(Ilustrasi/disain-www.dapurpena.com)
Oleh: Ely Haryanti
Dunia tengah berduka, dikarenakan suatu wabah dengan virus yang mematikan. Tak
ada lagi yang keluar sembarangan. Seolah virus itu adalah predator dunia.
Seorang gadis cantik tak sengaja berpapasan dengan makhluk kecil yang tidak
pernah ia lihat sebelumnya.
“Assalamu'alaikum, wahai makhluk Allah,” sapa Cenil.
Makhluk kecil itu menoleh, lantas menjawab, “Wa'alaikumussalam warahmatullah ....”
Cenil menatap makhluk itu bingung. Sangat asing di mata
Cenil. “Wahai makhluk Allah, mengapa sebelumnya aku
belum pernah melihat ciptaan Tuhan ku yang serupa denganmu. Apakah engkau adalah
penduduk terbaru di bumi ini?” tanya Cenil.
“Kau benar wahai manusia.
Baru pertama kali aku menginjakkan kakiku di bumi ini,” jawab Coro.
Cenil mengangguk. Ia tampak ragu berbicara lagi. Namun,
coba ia paksakan. “Bolehkah aku bertanya sedikit tentangmu?
Namun, sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaanku ini tak berkenan untukmu.”
Coro tersenyum membalasnya. “Tentu saja. Insya’allah,
aku tak akan marah padamu wahai manusia,” jawab Coro santai.
“Mengapa wujudmu teramat kecil dan hampir tak terlihat. Namun,
dengan pasukanmu yang besar kau mampu menggegerkan isi
bumi ini?” tanya Cenil. Ada sedikit ketakutan di wajahnya. Ia takut, perkataannya dapat
menyinggung makhluk kecil itu.
“Maha suci Allah atas
segala-galanya. Inilah salah satu
keagungan penciptaku. Tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya,” jawab Coro santai,
seolah tak tersinggung atas pertanyaan Cenil.
Rasa penasaran, masih terus mendominasi jiwa Cenil. “Lalu mengapa engkau tiba-tiba singgah di bumi ini ?”
Ekspresi wajah Coro tak berubah sedikit pun, tetap tenang
dan santai. “Tentu
saja, Allah menciptakanku dengan
suatu tujuan. Aku beserta pasukanku diperintahkan untuk menegur manusia.
Memberi peringatan bahwa dunia ini fana. Namun,
nyatanya kedatanganku ini tak lantas
membuat mereka gentar dan segera bertobat.”
Cenil terdiam sejenak. Ia berusaha mencerna jawaban Coro.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Setelah aku diciptakan dan
diturunkan ke bumi. Aku melihat jutaan manusia sedang dalam kelalaian yang nyata. Sungguh hati ku
terdorong untuk menyadarkan kalian
semua sebagai perintah dari-Nya,” lanjut Coro sambil menatap langit biru tanpa
awan.
Cenil tertunduk pilu. Ada sesak di dadanya. Air mata
mulai membasahi pipinya. Ia teringat akan dosa yang pernah Cenil lakukan selama
ini. Semua kembali bagai kaset berputar di kepalanya tiada henti.
“Jutaan manusia sudah rusak imannya. Mengaku Islam, tetapi sholat saja mereka anggap remeh.
Anak muda bergaul bebas dengan lawan jenis.
Sesuai dengan yang kulihat. Saat ini, mereka tengah tenggelam dalam maksiat.
Pantas saja Allah murka dengan
semua yang terjadi, hingga Ia kerahkan pasukan-pasukan kecil sepertiku untuk memberi peringatan
nyata bahwa akhir zaman telah tiba.”
Tubuh Cenil bergetar. Ia tak sanggup membayangkan apa
yang akan terjadi selanjutnya. Setelah semua tiada dan kehidupan di bumi
berhenti begitu saja. Seakan tak ada lagi gerigi yang dapat menggerakan rantai
roda bumi.
“Lantas sampai kapan, kau
berdiam di bumi ini wahai virus kecil?” tanya Cenil seraya menghapus jejak air matanya.
Coro ragu untuk menjawab pertanyaan Cenil satu ini. Ia
sendiri tak tahu, sampai kapan terus mendiami bumi. “Entah sampai kapan batasan
waktu itu. Hanya Allah sang penciptaku yang mengetahuinya.”
“Berapa juta nyawa manusia
lagi yang akan kau jadikan sebagai bahan mainanmu?” tanya Cenil belum puas.
“Sama seperti jawabanku
sebelumnya. ‘Aku pun juga tak tau tentang hal ini dan menjadi rahasia Allah.’ Sungguh
sejujurnya aku tidak tega. Ribuan
nyawa manusia melayang gara-gara ulahku. Namun apalah daya, aku
hanyalah tentara-tentara kecil
yang harus selalu patuh
atas segala perintah-Nya,” jawab Coro dengan sorot bersalah. Namun, semua itu
sudah tugasnya agar manusia dapat sadar akan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
“Aku pun hanya bisa berdoa. Semoga Allah segera memusnahkanmu
beserta semua pasukanmu dari muka bumi ini,” ujar Cenil penuh harap. Air mata
kembali membasahi pipinya.
“Ya semoga saja demikian, aku pun juga ingin kembali ke tempat asalku. Semoga Allah SWT mengabulkan
doa para hamba-Nya yang beriman,” jawab
Coro dengan nada bersalah. Mereka berdua
sama-sama menatap langit yang masih setia menampakan wajah birunya yang sangat
tenang.
*/Penulis adalah Mahasiswi
STKIP PGRI Pacitan, Jatim.
Editor: Firdaturrofiah



