(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)
Oleh : Khamsiyatil Fajriyah
Pernyataan presiden
di tanggal 10 Mei lalu agar berdamai dengan covid 19 ternyata masih ada cerita
lanjutannya. Wacana The New Normal Life pun digulirkan pada tanggal 18 Mei,
begitupun dengan rencana tahapan pemulihan kondisi masa pelonggaran PSBB.
Padahal, banyak pihak yang tidak sepakat dengan apa yang dilakukan pemerintah.
Tenaga kesehatan yang kecewa berat atas keputusan ini, dan ramai-ramai
netizenpun ikut protes kebijakan ini dengan hashtag Indonesia terserah.
Politisi senior seperti Amien Rais juga menganggap, the new normal life tanpa
standar akan menjadikan rakyat Indonesia semakin menderita.
The New Normal Life
atau kehidupan baru yang normal akan tetap menjadi jalan keluar yang strategis
menghadapi wabah ini. Itu yang disampaikan oleh WHO. Pemerintah Indonesia pun
mengambil solusi ini. Solusi yang menurut banyak pihak bukan untuk menyelesaikan wabah, te tetapi untuk
mengatasi masalah ekonomi akibat wabah pandemi ini. Dunia semakin khawatir akan
pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan pada angka 0% bahkan cenderung -0,5%.
Dapat dipastikan resesi ekonomi akan terjadi tahun ini, dan pemulihannya akan
membutuhkan waktu yang lama. Negeri kita juga mengalami hal yang sama.
Pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini hanya pada angka 2,97%. Resesi di
negeri ini sudah di depan mata.
Sementara pandemi
masih terus berlangsung, roda perekonomian juga harus terus berjalan. Narasi
berdamai dengan virus covid 19 juga
terus didengungkan dari pemerintah pusat hingga daerah. Keluar rumah lah,
bekerja lah, agar kehidupan kembali normal. New Normal atau kehidupan normal
yang baru, bermakna semua kehidupan normal berjalan kembali dilengkapi dengan
ketentuan protokol kesehatan. Menjaga kebersihan diri, selalu bersocial dan
physical distancing dalam kehidupan normal yang baru. Tapi benarkah, dengan The
New Normal Life menjamin masyarakat Indonesia selamat dari pandemi ini?
Memaksakan The New
Normal Life, di tengah meningkatnya penderita covid 19 jelas menunjukkan apa
yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Banyak pihak yang membaca
Indonesia benar-benar akan menerapkan Herd Immunity. Konsep terbentuknya
kekebalan di tengah-tengah masyarakat dengan membiarkan virus menyebar. Konon,
konsep yang sebenarnya diberlakukan pada kawanan hewan ini, dengan sendirinya akan
menghentikan laju virus. Dengan
perhitungan algoritma kekebalan harus mencapai 50-67 persen, maka akan ada 182
juta jiwa rakyat Indonesia yang terinfeksi dari 271 juta jiwa penduduknya.
Jangan lagi ditanyakan bagaimana nasib 182 juta orang yang sudah terpapar virus
nantinya. Siapkah fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan menanganinya? Atau
memang 'membiarkan' penduduk mati adalah solusi menyelesaikan wabah ini?
Akhirnya menjadi
terang benderang bagi kita, mengambil sistem demokrasi sebagai jalan hidup
negeri ini dengan ekonomi kapitalisnya adalah jalan hidup yang sama sekali
tidak menghargai hidup manusia. Semuanya
hanya demi kepentingan ekonomi, ekonomi para kapitalis. Desakan new normal life
berawal dari perusahaan-perusahaan besar. Tuntutan agar semua hidup normal,
kembali bekerja, kembali piknik, beli tiket, booking hotel. Untuk
keberlangsungan ekonomi rakyat kecil, ada trikcle effect down. Menurut konsep
ekonomi kapitalis, begitulah roda ekonomi berjalan. Tidaklah mengherankan,
penyelamatan ekonomi bangsa di masa pandemi ini, adalah dengan menyelamatkan
sektor keuangan. Bukan dengan
menyediakan fasilitas kesehatan dan jaminan kebutuhan pokok masyarakat
terdampak, yang menjadi masalah utama pandemi ini.
Cukup sudah kita
menahan nafas karena begitu kejamnya sistem ini. Sistem yang membuang syariat
Allah, dan menjadikan sempit kehidupan manusia. Dan kelak, di hari kiamat bila kita terus bertahan
dengan sistem ini, maka bersiaplah kita
dibangkitkan dalam keadaan buta. Naudzubillah. Maka perubahan dunia yang
diramalkan oleh Henry Kissinger-sebagai sesepuh kapitalis-akan terjadi pasca
wabah ini, adalah perubahan menuju kehidupan yang lebih baik untuk manusia dan
semesta alam. Bila ideologi komunis juga ideologi kapitalis telah nyata
kegagalannya, hanya ideologi Islam yang menjadi pilihannya. Satu-satunya sistem
hidup yang memiliki solusi menghadapi pandemi sekaligus sistem ekonomi yang
menghargai hidup manusia.
Editor : Khairun Nisa Panggabean
BACA JUGA : Urgensi Negara Menjamin Kehalalan Produk



