganggap bahwa kekerasan yang menimpa perempuan dan anak saat ini terjadi karena adanya diskriminasi yang telah berlangsung secara turun-temurun. Namun kekerasan yang dialami perempuan dapat terjadi ketika pandangan sosial budaya yang ada bersifat diskriminatif.

Maka jika kita telusuri secara mendalam, permasalahan ini sebenarnya muncul karena tidak adanya perlindungan terhadap perempuan dan anak, baik oleh negara, masyarakat, maupun keluarga.

Hal ini muncul akibat tidak adanya pemahaman yang jelas tentang hak-hak dan kewajiban negara, masyarakat, ataupun anggota keluarga, serta tidak diterapkannya aturan-aturan yang baku di tengah-tengah masyarakat.

Akibatnya setiap manusia mengatur dirinya sesuai dengan aturan yang dibuatnya. Hal inilah yang melanda kaum muslimin yang terjadi karena sistem sekuler kapitalisme tengah mencengkeram dunia Islam.

Hilangnya Gambaran Sesungguhnya

Berkembangnya ideologi sekuler kapitalisme di tengah-tengah kita menjadikan kaum muslimin kehilangan gambaran yang nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya. Terlebih dengan makin gencarnya upaya Barat melancarkan perang pemikiran dan kebudayaan ke dunia Islam.

Kaum muslimin makin jauh dari Islam, baik pemikiran maupun hukum-hukumnya. Posisi Islam yang seharusnya dijadikan acuan atau landasan dalam berpikir dan bertingkah laku, digantikan oleh pemikiran kapitalisme. Sehingga tidak aneh jika corak kehidupan sekuler kapitalismelah yang mendominasi umat saat ini.

Corak kehidupan inilah yang akhirnya membuat kaum muslimin bingung dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul di tengah-tengah mereka. Mengapa demikian? Karena corak hidup sekuler kapitalisme tidak memiliki standar baku yang bisa dijadikan pijakan untuk menilai segala sesuatu. Hanya mengagungkan nilai kemanusiaan yang semu, padahal sifatnya relatif.

Jika kita mau jujur, jelas sekali bahwa maraknya kekerasan dan pelecehan seksual baik terhadap perempuan maupun anak justru merupakan cerminan gagalnya bangunan sosial politik yang didasari ideologi kapitalisme ini, serta rapuhnya tatanan moral masyarakat yang ada akibat tidak adanya standar baku yang mengatur tingkah laku manusia.

Kalaulah kaum muslimin mau menengok kepada Islam dan memahami Islam, sebenarnya Islam telah memberikan jawaban yang tuntas terhadap permasalahan apa pun, termasuk permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kita tinggal mengikuti apa yang telah diwahyukan oleh Allah  Swt., Al-Khaliq Al-Mudabbir dan meneladani utusan-Nya, Muhammad (saw.).

Melindungi Perempuan dan Anak

Kontradiksi antara tuntutan dan realitas dalam frame berpikir feminis di atas tak lain diakibatkan pola berpikir sekuler yang menempatkan kebebasan individu di atas segalanya.

Di satu sisi mereka menginginkan agar perempuan dan anak bebas dari kekerasan seksual, namun di sisi lain mereka juga mengkampanyekan kebebasan individu yang memicu bangkitnya naluri seksual.

Hal ini berdampak pula pada tuntutan mereka ke negara sebagai pembuat regulasi. Mereka menuntut keadilan dan kesetaraan gender dengan logika bahwa jika kesetaraan gender ini terwujud, secara otomatis akan mereduksi kekerasan seksual pada perempuan dan anak.

Aturan Islam Secara Tuntas

Pertama, Islam mencegah dan meminimalisir terjadinya kekerasan seksual dengan mengatur sistem pergaulan melalui mekanisme yang khas. Di kehidupan umum, Islam mendudukkan kaum perempuan sebagai mitra laki-laki dalam kehidupan domestik dan publik.

Kedua, Islam juga memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk menutupi auratnya dan menjaga kemaluannya. Bahkan dalam lingkup keluarga sekalipun yang notabene merupakan kehidupan khusus (hayyatul kasshah), Islam mengatur privasi masing-masing anggota keluarga.

Ketiga, dalam Islam juga diperintahkan untuk memisahkan tempat tidur anak-anak saat mereka berusia tujuh tahun termasuk melarang laki-laki dan perempuan tidur dalam selimut yang sama. Hal ini menutup celah terjadinya interaksi jinsiyah/seksualitas yang diharamkan Allah Swt, sebagaimana yang terjadi saat ini.

Keempat, dalam Islam berlaku pula aturan mengenai izin saat hendak memasuki rumah.  Inilah upaya preventif dalam Islam untuk menghindari terjadinya interaksi seksual dalam keluarga.

Di ranah publik, Allah melarang perempuan untuk berdandan berlebihan (tabarruj) yang merangsang naluri seksual laki-laki. Terjadinya pemerkosaan dalam institusi keluarga tak lepas dari realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Aurat yang diumbar secara bebas, interaksi tanpa batasan serta aktivitas yang merusak akhlak telah berkontribusi dalam memengaruhi pikiran seorang ayah untuk memerkosa anaknya, atau seorang kakak laki-laki memerkosa adiknya sendiri.

Untuk menangani masalah seksualitas dalam institusi keluarga, negara wajib hadir untuk menjalankan hukum yang jelas dan tegas. Menghukum pelaku pelecehan seksual, pemerkosaan, dan sejenisnya dengan hukuman setimpal sesuai syariat Islam.

Negara juga wajib mengawasi pemilik media untuk tidak menyebarkan konten yang berisi hal-hal yang membangkitkan naluri seksual dan akan menindak tegas jika melanggar syariat.

Dengan aturan dalam kehidupan khusus dan kehidupan umum ini, Islam menjadi satu-satunya sistem yang memberikan kepastian perlindungan bagi perempuan dan anak dari kekerasan seksual dalam institusi keluarga. Wallahu’alam .[]


Editor: Tim DP


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.