(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)
Oleh
: Lilis Suryani
Merupakan fitrah bagi
setiap manusia menginginkan kehidupan yang layak, aman dan sejahtera. Apalagi,
jika semua kebutuhan dasar terpenuhi seperti sandang, pangan dan papan.
Begitupun dengan pendidikan, keamanan serta kesehatan dapat dijangkau dengan
mudah. Rasanya seperti memiliki dunia dan seisinya. Namun, hidup dalam naungan
sistem kapitalisme seperti saat ini, semua itu menjadi angan - angan saja.
Apalagi setelah terjadi pandemi virus Corona yang melanda seluruh negara di
dunia. Untuk memenuhi kebutuhan dasar saja bukan hanya sulit, bahkan nyaris tak
dapat terpenuhi akibat resesi ekonomi dan kurang tanggapnya negara dalam
mengurusi rakyatnya.
Masyarakat mulai
kebingungan dan bertanya-tanya, sampai kapankah kondisi ini akan berlangsung?.
Kehidupan semakin sulit ditambah lagi harus berjibaku dengan ancaman virus dan kelaparan.
Sementara data
saintifik belum menunjukan landaian kurva covid-19. Sejumlah ahli di negara
kitapun berpendapat, khususnya melihat kurva epidemiologi yang jangankan
melandai, menunjukan titip puncak (peak) pun belum.Namun ternyata, kondisi ini
tidak menyurutkan niat pemerintah untuk segera melaksanakan skenario " new
normal life" atau tatanan kehidupan baru.Tentu saja yang menjadi fokusnya
adalah normal dalam bidang ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan
Presiden Jokowi melalui akun resmi media sosial Twitter @jokowi (7/5/2020)
"sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan
covid-19 untuk beberapa waktu ke depan".
Kemudian, maksud itu
dipertegas deputi protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Boy Machmudin,
" Ya, artinya jangan kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru
dalam kehidupan. Kesananya yang disebut " the new normal". Tatanan kehidupan
baru."
Pemerintah pun telah
mengeluarkan timeline bagi konsep "new normal" yang dimuat pada laman
Kompas.com
"Kementerian
perekonomian mengeluarkan skenario " hidup normal " atau " new
normal " dengan timeline pemulihan ekonomi nasional usai pandemi covid-19.
Skenario ini di buat mulai awal Juni mendatang. Dalam timeline tersebut
dirumuskan lima fase atau tahapan yang dimulai tanggal 1, 8, 15 Juni dan 6, 20,
27 Juli 2020. Adapun fase itu akan diikuti dengan kegiatan membuka berbagai
sektor industri, jasa bisnis, toko, pasar, mal dan sektor kebudayaan,
pendidikan, aktifitas sehari-hari di luar rumah."
Dapat kita simpulkan
bahwa pemerintah lebih mementingkan aspek ekonomi ketimbang keselamatan
rakyatnya, diperkirakan akan ada jutaan korban jika skenario ini benar-benar
dilakukan.
Wakil ketua IDI
menyatakan " saat ini terlalu cepat untuk mengambil langkah new normal.
Untuk masuk new normal, pemerintah harus memiliki indikator dan kriteria
berbasis data dan penanganan Corona secara medis dan epidemiologis ( Kompas.TV)
Adapun protokol
kesehatan tidak akan menjamin masyarakat dapat terlindung dari serangan wabah
yang tengah melanda . Terindikasi dari kurangnya kesadaran masyarakat dalam
mematuhi aturan juga buruknya peran negara dalam melindungi nyawa rakyatnya.
Pupus sudah harapan
kita jika masih berharap pada aturan yang dibuat manusia, kapitalisme dan
hegemoninya tlah nyata tak mampu menjadi solusi dalam problematika kehidupan
manusia begitupun dalam menangani pandemi virus ini.
Maka, islam hadir
sebagai sebuah ideologi yang bersumber dari Sang Maha Pencipta tlah sejak lama
terbukti mampu mempertahankan peradaban yang gemilang hingga lebih dari 1300
tahun. Islam dengan seperangkat aturan yang sistematis berupa Wahyu dan Sunnah
Rasullullah Saw menjadikannya mampu menjadi mercusuar peradaban. Tlah banyak
dikisahkan dalam tinta emas sejarah bagaimana negara Islam kala itu mengatasi
wabah penyakit dengan tetap mengutamakan keselamatan rakyatnya. Bidang ekonomi
tetap maju, pendidikan dan keamanan tetap terjamin. Inilah peradaban yang tak
tertandingi hingga saat ini. Maka
sejatinya, "New Normal Life " adalah kembali kepada tatanan kehidupan
baru yang diatur dengan aturan Alloh SWT. Itulah kehidupan yang menjadi harapan
dan impian umat, yang akan mensejahterakan rakyat baik itu Muslim maupun Non
muslim. Hanya dalam perlindungan dan pengurusan negara yang berlandaskan pada
Al Qur'an dan As Sunnah lah semua itu dapat dicapai.
Wallohua'lam
Editor : Khairun Nisa Panggabean
BACA JUGA : Adakah Kehidupan bagi The New Normal Life?



