Oleh : Anndini Dwi Putri, Dewi Sri Wahyuni, & Max Kurniawan Pandu
Prasetya
Hampir seluruh kegiatan manusia meninggalkan sisa atau
sampah, salah satunya adalah sampah plastik. Gaya hidup yang konsumtif menjadi salah satu penyebab peningkatan penggunaan plastik. Gaya hidup
konsumtif merupakan perilaku individu yang suka membeli barang atau jasa secara
berlebihan alias boros dan lebih mengutamakan membeli sesuatu karena kesenangan
dari pada kebutuhan, seperti keinginan belanja yang tinggi, membeli barang yang
tidak diperlukan tanpa berpikir panjang, makan direstoran mahal dan masih
banyak lagi. Apa yang dibeli diantaranya mengandung plastik. Memang tidak salah
untuk menyenangkan diri, namun apabila dilakukan secara berlebihan justru akan
menimbulkan masalah besar. Selain boros, gaya hidup konsumtif juga berpengaruh
terhadap lingkungan.
Plastik yang kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari
tersebut dapat menimbulkan permasalahan yang serius terhadap kelestarian
lingkungan. Plastik memakan waktu sekitar 100-
500 tahun lamanya untuk dapat hancur atau bahkan sama sekali tidak dapat
hancur. Jika tidak terurai sempurna, limbah plastik dapat mencemari lingkungan
hidup sekitar kita. Untuk itu kita turut andil dalam
pengelolaan sampah plastik
yang ada di lingkungan kita agar tercipta
lingkungan yang bersih dan sehat.
Setiap tahun sampah di Indonesia semakin bertambah. Pada
tahun 2017 bahkan jumlah sampah di Indonesia mencapai 187 juta ton/tahun. Tentu
saja dari jumlah sampah tersebut yang paling berbahaya adalah sampah plastik.
Ada beberapa cara
untuk mengolah sampah plastik, yaitu :
1. Pembakaran sampah (inceneration): merupakan pembakaran sampah yang dilakukan di tempat tertutup dengan mesin dan peralatan yang khusus dirancang untuk pembakaran sampah.
2.. Penumpukan (dumping): merupakan penumpukan sampah di atas tanah terbuka begitu saja tanpa ada perlakuan.
3. Penimbunan berlapis (sanitary landfill): merupakan penimbunan sampah dengan tanah, sampah ditimbun secara berlapis sehingga tidak ada sampah yang tampak di permukaan tanah.
4. Pengomposan
(composting) : merupakan pemanfaatan
sampah organik menjadi bahan kompos.
Berangkat dari informasi di atas, masalah sampah yang
menggunung tidak dapat hanya di bahas dan didiskusikan, melainkan dicarikan
solusi sebagai penyelesaian masalah. Kita juga bisa melakukan hal lain sebagai
alternatif dalam menghadapi masalah.
Dewasa ini, dengan semakin majunya perkembangan teknologi
dan pola pikir manusia yang di ikuti oleh tingkat kreativitas yang tinggi.
Banyak orang yang dapat memanfaatkan sampah rumah tangga (khususnya plastik)
sebagai alat daur ulang yang memiliki nilai jual. Kegiatan demikian merupakan
salah satu bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
Tetapi perlu disadari, mengolah sampah plastik tidak akan
efektif apabila kita tetap menerapkan gaya hidup konsumtif. Maka dari itu kita
harus bisa meminimalisir kebiasaan buruk tersebut atau lebih baik menghilangkan
kebiasaan tersebut. Apa yang kita beli dan kita konsumsi apabila diproduksi dengan tidak membahayakan dan tidak mencemari lingkungan maka kita sudah
ikut andil dalam merawat masa depan bumi dan masa depan generasi penerus.
Ada cara bijak yang bisa dilakukan dalam mengonsumsi suatu produk. WWF Indonesia membagikan tips dalam menerapkan gaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan yaitu Kampanye #BeliYangBaik. Kampanye #BeliYangBaik adalah sebuah pesan khusus bagi konsumen agar memilih produk yang lebih baik, yang lebih ramah lingkungan, yang lebih berkelanjutan. Kampanye #BeliYangBaik akan mengajarkan kepada konsumen untuk memilih dan meminta produk yang lebih ramah lingkungan, agar kelestarian sumber daya alam khususnya di Indonesia terjaga.
Ada 6 pesan dari #BeliYangBaik yaitu :
Beli Yang Perlu, mengajak konsumen berpikir dua kali sebelum membeli agar tidak tergoda untuk mengkonsumsi barang-barang yang tidak diperlukan.
Beli
Yang Lokal, mengajak konsumen membandingkan lokasi
produk dihasilkan dan membeli produk yang memiliki dampak lingkungan yang lebih
sedikit. Selain itu prioritaskan konsumsi produk
lokal yang lebih menguntungkan bagi perekonomian dan bisa memelihara
keanekaragaman hayati Indonesia.
Beli Yang Alami, mengajak konsumen untuk mempertimbangkan dan mencari tahu kandungan suatu produk dan cara produksinya. untuk lebih cermat dalam membaca keterangan dan mengenali bahan-bahan yang terkandung dalam suatu produk. Utamakan konsumsi produk yang melalui proses alami dan tidak mengandung bahan-bahan kimia buatan.
Beli
Yang Awet, mengajak konsumen untuk memprioritaskan
pembelian produk yang kuat dan dapat bertahan lama hingga melampaui generasi.
Beli
Yang Ekolabel, mengajak konsumen untuk membeli produk
berekolabel yang menjamin produk berasal dari sumber yang berkelanjutan dan
diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab,
seperti FSC (produk berbahan
dasar kayu, bambu,
dan rotan), RSPO (produk kelapa
sawit), MSC (produk perikanan tangkap), dan ASC (produk perikanan budidaya).
Mau
dibawa Ke Mana, mengajak konsumen untuk memikirkan
cara, waktu dan tempat membuang limbah dari produk yang telah dibeli, termasuk
mengidentifikasi ketersediaan sistem pembuangan limbah yang memadai.
Namun hal kecil yang tanpa kita sadari bisa kita lakukan
dan membawa perubahan besar bagi diri kita sendiri adalah kita harus selalu
bersyukur dengan apa yang kita miliki dan merubah
pola pikir. Dengan begitu kita akan selalu
merasa cukup dan lebih meminimalisir gaya hidup.
Kita harus selalu berpikir
apa yang sudah
kita miliki dan kita dapatkan
sudah lebih dari cukup. Dengan pola pikir seperti itu, akan
membentuk kebiasaaan baru yang lebih baik dan pasti berpengaruh dalam melestarikan
bumi kita tercinta.
SUMBER REFERENSI :
Apriadji, Wied Harry. 1991. Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Marianti, Estu. 2020. Enam Tips Menerapkan Sustainable Living.
URL :
https://www.marketeers.com/enam-tips-menerapkan-sustainable-living/. Diakses tanggal 29 Juli 2020
_ . Upaya Pemerintah dalam Menangani Isu Masalah Sampah Plastik. URL : https://badungkab.go.id/instansi/dislhk/baca-artikel/690/Upaya-Pemerintah-dalam-Menangani- Isu-Sampah-Plastik.html.
Diakses tanggal 29 Juli 2020
*artikel ini merupakan hasil pembelajaran di AR Learning Center
Editor:
M.N. Fadillah



