(Ilustrasi/desain-www.dapurpena.com)
Oleh : Rosyidah,S.H.
Mewabahnya virus Corona
(Covid-19) seakan menjadi mimpi buruk di berbagai negara. Tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Selain
berdampak besar dan jangka panjang bagi kondisi perekonomian dan interaksi
sosial di tengah masyarakat, hal ini juga sangat berpengaruh pada dunia pendidikan. Sekolah
dianggap sebagai salah satu tempat yang berpotensi menyebarkan virus karena
banyak orang mulai dari peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan lainnya berinteraksi di sana.
Oleh
karena itu, sejumlah provinsi
mulai Senin (16/3) meliburkan sekolah, dari jenjang TK, SD, SMP dan
SMA hingga Senin (30/3). Langkah itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran
virus corona jenis baru atau Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.
Sebagai gantinya, pembelajaran
yang biasanya dilakukan di sekolah diubah menjadi di rumah. Tidak sedikit para siswa, guru, bahkan orang tua yang
gagap menghadapi perubahan situasi yang sangat drastis ini. Hingga aura
‘kepanikan’ dan stresss massal pun terasa di mana-mana. Banyak orang tua terutama para ibu yang tidak siap.
Baik secara teknis, keilmuan dan pemahaman, skill, maupun mental sebagai
pengajar. Siswa pun demikian. Mereka stresss, mengeluh karena bosan, juga merasa
tertekan, karena dikejar tugas harian yang menumpuk dalam batas waktu bersamaan. Para guru pun tak kalah stresss. Karena faktanya, tak
semua guru memiliki kompetensi memadai dalam sistem kerja dalam jaringan (daring).
Apalagi selama ini kesempatan meng-upgrade kemampuan serta fasilitasi dari
negara sangatlah kurang.
Hingga
saat ini, penyebaran wabah semakin meningkat. Beberapa kepala daerah bahkan
sudah ada yang mengambil kebijakan belajar di rumah diperpanjang karena semakin
meluasnya penyebaran virus Covid-19 ini. Dan itu artinya masalah-masalah yang
di alami oleh para orang tua, siswa, dan guru akan bertambah rumit jika tidak
diselesaikan akar permasalahannya.
Sistem
Pendidikan yang Tidak Jelas Arah Tujuannya
Indonesia saat
ini menganut sistem pendidikan
nasional. Sistem pendidikan ini banyak diadopsi oleh sekolah negeri dan swasta.
Buah dari penerapan sistem kapitalis inilah yang kemudian menimbulkan berbagai
masalah termasuk dalam bidang pendidikan. Asas yang sekularis, kurikulum yang berubah-ubah, sistem administrasi dan
standarisasi keberhasilan pendidikan yang juga berubah-ubah, termasuk program
sertifikasi dan standarisasi kompetensi, serta standarisasi ketuntasan materi
pelajaran dan sistem ujian nasional telah membuat mereka pusing tujuh keliling.
Lemahnya instrumen pendidikan
tercermin dari kacaunya kurikulum serta disfungsi guru dan sekolah. Kacaunya
kurikulum tampak dari tidak proporsionalnya bobot materi pelajaran yang tidak
nyambung dengan arah dan tujuan pendidikan. Terbukti, indonesia sudah
mengalami 11 kali perubahan kurikulum dari tahun 1947 sampai tahun 2013 yang
saat ini di sebut kurikulum 2013 (K-13). Banyaknya perubahan-perubahan yang
terjadi semakin menambah beban para guru dan orang tua.
Selain kurikulum, lemahnya
instrumen pendidikan juga nampak dari rendahnya kualifikasi guru. Kini jarang
ditemui cerita, ada sosok guru ideal yang bukan sekadar menjadi ‘pengajar’,
melainkan sebagai ‘pendidik’. Bagi sebagian guru, aktivitas mengajar tak lebih dari
sebuah pekerjaan mentransfer ilmu, bukan mentransfer pemahaman, apalagi
mentransfer nilai dan kepribadian. Rupanya, idealisme para guru kadung tergadai
oleh sulitnya persoalan dan persaingan hidup yang harus dihadapi.
Sampai-sampai upaya pemerintah
meng-upgrade mutu pendidikan melalui program sertifikasi guru pun,
dibaca oleh kebanyakan dari mereka sebagai ‘jalan pintas’ beroleh gaji lebih
pantas.
Semua kondisi ini lantas
diperparah dengan lemahnya fungsi keluarga dan masyarakat sebagai dampak
penerapan sistem sekuler. Tengok saja, tak sedikit orang tua yang dengan sadar
mengabaikan kewajiban mendidik anak-anak mereka. Mereka melepas tanggung jawab pendidikan secara penuh
kepada sekolah. Jikapun tersisa rasa tanggung jawab, paradigma sekuler dan
materialistik telah membuat kebanyakan dari mereka kadung memandang anak
sebagai ‘investasi ekonomi’ yang mereka didik semata untuk tujuan-tujuan
ekonomi.
Ide
Kesetaraan Gender : Ide Penjajahan terhadap Perempuan
Selain
bidang pendidikan terdapat juga permasalahan lain, yaitu banyaknya kaum
perempuan yang terlena dengan ide kesetaraan gender. Tidak bisa dipungkiri
bahwa salah satu penyebab utama stresss nya para ibu dalam mendidik anak-anak
mereka di tengah pandemi adalah karena ketidaksiapan mereka dalam menjalankan
peran sebagai ibu. Dan ini terjadi karena para perempuan telah terpedaya dengan
ide kesetaraan gender. Ide ini menganggap bahwa partisipasi perempuan dalam
kehidupan publik, serta turut sertanya mereka dalam bekerja akan menambah value
dalam perekonomian. Padahal ini adalah pemikiran yang batil karena bersumber
dari satu pemikiran pangkal yang fasad, yakni sekularisme kapitalis.
Tawaran
"kesetaraan" pada perempuan nyatanya menafikan kewajiban mereka
sebagai ibu dan pendidik generasi. Janji manis ide gender yang akan melibas batas diskriminasi pada
perempuan di satu sisi tetapi sisi lain malah menjadikan kaum perempuan semakin
tidak memiliki pelindung. Betapa
kerasnya dunia kerja yang harus dihadapi. Betapa mengerikannya kampanye
kesetaraan saat perempuan didorong untuk hidup di bawah bendera liberalisme.
Perempuan mulai dikenalkan hak
untuk memilih tidak menikah bahkan menolak menjadi ibu. Perempuan juga
dikenalkan hak atas tubuhnya yang menjadi dalih bagi mereka agar
"bebas" memperlakukan tubuhnya tanpa aturan. Di antara imbasnya
adalah banyak pelecehan terhadap syariat jilbab.
Inilah fakta asli bahwa sejatinya
perjuangan gender hanyalah program dari sistem ini untuk memperoleh penopang
dalam roda perekonomian. Ya, karena muara perjuangan gender ialah mengharuskan
kaum wanita untuk memenuhi ruang-ruang kerja . Menjadi penggerak mesin ekonomi
kapitalis di era ini. Yang menjadikan para perempuan atau para ibu
tersibukkan dengan dunia luar. Sehingga lalai terhadap peran mulianya dirumah.
Islam
Mengembalikan Peran Ibu sebagai Ummu Warobbatul Bait
Tidak ada kemulian terbesar yang
diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu.
Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai
Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?”
Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”,
tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”,
tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian
ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447).
Agungnya
tugas dan peran wanita ini terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik
pertama dan utama generasi muda Islam, yang dengan memberikan bimbingan yang
baik bagi mereka, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat
dan umat Islam. Mengenai hal ini ada seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim
mengungkapkan sebagai berikut: “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha
a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Artinya: Ibu adalah madrasah (Sekolah)
pertama bagi anaknya. Jika
engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa
yang baik pokok pangkalnya.
Tugas ibu adalah sebagai Ummu
Warobatul Bait (ibu pengatur rumah tangga). Yang memelihara keluarga, suami
dan juga anak. Ibu adalah orang pertama yang memberikan pendidikan pada anak-anaknya.
Hikmah
besar di masa pandemi covid-19 ini adalah kaum ibu akhirnya kembali ke pangkuan
keluarga terutama anak-anak mereka. Sayangnya karena terlalu lamanya Ibu
meninggalkan peran dan tanggung jawabnya di rumah, sehingga ketika menjalani
karantina di rumah banyak yang gagap bahkan stress menghadapi tingkah pola anak
di rumah dan menjalankan tugas-tugasnya di rumah. Seharusnya ditengah masa
sosial distancing ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk semakin mendekatkan
diri pada keluarga dan menanamkan nilai-nilai utama untuk pembentukan
kepribadian generasi Islam. Agar mereka memiliki pola pikir dan pola sikap
Islam.
Sejarah peradaban Islam telah membuktikan, yakni dengan tampilnya umat Islam sebagai generasi
emas, menjadi umat terbaik, penebar rahmat ke seluruh alam.
Ketahuilah, banyak dikalangan
orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan
orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Dan lihatlah hasil
yang didapatkannya, mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam
kaum muslimin. Sebut saja, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Al-Bukhori, dan lain-lain,
adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Karenanya,
jika para ibu sadar akan pentingnya dan sibuknya kehidupan di keluarga, niscaya
mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mengurusi hal-hal di luar keluarganya. Apalagi berangan-angan untuk menggantikan posisi
laki-laki dalam mencari nafkah. Jika kita melihat akan keutamaan-keutamaan yang
diberikan Allah untuk seorang ibu, maka jelaslah bahwa ibu merupakan tumpuan
besar bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas.
Wallahua’lam
bis showab.
Editor: Mawaddah



