(Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)
Oleh : Eva
Suci Ramadhani S.Pd
Virus Covid-19 atau yang lebih
dikenal dengan virus corona menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang.
Bagaimana tidak, virus yang awalnya muncul di Wuhan, China ini kini telah
menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia pada 2 Maret lalu,
awalnya hanya ada dua kasus WNI yang diumumkan presiden Jokowi. Kemarin Juru
Bicara pemerintah untuk penanganan corona, Achmad Yurianto mengatakan jumlah
kasus positif per Rabu mencapai 227 orang, dengan 19 orang meninggal dunia
(data 18 Maret). Artinya dalam kurun waktu yang sangat singkat kenaikan lebih
dari seratus kali lipat. Tidak menutup kemungkinan jika tidak ada tindakan
konkrit dari pemerintah, angkanya bisa melonjak mencapai ribuan dalam kurun
waktu sepekan kedepan. Sudah banyak negara yang melakukan lockdown. Di Italia,
sudah lebih dari 27 ribu orang yang terjangkit covid-19 dan yang sudah
meninggal dunia akibat virus ini setidaknya mencapai 2.158 orang. Bahkan pada Hari Kamis lalu tercatat 349 yang
meninggal dunia dalam 24 jam.
Peringatan sudah datang dari
berbagai negara dan WHO, namun Indonesia masih terkesan santai dan tidak serius
menanggapi isu global tersebut. Alih-alih melakukan antisipasi, sosialisasi,
edukasi dan melakukan tindakan preventif, pemerintah justru menggelontorkan
biaya puluhan miliar demi membayar buzzer
untuk mengudang para wisatawan masuk ke Indonesia. Hingga akhirnya virus
yang tak pandang bulu ini justru telah memasuki lingkaran istana.
Pemerintah mengkonfirmasi Menteri
Perhubungan, Budi Karya Sumadi, telah positif
terpapar virus covid-19. Bukan tidak mungkin, menteri lain, pejabat,
awak media ikut terpapar virus tersebut mengingat beberapa hari sebelumnya Budi
Karya Sumadi menghadiri beberapa rapat dan kunjungan. Hingga saat ini
pemerintah masih membuka akses keluar masuk Indonesia. Terbukti dengan
beredarnya disosial media video puluhan TKA asal China mendarat di Kendari.
Penyebar video tersebut ditangkap dituduh menyebarkan hoax. Padahal diakui oleh
pihak imigrasi puluhan TKA China yang masuk merupakan pendatang baru. Saat
semua terungkap rakyat semakin tidak percaya kepada negara. Pemerintah yang
harusnya melindungi dan mengurus rakyatnya justru masih membuka peluang virus
corona masuk Indonesia. (Republika.com 17/3)
Pemerintah juga terkesan tidak
transparan dan lamban dalam penanganan virus Covid-19. Beredar juga di sosial
media pengakuan para pasien yang sudah naik status menjadi Pasien Dalam
Pengawasan (PDP) corona tidak ditangani dengan baik di berbagai rumah sakit.
Juru bicara pemerintah terkait Covid-19, Dr. Achmad Yurianto, dalam tayangan podcast di Youtube Deddy Corbuzier
secara blak-blakkan mengungkap alasannya. Menurut Yurianto, kesehatan sudah
menjadi permainan bisnis, termasuk rumah sakit yang enggan kehilangan pasien.
Namun di satu sisi, dalam kondisi ini tenaga medis seperti dokter dan perawat
yang menjadi pahlawan di garis depan untuk menyembuhkan pasien tidak mendapat
perlindungan secara sempurna. Keselamatan mereka sendiri terancam karena tim
medis kekurangan APD (Alat Pelindung Diri). Seperti di Tasikmalaya, Cirebon,
dan Bali dimana mereka terpaksa menggunakan jas hujan plastik yang dijual
10.000-an juga sepatu bot yang biasa dipakai saat banjir.
Tindakan tersebut sangat berisiko
mengingat tenaga medis yang menangani corona seharusnya dilengkapi dengan APD
yang memadai dan sesuai standar. Inilah akibat dari sistem kapitalis, penguasa
lebih mementingkan cuan daripada rakyat. Tidak transparan dan tidak mengambil
tindakan yang dapat melindungi rakyat. Hingga akhirnya ketika terjadi pandemi,
pemerintah terkesan bingung dan tidak siap, rakyat pun jadi korban lagi.
Wabah penyakit sebelumnya sudah
pernah terjadi di zaman Rasulullah. Wabah yang terjadi pada zaman Rasulullah
adalah penyakit kusta, tak hanya menular namun juga menyebabkan kematian. Proses
penyebarannya pun sangat cepat kala itu. Rasulullah pernah mengajarkan cara
menghadapi wabah penyakit dalam hadist yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf.
“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu
datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu
berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri
darinya.” (HR. Muslim)
Islam selalu menunjukkan
keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur
semua permasalahan dan memberikan solusi atas semua persoalan. Islam telah
lebih dulu membangun ide karantina untuk mengatasi wabah menular. Metode
karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah SAW untuk mencegah wabah
penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut
dilaksanakan, Rasullullah SAW membangun tembok di sekitar daerah yang
terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal
luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah RA menuturkan bahwa
Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi
singa.” (HR al-Bukhari).
Sistem Islam adalah solusi, para
penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah SAW dan para Khalifah telah
mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala
persoalan yang dialami rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit
menular.
Siapa yang diserahi oleh Allah
untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan
kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan
kepentingannya (pada Hari Kiamat).
(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Kita membutuhkan pemimpin yang takut pada Allah, pemimpin yang bertanggung
jawab pada kepentingan, keamanan dan keselamatan rakyatnya. Semoga dengan
adanya virus ini membawa hikmah bahwa hanya sistem Islam yang mampu mengatasi
berbagai persoalan negeri.
Wallahu a'lam bishawab..
Penulis adalah seorang Socio-Spiritualpreneur
Editor : Putri Hesti Lestari



