Kami titipkan anak kami ke pondok pesantren ini, jangan
pernah dikembalikan kepada kami sebelum dia berubah jadi lebih baik apapun yang
terjadi.
Ayah Ibu jangan tinggalkan aku disini, aku
berlari mengejar kedua orang tuaku yang terus berjalan cepat tanpa melihat kepadaku
sampai akhirnya aku naik keatas bukit, aku melihat kebawah dan....
“Tolooong “.....
“Brugkh” aku jatuh dari atas
masuk ke dalam gua, dimana ini kenapa gelap sekali, aku terus
menelusuri jalan penuh air, aku melihat di kanan kiri ada teman-temanku memanggil
tetapi begitu aneh kenapa muka mereka semua terlihat hitam, kotor dan lusuh,
pakaiannya compang-camping penuh sobekan mereka tampak kehausan. “Kreeekk” bajuku
ditarik kuat, rasanya sulit bernafas. “Tolong... Tolong” aku berteriak, adakah
orang disini, dari kejauhan aku melihat cahaya terang, hampir tidak bisa ku
lihat apa yang ada disana perlahan aku melihat sosok makhluk yang berdiri tegak
menatapku sambil tersenyum dengan wajah yang bersinar memakai pakaian serba
putih mengulurkan tangan-nya kepadaku sepertinya aku tidak pernah melihat orang
seperti ini sebelumnya tapi aku tidak peduli, dengan gemetar aku terus menggapai
tangannya, sampai akhirnya aku melihat ada tanda pada jari jempol tangan
kanannya seperti lingkaran hitam hampir saja aku memegang tangannya tiba-tiba
ibuku memanggil....
Zuuull... Zuuull... Banguun, matahari sudah
tinggi kamu tidak sholat subuh lagi yaa, pasti kamu bergadang semalaman... Ibuku
membangunkan aku dengan membuka gordyn jendela lebar-lebar, tampak ada sinar
matahari yang menyilaukan mataku.
Iyaa bu, hemmm ternyata mimpi,,, aku
duduk sambil membersihkan mata ku dengan tangan.
Kamu mimpi buruk lagi, makanya kalo mau
tidur baca doa biar tidurnya terjaga, kata Ibuku sambil
mendekat.
Aku...
Sudahlah ayo segera mandi, hari ini ayah
ibumu mau mengantarkanmu ke pondok pesantren agar kamu bisa membaca doa sebelum
tidur, lanjut
ibuku, aku hanya diam merasa tidak percaya dan
ku fikir ibuku hanya bercanda.
Oh iyaa, perkenalkan namaku Zulkifli aku biasa
dipanggil Zul, usiaku remaja setara anak sekolah menengah pertama ayah ku pilot
Ibu ku dokter karena kesibukkan orangtua, aku jadi sering ditinggal sendiri dirumah.
“teeeng, teeeng, teeeng”
Hanya lonceng jam dinding setiap hari yang aku dengar
dirumah terasa penat sunyi sepi tiada berteman.
“Kring,,,, kriing”
handpone
berbunyi,
hallo zul,
loe dimana cepat kemari kita ngebut broo ternyata Ari temanku.
“Wokey”.
Akan ku perkenalkan teman-teman-teman ku, pertama Ari yang
hobinya mengukur jalan dan jago kebut-kebutan motor, kedua Herman yang hobinya
mengganggu anak-anak perempuan yang lewat, ketiga Igo hobinya teriak-teriak dan
mahir bermain guitar.
Aku bergegas pergi menggunakan motor vesva kesayanganku
dengan kecepatan tak biasa menjumpai teman-temanku.
“Troott... Tot.. Tot.. Tot”
Tiba dipersimpangan jalan,
Hello friends... Apakah kalian siap
mengalahkan jagoan terhebat ini...
“Are you ready”....yaaa’!
Sambil berteriak dijalan itulah keseharian kami.
Hey berhentilah kalian, pergilah jauh-jauh,,,
kata
salah satu warga kampung yang melihat.
Kami tidak peduli dan terus-menerus bernyanyi berteriak
dari atas motor.
Setiap hari aku dan teman-temanku selalu bikin
kerusuhan dijalan dikampung, setiap hari kami selalu menjadi bahan perbincangan
orang bukan karena perangai kami yang baik tapi karena perilaku dan tindakan
kami yang buruk yang selalu bikin keonaran, teriak, bernyanyi keras, menabu
guitar, kebut-kebutan di jalan dengan suara knalpot motor yang keras sangat
terasa bising, bahkan meminum minuman keras, mengganggu anak perempuan orang
mencuri pun pernah kami lakukan, kami tidak peduli apa kata orang-orang yang
melihat bagi kami membuat bahagia diri sendiri adalah yang terbaik, maka di
berilah aku dan teman-temanku sebagai julukan “sampah masyarakat “, sungguh
tidak enak didengar, tapi yaa seperti itulah nyatanya.
“Kreekk” pintu terbuka.
Ibu aku pulang..., aku
mencari ibuku ternyata ada didalam kamarnya sedang menangis.
Kenapa ibu siapa yang membuat ibu menangis,
tanyaku
heran.
“Huuu'huuu'huuu”...
Makin terisak tangisnya.
Aku memeluk ibuku erat-erat.
Ibuuu, aku tidak tega melihat ibu menangis
ceritakan kepadaku apa yang terjadi, ibu tenang yaa minum lah dulu, aku
memberikan segelas air putih “glegh,-glegh”, ibuku minum.
Sekarang ceritalah buu...
Tadi ada rombongan warga kampung ke rumah
kita, mereka resah atas perlakuan kamu dan teman-temanmu nak, dan mengancam
akan melaporkan tindakan kalian kepada pihak yang berwajib.
Aku diam tidak bicara...
Kenapa kamu jadi seperti ini nak...
Ibu ingin tahu kenapa aku jadi seperti ini,
karena ayah dan ibu kurang memperhatikan aku selalu sibuk dengan kerjaan kalian
masing-masing aku butuh kasih sayang buu, hanya teman-temanku yang perhatian padaku
sampai akhirnya aku mengikuti perilaku mereka sehingga aku jadi seperti ini.
Maafkan ayah dan ibumu nak jika sering
berada diluar kami bekerja demi untuk masa depan kamu.
Tapi aku juga butuh perhatian dan kasih
sayang ayah dan ibu....
Ibu tidak melarang kamu berteman dengan
siapapun, tapi harus ingat bertemanlah dengan anak yang baik-baik, agar kamu
menjadi baik pula.
Lantas sekarang keinginan ibu apa buatku...
Ayah dan ibunya berencana ingin memasukkan
kamu ke pondok pesantren.
Tapi aku tidak bisa mengaji dan sholat
buu...
Maka dari itu di pondok pesantren akan
diajarkan mengaji dan sholat.
Aku malu buu aku belum bisa mengendalikan
perilakuku sendiri...
Sabarlah dan bersiaplah besok kita berangkat.
Aku diam sejenak, baiklah jika hal ini membuat ibu
tidak menangis lagi...
akhirnya kedua orang tuaku memasukan aku ke pondok
pesantren, di dalam pondok aku masih saja berbuat kejahilan yang tidak biasa.
Hari pertama aku di pondok pesantren, tempat apa ini
kotor sekali, aku membersihkan debu di dalam kamar baruku, dari pintu aku
melihat, Assalamualaikum akhi, perkenalkan saya Fauzi, kita satu kamar di
sini ,,, hai, oh iyaa salam kenal saya Zulkifli panggil aja Zul,,, hey, Fauzi
kalo kamar anak santri perempuan dimana yaa, tanyaku ,, santri wati
maksudnya,,, iyaa, iyaa,, dari sini lurus belok kanan ada post satpam terus
ada pagar di balik pagar itu lah asramanya santri wati, aku keluar dari
pintu dengan jarak yang tidak terlalu jauh aku melihat pagar luas sebagai
perbatasan antara pondok pesantren dan asrama
santriwati aku berjalan perlahan mendekati pagar ada bapak satpam sedang
berjaga di postnya ketika satpam lengah aku melompat pagar, “huuup”, aku
berada di pekarangan belakang tempat menjemur pakaian anak-anak santriwati dengan
perlahan aku mengambil pakaian dalam anak-anak santriwati hampir semua aku
ambil aku masukkan semua pakaian ke dalam bajuku,, “tiba-tiba “,,,, heeeyy,,,
siapa di sana apa yang sedang kau lakukan,,,, teriak salah satu santriwati
yang melihat, secepat kilat aku ambil langkah seribu sambil menggendong banyak
pakaian yang aku bawa,, “wooow” aku melompati pagar “huup”, sudah mahir
rupanya dan sampailah dikamarku dengan nafas yang begitu cepat naik dan turun,
“kreekk” aku buka lemari aku simpan pakaian itu dalam lemari baju ku, perlahan
aku melihat dari pintu melihat keadaan ternyata sudah aman... “Ahhh” sedikit
legah.
Allahuakbar allahuakbar,,,
suara adzan dzuhur terdengar dari masjid pondok pesantren, Fauzi datang, Zull
ayo sholat,, oh. Iya, iyaa.. padahal selama ini aku tidak pernah sholat
dalam hatiku gimana caranya “hemmm”.
Zuull kemarilah, aku
dipanggil ustadz Eko salah satu guru pembimbing anak-anak santriwan ketika sesudah
shalat, iyaa ustadz ada apa yaa memanggil saya, kata Zul sambil garuk-garuk
kepala,,, aku dengar ada keributan di asrama santriwati banyak santriwati yang
kehilangan pakaian dalamnya apakah kamu tahu siapa yang melakukan semua itu, kata
ustadz,,, tiii.. Tidaakk.. Ustadz saya tidak tahu, Ustadz tersenyum,, di
pondok pesantren ini tidak pernah ada pencurian sebelumnya kamu tahu apa
hukumannya bila mencuri yaitu mendapat dosa besar dari Allah Swt dan akan
dikeluarkan dari pondok pesantren ini,, aku diam merasa bersalah, iyaa
ustadz saya minta maaf saya akan kembalikan pakaian itu, Zul merasa malu
sambil menundukkan kepalanya ,,, saya terima maaf kamu juga minta maaf lah kepada anak-anak
santriwati dan mohon ampun lah kepada Allah, dan jangan mengulangi perbuatan
itu lagi.
Baik ustadz...
Saya dapat kabar dari anak-anak santriwati,
mereka sudah memaafkan tapi,,,,tapi apa ustadz, mereka menuntut agar kamu
dikeluarkan dari pondok pesantren ini, dengan alasan untuk membersihkan nama
baik pondok pesantren, mohon maaf saya tidak bisa membantu atas hal ini untuk
mempertahankan kamu disini dengan berat hati kami akan mengeluarkan kamu dari
sini, aku diam merunduk.
Aku terusir dari pondok pesantren karena perbuatanku
yang memalukan tapi pak kiayi Zen yang mempunyai pondok pesantren itu mendengar
masalahku datang mencegahku untuk pergi.
Mau pergi kemana nak? tanya
pak kiayi Zen, aku sedikit heran,, bukankah kedua orang tuamu menitipkan
engkau kepada ku kenapa kamu mau pergi, jika engkau pulang kembali ke rumah
orang tuamu dan berteman lagi dengan teman-temanmu yang masih belum lurus itu
mau jadi apa kamu di masa depan, ayo kemarilah biar saya yang akan mengurus kamu,
aku diam tidak bisa mengelak, kiayi Zen membawaku pergi kerumahnya dan aku
di minta untuk tinggal bersamanya, beliau membimbingku megajari aku untuk jadi
lebih baik dengan penuh kesabaran akupun mulai berubah hingga pencerahan ada
didepan mataku.
Assalamualaikum warahmatullah, menoleh
ke kanan, Assalamualaikum warahmatullah, menoleh ke kiri, aku sholat shubuh
berjama’ah bersama kiayi Zen, nak,, Alhamdulillah sekarang perilaku dan
akhlakmu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya tidak terasa sudah lima tahun kamu
disini, kamu anak yang cerdas dan tajam ingatan banyak ayat-ayat Allah dan
hadits shahih yang kamu hafalkan amal kan lah di dalam kehidupan sehari-hari
pulanglah pada kedua orang tuamu nasehati lah teman-teman mu jika mereka masih berbuat
kurang baik jadilah engkau penyejuk hati bagi keluargamu berpeganglah pada tali
agama Allah Swt yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw Insya’Allah kita akan
selamat baik di dunia maupun di akhirat.
Insya’Allah pak kiayi,,,
dengan mata yang berkaca-kaca aku memeluk pak kiayi Zen erat-erat kemudian
berpamitan aku bersalaman begitu lama dengan pak kiayi aku cium tangannya
dengan air mata yang tiada terbendung lagi dan berterima kasih kepada pak kiyai
yang mau mengurusku sampai aku berubah jadi lebih baik.
Terima kasih pak kiayi, rasanya
aku tidak mau melepaskan tangannya aku lihat-lihat dan aku ingat-ingat jari
bagian jempol pak kiayi ada tanda lingkaran hitam, ini sama seperti mimpi ku
dulu ternyata orang yang memakai jubah putih dengan muka yang penuh cahaya
menggapai tanganku didalam mimpiku itu adalah pak kiyai Zen “Subhanallah” dalam
hatiku bersyukur...”Alhamdulillah”.
“Kreekk” aku keluar dari pintu
menuju motor vespa kesayanganku, sampai jumpa lagi pak kiayi mudah-mudahan
Allah Swt menjadikan kita saudara dunia maupun akhirat, Assalamualaikum,,,
Waalaikummussallam, jawab pak kiayi.
“Trot,,tot,,, tot,,tot” dengan
hati yang gembira aku tidak sabar untuk bertemu kedua orangtuaku.
Sampailah aku di rumahku, perlahan aku melangkah
“tok, tok, tok”
Assalamualaikum, ayah ibu aku pulang, Waalaikummussallam,
terdengar
suara dari kamar ibuku, ibuuuu,,, sambil memeluk ibuku, Alhamdulillah
kamu pulang nak, Masyaallah kamu berubah tidak seperti dulu lagi, iyaa Buu pak
kiayi Zen yang mengurusku, mana ayah bu, ibuku terdiam, buu mana ayah, tanyaku
lagi, ayahmu sudah tenang nak, maksud ibu apa? ayahmu sudah tidak ada lagi
di dunia ini semenjak satu tahun silam dia sakit dari sejak awal melepas
kepergian mu ke pondok pesantren ayahmu selalu mendoakan kamu agar kamu jadi
anak yang solih hanya satu pesan dari ayahmu yaitu dia akan selalu menunggu doa
darimu, besok kita ziarah ke makam ayahmu,,, baik buu tapi mengapa ibu tidak
mengabari aku buu, ayahmu berpesan walau dia sudah tiada perintahnya jangan
pernah mengabarkan kepdamu biarkanlah kamu tetap berada di pondok pesantren itu
ayah mu tidak ingin mengganggu aktifitas dan belajarmu, sebab itu adalah perjanjian kami kepada pak kiayi, tidak menginginkan kamu
pulang sampai kamu benar-benar berubah, iyaa Bu maafkan anakmu, kupeluk
ibuku.
Satu tahun aku di rumah,
“tok,,tok,,tok”
Assalamualaikum,, ternyata pak Romli ketua rt dikampung kami datang,
silahkan masuk pak ada keperluan apa sepertinya penting sekali, begini nak Zul
kami menginginkan agar kamu menolong kami yaitu bersedia bertugas menjadi imam masjid
serta memberikan tausiyah dari masjid kemasjid yang sudah kami jadwal, harapan
kami nak Zul tidak menolak tawaran ini, Alhamdulillah dengan senang hati saya
terima pak, baik saya sangat berterimakasih dan mohon pamit kata pak Romli,
Assalamualaikum,,, Waalaikummussallam,,.
Saya mendapat pekerjaan yang mulia, memang itu tujuanku
untuk meminta maaf dan memperbaiki diri dan orang-orang dikampung ku untuk
menebus semua kesalahanku.
“Kreekk” aku keluar kamar setelah sholat isya’,
ku lihat ke arah depan ruang tamu.
Trimakasih pak semoga semuanya lancar, ada
tamu menemui ibuku dan memberikan koper aku tidak mengenalnya, setelah pulang
aku bertanya? Siapa orang itu Buu itu pak lurah baru kampung kita nak, dalam
koper itu apa isinya buu,,, ini uang, ibu menjual rumah kita dan ibu punya niat
ingin mendirikan pondok pesantren buat kamu kelola dan memberikan banyak
manfaat bagi orang lain, Alhamdulillah aku bangga pada ibu, kupeluk ibuku.
Aku dijodohkan oleh ibuku dengan seorang gadis lulusan
Kairo, Amalia namanya aku menikah dan dikaruniai dua orang anak, aku dan anak
istri ku termasuk ibuku kami semua tinggal di pondok pesantren yang akan kami
kelola, “Alhamdulillah” tidak henti-hentinya aku selalu bersyukur kepada
Allah Swt dan tidak lupa aku selalu berdoa
untuk ayahku juga ibuku,, sesuatu yang sangat aku syukuri yaitu teman-temanku,
berkat nasihat yang aku berikan dan ada tanda-tanda hidayah Allah Swt akhirnya
mereka mau berubah memperbaiki akhlak dan tingkah laku mereka dan ikut tinggal di
pondok pesantren kami untuk belajar islam lebih dalam.
“Alhamdulillah “
Rasulullah Saw bersabda :
“Teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang
penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau bisa
membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap dapat
mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya)
mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya
yang tidak sedap.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pada ayat 69 surat an-Nisa, Allah Swt berfirman, “Dan
barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Alhamdulillah.
“TAMAT”
Editor : M. Hamka
BACA JUGA : Hatiku Tak Sama Aksiku



