Oleh : Ummu Huriyyah
Allohu Akbar.. Allohu Akbar... Allohu Akbar.. Laa ilaaha illallohu
Allohu Akbar... Allohu Akbar wa lillaahil hamdu.
Ramadhan
terlalu berlalu. Hari minggu 24 Mei 2020, kaum muslimin telah merayakan hari
kemenangan "Hari raya idul Fitri 1441H". Hari dimana sejatinya
ketakwaan kaum muslimin diperoleh sebagai hasil dari puasa Ramadhan selama 1
bulan penuh. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا
كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,
sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar
kalian bertakwa (TQS
al-Baqarah [2]: 183).
Takwa
yang diharapkan tentu takwa yang sebenarnya. Demikian sebagaimana yang juga
Allah SWT tuntut atas diri kita:
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa
yang sebenarnya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan
Muslim (TQS Ali Imran [3]: 102).
Kata
taqwâ berasal dari kata waqâ. Artinya, melindungi. Kata tersebut kemudian
digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari
murka dan azab Allah SWT. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah
SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Artinya
takwa itu harus diimplementasikan dalam semua aspek kehidupan. Karena itu,
kemenangan yang hakiki bukanlah semata kita mampu menahan makan dan minum serta
segala hal yang membatalkan puasa selama Ramadhan. Kemenangan hakiki adalah
saat ketakwaan bisa kita raih. Bisa benar-benar mewujud dalam diri kita.
Demikian sebagaimana firman Allah SWT dalam QS al-Baqarah [2]: 183 di atas.
Ketakwaan
yang sempurna adalah ketakwaan dalam semua aspek kehidupan. Tidak hanya cukup
takwa dalam tataran individual saja, namun takwa juga harus ada dalam kehidupan
bermasyarakat, bernegara bahkan dalam hubungan luar negeri.
Iman
dan takwa merupakan kunci keunggulan masyarakat Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. mendirikan negara Islam di
Madinah, islam mampu mengubah masyarakat Arab Jahiliah menjadi masyarakat
Islam.
Negara
yang diwariskan beliau ini kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar ra. dan
para khalifah sesudahnya. Saat itu kaum Muslim, di bawah naungan Khilafah
Islam, menguasai dua pertiga dunia. Khilafah saat itu sekaligus menjadi negara
adidaya yang unggul di berbagai bidang selama berabad-abad lamanya.
Berbeda
dengan saat ini. Kondisi umat Islam amat menyedihkan. Ini terjadi terutama
sejak keruntuhan Khilafah Islam pada 1924. Di atas puing reruntuhan Khilafah,
kafir penjajah berhasil memecah-belah kaum Muslim menjadi lebih dari 50
negara-bangsa. Mereka dijajah secara ideologis dan sistemik. Sebagian negara
bangsa tersebut menerapkan sistem kufur kerajaan. Sebagain lainnya menerapkan
sistem kufur demokrasi.
Kaum
muslim yang hidup di negara-negara kafir ditindas secara fisik, kaum muslim
kashmir disiksa oleh hindu India, kaum muslim Uighur ditindas habis-habisan
oleh Komunis China, Kaum Muslim Rohingnya oleh Budha Myanmar, dan kaum muslim
lainnya yang senasib serupa. Bahkan Israel leluasa menyiksa Palestina di
tengah-tengah negeri-negeri muslim.
Oleh
karena itu, untuk mewujudkan ketakwaan totalitas adalah dengan ikut berjuang
mengembalikan kehidupan islam (Khilafah) sebagai solusi kehidupan. Khilafahlah
yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan individu, masyarakat dan negara.
Terlebih
pandemi Corona telah membuka bobroknya sistem kapitalisme yang diterapkan oleh
negara-negara saat ini. Kapitalisme terbukti gagal dalam menyelesaikan
permasalahan Pandemi. Bahkan politisi senior As, Henry Kissinger menyatakan
pandemi yang terjadi saat ini akan mengubah tatanan dunia global selamanya.
Maka Khilafahlah satu-satunya pengganti sistem buruk Kapitalisme saat ini,
tidak ada yang lain.
Wallohua'lam bishowab
Penulis adalah Aktivis Dakwah Cikarang
Editor : Khairun Nisa Panggabean
BACA JUGA : Mengais Harapan dalam Skenario "New Normal Life"



