(Ilustrasi/Rahmi-www.dapurpena.com)
Oleh : Rasmawati Asri*
Kehidupan baru sudah
dimulai dengan peraturan yang diterapkan pemerintah dengan new normal. Namun, apakah itu semua sudah tepat?
Sedangkan,
penurunan kasus covid-19 belum
menurun dan justru banyak yang membantah dengan sikap seperti ini.
Dikhawatirkan yang akan terjadi adalah mematikan banyak korban. Walau protocol kesehatan dan social distancing dilakukan namun tidak
menutup kemungkinan untuk bisa terhindar ketika dalam perkumpulan. New normal yang dilakukan demi aspek
ekonomi menurun dengan adanya covid-19
dan telah mematikan aktivitas
perekonomian yang jantungnya kehidupan bagi system saat ini. Toko-toko dan
parawisata yang sebelumnya tutup buka kembali. Padahal, WHO telah menetapkan bahwa syarat-syarat
untuk bisa dilakukan new normal. Di
antaranya angka kasus baru nol selama 14 hari. Tetapi yang terjadi di Indonesia
data kasus per hari semakin tinggi. Dari 29/5 sampai 2/6 rata-rata 602 ada
kasus positif baru secara nasional.
Menurut sejarahwan, J Alexander Nacarro, dari pusat Sejarah
Kedokteran University of Michigan,
Amerika Serikat, dalam sejarah pelonggaran
pembatasan social terlalu cepat
(prematur) dinilai menjadi sebab ledakan gelombang kedua pandemic flu Spanyol pada masa lalu yang mengakibatkan jumlah
korban meninggal sangat besar (Kompas.id, 29/5).
Di Korea Selatan
setelah dibuka sehari kemudian ada 79 kasus baru covid-19. Sebanyak 251 sekolah ditutup kembali (Bbc.com/Indonesia,
29/5). Wabah
yang terjadi saat ini bisa dikatakan sebuah musibah dan takdir-Nya juga yang
menentukan kapan berakhirnya pandemik ini. Namun masih ada pilihan yang kita
kuasa, yaitu dalam penanganan wabah seperti ini. Peraturan dari mana yang akan
diambil dan diterapkan. Nyatanya
saat ini yang digunakan adalah system kapitalisme yang berasas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari
kehidupan buatan manusia yang terbatas dan memiliki banyak kecacatan. Sistem
yang dibuat demi kepentingan segelintir orang, terkhusus pada mereka yang
memiliki modal.
Tatanan yang baik dan
baru tidak lain dilakukan dengan new
system dalam menangani wabah ini.
Maka, new system adalah pilihan yang tepat dan berasal dari Sang Pencipta. Tuhan
menciptakan dan mengetahui mana yang terbaik dan tepat untuk ciptaannya, kita
manusia. Bagaimana Islam menangani wabah lebih mudah diatasi dan dikendalikan
dengan mudah, salah satunya dengan karantina/isolasi yang dilakukan tanpa
menganggu syiar Islam dan ibadah kaum Muslim, nyawa manusia yang dapat diselamatkan, dan
ekonomi yang tetap berjalan.
Tuntunan Islam ketika
wabah terjadi pada suatu wilayah,
Rasulullah SAW bersabda: “Jika
kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu.
jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari
wilayah itu.”
(HR. al-Bukhari).
Tindakan yang
dilakukan tentu agar orang yang sehat tidak tercampur baur dengan yang sakit
dan pengontrolan untuk penyembuhan mudah dilakukan, serta tidak mengganggu
orang-orang yang sehat dalam aktivitasnya. Negara-negara Islam pun sudah menjamin setiap
kebutuhan masyarakat sehingga tidak ada rasa khawatir karena tidak makan dan
tidak dapat berobat. Telah menjadin kewajiban negara mensejahterakan rakyat
yang tinggal di dalamnya. Islam
begitu detail bahkan dalam penanganan wabah, yang kita perlukan saat ini adalah
bagaimana penerapan hukum Allah diterapkan dengan news system.
Wallahu`alam.
*/Penulis adalah mahasiswi di salah satu sekolah tinggi
ekonomi Yogyakarta
Editor: Putri Hesti Lestari



